DetikNews
Kamis 21 Maret 2019, 07:33 WIB

Teror Masjid, PM New Zealand: Pelaku Belajar Ideologinya di Tempat Lain

BBC World - detikNews
Teror Masjid, PM New Zealand: Pelaku Belajar Ideologinya di Tempat Lain
Wellington -

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern menyerukan perjuangan global untuk membasmi ideologi rasis sayap kanan menyusul serangan mematikan pekan lalu di dua masjid di Kota Christchurch.

Dalam salah-satu wawancara pertamanya sejak tragedi itu, dia mengatakan kepada BBC bahwa dia menolak gagasan yang menyebut bahwa kehadiran migran telah memicu rasisme.

Serangan bersenjata di dua masjid di Kota Christchurch telah menewaskan 50 orang dan melukai lusinan lainnya.

Pemakaman pertama, yaitu seorang ayah dan putranya, berlangsung pada Rabu. Mereka adalah pendatang asal Suriah.

Ratusan pelayat berkumpul di komplek pemakaman di dekat Linwood Islamic Centre di Christchurch, salah satu dari dua tempat ibadah yang sasaran serangan.

Warga Australia, Brenton Tarrant, 28 tahun, telah didakwa melakukan pembunuhan. Lima puluh orang tewas dalam serangan tersebut.

Apa yang dikatakan Ardern?

Ditanya tentang kebangkitan nasionalisme sayap kanan, dia berkata: "Ini adalah (perbuatan) warga Australia, tapi bukan berarti kami tidak punya ideologi di Selandia Baru yang bakal menyinggung mayoritas warga Selandia Baru."

Dia menegaskan ada tanggung jawab untuk "mencabut keberadaannya dan memastikan kami tidak menciptakan lingkungan yang membuatnya berkembang."

"Tapi saya akan menyerukan perjuangan global," tambahnya.

"Apa yang terjadi di Selandia Baru adalah kekerasan yang dibawa oleh seseorang yang tumbuh dan belajar ideologinya di tempat lain."

"Jika kita ingin memastikan secara global bahwa kita adalah dunia yang aman dan toleran serta inklusif kita tidak dapat memikirkan hal ini dalam konteks perbatasan."

Dia membela kebijakan negaranya yang menerima pengungsi, dengan mengatakan: "Kami adalah negara yang ramah."

Dia menolak pemikiran bahwa dengan menerapkan sistem yang mengurus mereka yang memilih menyebut Selandia Baru sebagai kampung halaman, Selandia Baru telah melanggengkan lingkungan yang membuat ideologi semacam ini ada.

Dalam wawancara, Ardern juga menegaskan kembali pernyataannya bahwa dia tidak akan pernah menyebut nama pria bersenjata yang melakukan serangan di Christchurch.

"Dia mencari banyak hal dari tindakan terornya, termasuk agar menjadi terkenal - itulah sebabnya Anda tidak akan pernah mendengar saya menyebutkan namanya."

'Dia welas asih dan tenang'

Hywel Griffith, BBC News, Christchurch

Tidak ada pemimpin yang memiliki kesiapan untuk momen seperti ini. Menakhodai sebuah bangsa saat menghadapi sebuah tragedi serangan di Christchurch, reaksi Jacinda Ardern melahirkan decak kagum, mungkin karena dia jujur dan tulus.

Bersikap welas asih tetapi tenang, di awal-awal kejadian, dia berusaha menempatkan dirinya di sisi para korban dan keluarga mereka.

Mengenakan jilbab sebagai tanda penghormatan barangkali terlihat sebagai isyarat sederhana, tetapi dampaknya sungguh dirasakan kerabat dan rekan-rekan korban yang masih dilanda kesedihan.

Demikian juga frasa yang sengaja dia ulangi semenjak serangan itu. Saya telah mendengar kata-katanya - "kami adalah satu, mereka adalah kami" - diucapkan kembali kepada saya oleh keluarga korban di Christchurch, dan melihatnya ditulis pada kartu yang tak terhitung jumlahnya dan poster di samping semua karangan bunga.

Tentu saja, mempertahankan perasaan persatuan nasional ini merupakan tantangan yang berbeda - tetapi dia telah menciptakan landasan kepercayaan, sehingga kehadiran sosoknya bisa memberikan perubahan yang berarti.

Apa perkembangan terbaru?

Kepolisian Selandia Baru pada Rabu menyebutkan identitas enam korban penembakan di masjid Al Noor.

Pimpinan kepolisian setempat, Komisaris Mike Bush mengatakan 21 jenazah telah selesai diidentifikasi dan sudah diserahkan kepada keluarga. Pemeriksaan post-mortem terhadap 50 jenazah sudah selesai, kata polisi.

Tetapi beberapa keluarga menyatakan frustrasi dengan proses identifikasi yang beberapa kali tertunda. Mohamed Safi, 23 tahun, yang ayahnya Matiullah Safi meninggal akibat serangan di Masjid Al Noor, mengeluhkan kurangnya informasi.

Dia mengatakan kepada kantor berita AFP: "Mereka hanya mengatakan bahwa mereka sedang melakukan prosedur mereka ... Mengapa saya tidak tahu apa yang dilakukan mereka dalam mengidentifikasi jenazah?"

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, polisi mengatakan: "[Kami] sangat menyadari frustrasi oleh keluarga dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses identifikasi setelah serangan teror Jumat.

"Kami melakukan semua yang kami bisa lakukan, dan secepat mungkin kami akan menyerahkan jenazah korban kepada orang-orang yang mencintainya."


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed