DetikNews
Jumat 08 Maret 2019, 10:09 WIB

Seperti Apa Kehidupan Pasutri ISIS di Suriah?

BBC World - detikNews
Seperti Apa Kehidupan Pasutri ISIS di Suriah?
Damaskus -

Shamima Begum mengatakan dirinya bergabung ke dalam kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) karena mencari kehidupan keluarga yang sempurna. Di Raqqa, sesaat setelah tiba di Suriah empat tahun lalu, dia menikah dengan ekstremis bersenjata asal Belanda, Yago Riedijk.

Saat itu Shamima berumur 15 tahun dan Yago 23 tahun. Jika pernikahan itu berlangsung di Inggris, Yago akan dijerat hukum soal pelanggaran seksual.

Yago kini duduk di samping saya pada sebuah kursi plastik kuning di pusat penahanan Kurdi. Para penjaga baru saja melepaskan borgol pria yang sekarang berusia 27 tahun itu.

Yago meminta saya, jika saya bertemu Shamima, untuk "mengatakan bahwa saya mencintainya dan harap bersabar".

"Semoga kami bisa segera bersama kembali dan keadaannya akan berakhir dengan baik - semoga."

Tetapi sepertinya itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Selama satu jam, Yago menyampaikan gambaran kontras tentang kehidupan rumah tangga dan teror yang terjadi di luar.

ISIS diusir dari Raqqa, ibu kota de facto
ISIS diusir dari Raqqa, ibu kota de facto "khilafah" pada bulan Oktober 2017. (Reuters)


Dia mengatakan dirinya memisahkan urusan rumah tangga dan kondisi di luar rumah.

Dia juga mengklaim istrinya meskipun pernyataan terbuka Shamima sendiri berbeda tidak mengetahui kejahatan ISIS.

"Saya menaruh dia ke dalam sebuah tempurung pelindung," katanya.

"Saya tidak memberikan informasi apapun tentang kejadian di luar. Masalah yang saya hadapi, berbagai bahaya."

"Dia hanya duduk di dalam, merawat rumah tangga sementara saya berusaha."

"Memberi dia makanan, makanan untuk saya. Berusaha tidak terlibat masalah. Berusaha tidak dibunuh pihak intelijen."

"Mengambil keputusan yang dapat mengubah kehidupan kami, berusaha agar kami aman."

Ketika saya bertemu Shamima pekan lalu, dia mengatakan dirinya bergabung dengan ISIS karena mencari kehidupan keluarga yang sempurna.

Dia mengatakan kepada saya: "Keluarga saya tidak mau membantu saya menikah di Inggris dan cara mereka memperlihatkan kehidupan rumah tangga di ISIS sangatlah baik.

"Sebagaimana kehidupan keluarga sempurna, mereka mengatakan akan memelihara Anda dan keluarga Anda. Dan itu memang benar."

"Mereka memang mengurus saya dan keluarga saya pada mulanya, tetapi berbagai hal berubah setelah itu."

Mimpi mereka tentang kekhilafahan segera hancur.

Yang terjadi adalah dunia jenazah tanpa kepala, penjara ISIS, dan penyiksaan terhadap Yago.

Ketika saya menanyakannya apakah dirinya mengenal orang Yazidi sekte keagamaan yang diperbudak dan dibunuh ISIS Yago mengatakan: "Saya mendengar ada seorang pria Belanda. Dia mempunyai seorang budak."

"Itu yang paling banyak saya ketahui tentang budak. Saya dengar dia berumur sekitar 40 tahun."

Para terduga prajurit ISIS meninggalkan Baghouz minggu lalu.
Para terduga prajurit ISIS meninggalkan Baghouz minggu lalu. (AFP)


Shamima mengatakan dirinya melihat kepala manusia di tempat sampah. Yago mengatakan kepala itu berada di dalam sebuah tas di tumpukan jenazah tahanan ISIS yang mengenakan seragam militer.

Dan Yago pernah menghadiri perajaman seorang perempuan atas tuduhan "perzinahan".

"Saya sebenarnya tidak pernah melihat pemenggalan," katanya.

"Saya pernah satu kali menyaksikan perajaman."

"Dan saya menyaksikan. Saya melihat orang yang dihukum mati, tetapi bukan eksekusi itu sendiri."

"Sebenarnya, dia tidak dirajam sampai meninggal," dia mengkoreksi. "Dia berdiri dan melarikan diri.

"Dan setelah itu, mereka mengatakan kepada para pria yang merajam: 'Berhenti melempar batu.'

"Tidak dibolehkan untuk melempar batu setelah dia berdiri dan melarikan diri. Jadi kami berhenti melempar batu ke arahnya dan dia menyelamatkan diri. Setelah itu mereka membiarkannya."

'Saya melakukan kesalahan besar'

Shamima mengatakan Yago "sebenarnya bukan seorang petempur", tetapi dia berperang untuk ISIS di Kobane dan terluka.

Dia kemudian berperang kembali di Aleppo.

Yago mengatakan: "Saya melakukan kesalahan besar. Saya membuang-buang kehidupan selama bertahun-tahun. Ini bukanlah kehidupan saya.

"Untungnya, saya tidak secara langsung menyakiti orang lain. Tetapi bergabung dan mendukung sebuah kelompok seperti itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima."

Dia menambahkan dirinya nyaris tidak pernah menggunakan senjatanya.

Sekarang dia mengatakan ingin kembali ke Belanda dengan istrinya, dan bayi laki-laki mereka yang baru dilahirkan.

"Saya ingin kembali ke negara saya sendiri. Sekarang saya memahami keistimewaan yang saya telah terima sebelumnya. Keistimewaan hidup di sana sebagai seorang warga negara."

"Dan tentu saja, saya memahami banyak orang mempermasalahkan apa yang telah saya lakukan dan saya sangat mengerti hal itu."

"Saya bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, menjalani hukuman. Tetapi saya berharap dapat kembali ke kehidupan normal dan mengurus keluarga."

Untuk sementara ini, Shamima dan Yago tidak memiliki paspor atau kendali atas nasib mereka.

Mereka menyerahkan paspor saat bergabung dengan ISIS dan kemungkinan tidak akan mendapatkannya kembali dalam waktu dekat.

Begum berada di kamp tahanan perempuan, tidak terlalu jauh dari penjara yang menampung suaminya.

Pejabat Kurdi mengatakan tidak ada rencana menyatukan mereka kembali.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed