DetikNews
Kamis 07 Maret 2019, 08:59 WIB

Melintasi Perbedaan: Sulitnya Pembelot Korut Berkomunikasi di Korsel

BBC World - detikNews
Melintasi Perbedaan: Sulitnya Pembelot Korut Berkomunikasi di Korsel
Seoul -

Para pembelot Korea Utara yang mempertaruhkan nyawa mereka dengan melarikan diri ke Korea Selatan menghadapi kemungkinan dianggap sebagai orang asing di tempat baru, karena perbedaan antara versi bahasa Korea Utara dan Selatan.

Biasanya, mempertaruhkan nyawa dengan melarikan diri dari perbatasan Korea Utara dengan China - yang memiliki kebijakan untuk menyerahkan para pengungsi yang masa depannya tidak pasti di Korea Utara - para pembelot tersebut seringkali kebingungan saat tiba di Korea Selatan karena harus berhadapan dengan persoalan pajak, menjadi tunawisma dan sewa rumah, konsep-konsep asing di Utara di mana pemerintah menguasai semua.

Ini dikarenakan bahasa Korea telah berevolusi mengikuti jalur yang berbeda secara drastis sejak pemisahan pasca-Perang Dunia II di Semenanjung Korea.

Kondisi negara Korea Utara yang tertutup menjadikan bahasa mereka hanya mengalami sedikit perubahan, sementara Korea Selatan memiliki berbagai versi bahasa yang berkembang pesat karena terpapar budaya dan teknologi luar.

Menghadapi diskriminasi dan kesulitan karena kendala bahasa, pembelot beralih ke opsi baru. Aplikasi terjemahan Utara-Selatan berupaya membantu menjembatani kesenjangan antara dua jalur bahasa Korea yang berbeda, sementara kamus bahasa Korea yang luas dan terpadu sedang dikembangkan.

Perbedaan Utara-Selatan

Karena budaya dan politiknya yang terisolir, sejumlah kata dalam bahasa Korea Utara sebagian besar diciptakan sendiri ketika diperlukan. Sementara itu, Korea Selatan beralih ke budaya Barat untuk memperoleh banyak kata-kata baru.

Ini berarti para pembelot berhadapan dengan kosa kata baru yang mungkin membuat mereka merasa tidak pada tempatnya. Aksen Utara mereka yang dikenali juga bisa membuat mereka merasa seperti orang luar.

Misalnya, ketika Korea Selatan memakai kata-kata seperti donat dan sampo dari budaya Barat, dialek Utara menggunakan deskripsi literal "garakji bbang" ("roti cincin"), dan "meorimulbinu" ("sabun air rambut").

Korsel dan Korut
Kata-kata yang digunakan setiap hari memiliki arti berbeda bagi warga Korea Selatan dan Utara. (BBC)


Korea Selatan memperoleh kosakata yang diilhami "Konglish" yang diilhami AS, mengadopsi kata-kata bahasa Inggris untuk banyak objek dan situasi sehari-hari, seperti "juseu" (jus) dan "two-piece" (pakaian dua potong).

Sebaliknya Korea Utara, meminjam kata-kata dari sekutunya Rusia, yakni "Tteuraktoreu" (traktor).

Satu kata untuk "friend atau teman" ("dongmu") dalam bahasa Korea menjadi "comrade atau kawan" yang diilhami Soviet di Utara, dan kemudian dihapus dari kosa kata Korea Selatan.

Perbedaan identitas mereka juga menyebabkan perbedaan dalam hal politik. Korea Selatan menyebut dirinya sebagai Hanguk, sedangkan Korea Utara menyebut dirinya Choson mengacu pada bekas kekaisaran Joseon.

Olimpiade musim dingin
Para pemain hoki es Korea di Olimpiade 2018 terpaksa membuat kosakata bersama yang bisa dimengerti oleh tim. (Getty Images)


Hambatan bahasa bahkan berimbas ke bidang olahraga, para perempuan Korea yang tergabung dalam tim hoki es harus menemukan cara baru untuk berkomunikasi satu sama lain di Olimpiade Musim Dingin tahun lalu.

Sementara para pemain Korea Selatan menyebut kiper-kipernya dengan sebutan "gol-kipeo", sementara pemain dari Korea Utara menganggap mereka sebagai "mun-jigi" (penjaga pintu). Untuk menyiasatinya, tim mereka membuat kamus sendiri untuk menerjemahkan istilah-istilah permainan hoki ke versi bahasa Korea yang dapat dipahami semua orang.

Bagaimana kesenjangan komunikasi mempengaruhi para pembelot?

Para pembelot Korea Utara menghadapi dunia baru dan tantangan ketika mereka pindah ke Selatan, sistem sosial yang sangat berbeda.

Mereka jarang mendapatkan informasi tentang tetangganya di selatan mereka dari media pemerintah yang dikontrol ketat, dan apa yang mereka terima biasanya melibatkan penghinaan terhadap konservatif Korea Selatan.

Korea Utara
Kata-kata yang dianggap menghina di Korea Utara. (BBC)


Media Korea Utara memiliki sejarah panjang dalam hal-hal yang tidak menyenangkan bagi lawan politik, menyebut mantan Presiden AS Barack Obama "kidungso'bang", yang bisa diartikan sebagai "lelaki mewah".

Beberapa warga Korea Utara mengetahui tentang Korea Selatan dari media yang diselundupkan melintasi perbatasan dan tersedia di pasar gelap, tetapi para pembelot menghadapi banyak tantangan untuk beradaptasi dengan kehidupan di Korea Selatan.

Komunikasi tetap menjadi salah satu hambatan terbesar untuk berbaur, dan berbagai inisiatif telah muncul di Korea Selatan untuk mengatasi tantangan berbasis bahasa ini.

Pusat pelatihan Hanawon
Di pusat pelatihan Hanawon, warga Korea Utara dilatih untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Korea Selatan. (AFP)


Menjembatani perbedaan bahasa

Upaya-upaya ini dimulai pada awal kehidupan baru seorang pembelot di Hanawon, pusat pelatihan wajib Korea Selatan untuk para pembelot baru.

Pelatihan yang dilakukan selama tiga bulan di Hanawon berfokus untuk memberikan pengetahuan dan pedoman untuk membangun kehidupan baru di Selatan, termasuk bahasa.

Untuk membantu para pembelot menyesuaikan diri, Kementerian Unifikasi Seoul secara rutin menerbitkan daftar kata-kata yang lazim digunakan namun membingungkan para pembelot.

Beberapa kelompok nonpemerintah, seperti Teach the North Korea Refugees (TNKR), mengajarkan Bahasa Inggris kepada para pendatang baru, bahasa yang telah masuk ke banyak bagian kehidupan Korea Selatan.

Berbagai aplikasi dan materi pendidikan juga dihadirkan. Salah satu layanan tersebut adalah Univoca (kependekan dari "Unification Vocabulary"), sebuah aplikasi yang menerjemahkan istilah-istilah yang setiap hari digunakan di Korea Selatan supaya terdengar lebih akrab bagi orang Korea Utara.

Aplikasi itu memungkinkan para penggunanya mencari kata-kata, membuat daftar kosa kata dan bahkan menerjemahkan kata-kata Korea Selatan ke Korea Utara dengan memindainya dengan kamera.

Sebuah upaya besar-besaran dilakukan untuk menggabungkan kosa kata Korea yakni Gyeoremal Keunsajeon ("kamus besar bahasa nasional"), sebuah proyek antar-Korea yang dimulai pada tahun 2005.

Menurut ahli leksikografi Korea Selatan Han Yong-woon, yang merupakan bagian dari tim Gyeoremal, kamus itu akan menyusun kata-kata dari kamus yang ada di kedua negara Korea dan juga menambahkan kata-kata dan ekspresi yang lebih baru.

"Kami berencana mengumpulkan sekitar 210.000 kata. Dan kemudian kami akan mengumpulkan kata-kata dan ungkapan baru yang digunakan tetapi tidak dalam kamus. Itu akan menjadi sekitar 100.000," kata Han kepada BBC.

Meski diterpa berbagai kendala, seperti inisiatif yang ditunda selama periode ketegangan antara Korea, Han mengatakan bahwa pekerjaan itu "sekitar 80%" selesai dari sisi Selatan dan akan memakan waktu lima tahun lagi, meskipun ia menambahkan bahwa Korea Utara perlu memastikan lagi perkembangannya sendiri.

Masih harus dilihat seberapa efektif pendekatan ini dalam membantu para pembelot Korea Utara menyesuaikan diri, tetapi mereka tampaknya akan terus berupaya menjembatani kesenjangan antara dua cabang bahasa yang sama.

Akar kuno bahasa Korea

Bahasa Korea adalah salah satu yang tertua di dunia, namun bentuk terbarunya diperkenalkan pada abad ke-15 ketika Raja Dinasti Joseon Sejong the Great memperkenalkan Hunminjeongeum ("Suara yang Tepat untuk Pengajaran Rakyat"), fonetik baru yang disederhanakan untuk mengganti sistem Hanja yang berbasis di China.

Korea Selatan
Naskah Hangul diperkenalkan pada abad ke-15, bisa dilihat dalam koin logam Korea Selatan. (Getty Images)


Naskah, yang sekarang disebut Hangul di Korea Selatan dan Chosongul di Korea Utara, akhirnya muncul sebagai standar untuk Korea modern.

Pemimpin pertama Korea Utara Kim Il-sung berusaha "menyucikan" bahasa itu untuk menghilangkan pengaruh China dan Jepang.

Di bawah pemerintahan yang ketat, bahasa Korea Utara berevolusi lebih jauh untuk mewakili konsep ideologis "juche" (kemandirian) dan bentuk "murni" dari orang-orang Korea.

Sementara itu, orang-orang Korea Selatan menempuh jalannya sendiri, yang mengarah ke perbedaan yang kita lihat sekarang. Perbedaan-perbedaan ini perlu diatasi jika aspirasi untuk Korea bersatu pada akhirnya diwujudkan.

Dilaporkan oleh Shreyas Reddy, Tae-jun Kang and Alistair Colema.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed