DetikNews
Selasa 05 Maret 2019, 10:13 WIB

Juan Guaido Kembali ke Venezuela Meski Berisiko Ditangkap Pemerintah

BBC World - detikNews
Juan Guaido Kembali ke Venezuela Meski Berisiko Ditangkap Pemerintah
Caracas - Juan Guaid
Juan Guaido memberitahu pendukungnya bahwa "rantai komando" pemerintah sudah rusak (Reuters)


Pria yang mendeklarasikan diri sebagai pemimpin Venezuela, Juan Guaido, telah tiba kembali di ibu kota, Caracas, dan mendapat sambutan meriah dari ribuan pendukungnya.

Dia menghadapi risiko ditangkap karena mengabaikan larangan yang diberlakukan Mahkamah Agung untuk meninggalkan negara itu dan melobi bantuan internasional.

"Mereka mengancam kita dan kita di sini, menghadapkan wajah kita untuk Venezuela," serunya pada para pendukungnya.

Sebelumnya, Guaido menuntut Presiden Nicolas Maduro untuk mengundurkan diri.

Kedua pria itu telah berselisih selama lebih dari sebulan.

Guaido - yang mengepalai Majelis Nasional yang dikuasai oposisi dan memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela setelah badan legislatif menyatakan pemilu presiden yang dimenangkan kembali oleh Maduro pada 2018 tidak sah - diakui oleh lebih dari 50 negara.

Maduro, yang didukung oleh China, Rusia dan Kuba, menegaskan bahwa dia adalah satu-satunya presiden yang sah.

Krisis politik Venezuela dipicu oleh krisis ekonomi, yang menyebabkan hiperinflasi yang menekan gaji dan tabungan dan membuat banyak orang meninggalkan negara itu.

Apa kata Guaido setelah kembali ke negaranya?

Guaido disambut di bandara internasional Simon Bolivar oleh para diplomat dari Amerika Serikat dan Uni Eropa, sekaligus kerumunan pendukung yang meneriakkan "Guaido, Guaido" dan "Ya, kita bisa".

Venezuelan opposition leader Juan Guaid greets supporters after his arrival at the Simn Bolivar International airport in Caracas, Venezuela March 4, 2019
Juan Guaido disambut oleh kerumunan suporter yang meneriakkan, "Guaido, Guaido" (Reuters)


Didampingi oleh istrinya, Guaido kemudian pergi ke jalanan Las Mercedes di distrik Caracas timur, untuk menghadiri unjuk rasa anti-pemerintah.

Saat berada di luar negeri, dia menggunakan media sosial untuk mendorong para pendukungnya melakukan aksi.

Setelah mengatakan dia telah diancam dengan "penjara, kematian", sebelum kembali ke negaranya, Guaid mengatakan dia telah diperlakukan dengan baik pada saat kedatangannya di bandara.

Dia menyebut petugas imigrasi bahkan menyambutnya di bandara dengan kata-kata "selamat datang, presiden".

"Jelas bahwa setelah ancaman-ancaman, seseorang tidak mengikuti perintah. Banyak yang tidak mengikuti perintah. Rantai komando [dalam pasukan keamanan pemerintah] telah rusak," katanya kepada banyak orang.

Dia menyerukan protes di seluruh negeri pada Sabtu mendatang.

"Pada hari Sabtu kita akan melanjutkan di jalan-jalan, semua orang Venezuela akan kembali ke jalan, bertekad untuk memobilisasi demi kemerdekaan mereka. Kita tidak akan beristirahat satu detik pun sampai kemerdekaan tercapai."

Kemudian, dia memberikan penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa dalam bentrokan di perbatasan Brazil-Venezuela ketika upaya pengiriman bantuan dihalangi untuk memasuki negara itu oleh militer Venezuela.

'Kembali membuat Maduro terjepit'

Oleh Will Grant, BBC News, Caracas

Mobil JuanGuaido hampir tidak bisa bergerak di jalan yang disesaki dengan pendukungnya yang melakukan aksi demonstrasi. Dan suara ribut yang menyambut kedatangannya ketika dia naik ke panggung memekakkan telinga.

Apa yang paling membuat senang para pendukung itu bukan hanya karena dia kembali ke tanah Venezuela, namun juga bagaimana cara dia kembali ke negaranya. Alih-alih menyelinap ke perbatasan di tengah malam, dia langsung berjalan ke imigrasi di bandara utama di Caracas dan kembali ke negara itu.

Dalam kerumunan, Anda dapat menemukan dua posisi ekstrem tentang apa yang harus dilakukan Guaido selanjutnya, mulai dari secara terbuka mendukung intervensi militer yang dipimpin Amerika Serikat hingga resolusi damai atau justru malah konflik. Namun apa yang mereka semua sepakati adalah, Presiden Maduro harus angkat kaki.

Adapun bagi Maduro, dia mendapati dirinya dalam posisi yang sulit. Setelah menyaksikan Guaido mengabaikan larangan perjalanan Mahkamah Agung dan terhadap pemerintahannya secara keseluruhan, dia harus memutuskan apakah akan tetap menangkap lawannya karena meninggalkan negara itu.

Dia sepenuhnya sadar bahwa Washington telah berulang kali memperingatkannya agar tidak melakukan itu dan konsekuensi yang muncul jika dia melakukannya akan serius.

Bagaimana jika dia ditangkap?

Penangkapan Guaido akan menyebabkan protes besar.

Beberapa saat sebelum kepulangannya pada hari Senin, Wakil Presiden AS Mike Pence mengirim peringatan kepada Maduro, mengatakan setiap ancaman terhadap Guaido "tidak akan ditoleransi dan akan ditanggapi dengan cepat".

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo kemudian memperkuat pandangan ini, memberi selamat kepada Guaido atas "upaya diplomatiknya yang sukses di kawasan itu dan selamat kembali ke Venezuela.

"Amerika Serikat dan negara-negara yang mencintai kebebasan di seluruh negeri berdiri bersama presiden sementara Guaido, Majelis Nasional dan semua kekuatan demokrasi ketika mereka berupaya untuk mengadakan pemilu yang bebas dan adil yang akan mengembalikan demokrasi Venezuela," tambahnya.

"Masyarakat internasional harus bersatu dan mendorong berakhirnya rezim brutal Maduro dan pemulihan demokrasi secara damai di Venezuela."

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengungkapkan tindakan apa pun yang membahayakan "kebebasan, keamanan, atau integritas pribadi Guaido akan membawa peningkatan ketegangan".

Para diplomat dari Grup Lima, sebuah blok dari 14 negara Barat yang dibentuk untuk mengatasi krisis Venezuela mengatakan bahwa ancaman "serius dan kredibel" harus dihadapi Guaido.

Dikatakan "setiap tindakan kekerasan terhadap Guaido, istrinya, atau keluarganya" akan menghadapi semua "mekanisme hukum dan politik".

Seberapa amankah posisi Maduro?

Sementara tekanan internasional terhadap Presiden Maduro terus meningkat, pemimpin Venezuela itu menolak semua seruan agar dia turun dan menganggapnya sebagai upaya kudeta.

Handout picture released by the Venezuelan Presidency press office of Venezuela's President Nicolas Maduro showing a document as he gives a message in Caracas on February 27, 2019.
Presiden Maduro menyebut bahwa dia menghadapi "agresi imperialis" (AFP)

Menurut pejabat migrasi Kolombia, lebih dari 500 tentara telah meninggalkan pasukan militer Venezuela selama beberapa minggu terakhir.

Meskipun ini tanda bahwa tentara berpangkat rendah menderita kesulitan yang sama -kekurangan makanan dan obat-obatan- seperti masyarakat umum, dan bersedia mengikuti jejak lebih dari tiga juta orang lainnya yang sudah meninggalkan negara itu, belum ada tanda adanya peralihan dukungan kesetiaan untuk Guaido.

Loyalis pemerintah juga masih mengendalikan banyak peradilan dan Majelis Konstituante Nasional, sebuah badan yang dibentuk Maduro untuk memotong kompas kewenangan badan legislatif yang dikontrol oposisi.

Betapapun, ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa Diosdado Cabello, ketua Majelis Konstituante Nasional, telah mengirim kedua anaknya ke Hong Kong, yang oleh pihak oposisi dianggap tanda kekhawatiran yang semakin besar akan perkembangan situasi yang terjadi.

Pemerintah juga tampaknya merasakan sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat. Reuters melaporkan minggu lalu bahwa diperlukan delapan ton emas dari Bank Sentral untuk dijual ke luar negeri agar pemerintah mendapatkan uang tunai yang sangat dibutuhkan.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed