DetikNews
Rabu 13 Februari 2019, 10:43 WIB

Mengapa Banyak Orang Percaya dengan Teori Konspirasi?

BBC Magazine - detikNews
Mengapa Banyak Orang Percaya dengan Teori Konspirasi?
London - Buzz Aldrin on the Moon Getty Images

Apakah George W Bush berkomplot menjatuhkan gedung Twin Towers di New York dan membunuh ribuan orang pada 2001? Jawabannya: tidak.

Apakah Hillary Clinton mendalangi komplotan perdagangan anak dunia dari restoran pizza di Washington? Jawabannya: tidak.

Tapi mengapa sejumlah orang tetap percaya mereka melakukannya?

Dan apakah teori konspirasi menjelaskan bagaimana kita memandang dunia?

Teori konspirasi bukanlah sesuatu yang baru. Hal ini terus membayangi selama paling tidak 100 tahun ini, kata Profesor Joe Uscinski, penulis American Conspiracy Theories.

Teori ini juga menyebar lebih luas dari yang diperkirakan.

"Setiap orang meyakini paling tidak satu dan mungkin juga beberapa teori ini," katanya.

"Dan alasannya adalah sederhana: ada banyak teori konspirasi. Jika kita melakukan survei terhadap semuanya, setiap orang akan mengakui telah mempercayai sejumlah teori ini."

Comet Ping Pong Pizzeria. Comet Ping Pong Pizzeria menjadi subyek teori konspirasi di internet terkait perdagangan anak. (Getty Images)

Temuan ini bukan hanya terjadi di Amerika Serikat.

Pada 2015, penelitian oleh Universitas Cambridge menemukan lebih dari setengah warga Inggris mencentang satu kali jika dihadapkan pada daftar lima teori.

Mulai dari keberadaan kelompok rahasia yang mengendalikan peristiwa dunia sampai ke hal-hal yang berhubungan dengan mahluk angkasa luar.

Ini mengisyaratkan --bertentangan dengan keyakinan umum-- pembuat teori konspirasi pada umumnya bukanlah pria setengah baya yang tinggal di lantai bawah tanah rumah ibunya dengan mengenakan topi timah.

"Ketika Anda mengkaji data kependudukan, keyakinan pada konspirasi terjadi pada semua kelompok sosial, menembus gender dan umur," kata Profesor Chris French, psikolog di Universitas Goldsmith, London.

Apakah aliran politik Anda kiri atau kanan, Anda sama berkemungkinan untuk mengetahuinya.

"Dua kelompok ini sama dengan istilah pemikiran konspirasi, " kata Uscinski.

"Orang yang percaya bahwa Bush meledakkan Twin Towers sebagian besar adalah kelompok Demokrat, orang yang berpikir Obama memalsukan akta kelahirannya kebanyakan adalah pendukung Republik, angkanya kurang lebih sama di masing-masing partai."

Beberapa teori konspirasi

  • Teori bahwa pendaratan Bulan dipalsukan memicu penjelasan rinci yang mempertanyakannya
  • Pandangan bahwa penjahat perang Nazi, Rudolf Hess, digantikan kembarannya di penjara, ditumbangkan DNA yang diberikan kerabat jauhnya
  • Pemusik Beyonce, Paul McCartney dan Avril Lavigne menghadapi desas-desus bahwa mereka digantikan tiruannya
  • Pernyataan bahwa kelompok rahasia, Illuminati, mengendalikan dunia mengisyaratkan sejumlah pesohor dan politikus menjadi anggotanya

Untuk memahami mengapa kita terpengaruh "kekuatan tidak jelas yang mengendalikan peristiwa politik", kita perlu memikirkan unsur kejiwaan di balik teori konspirasi.

"Kita sangat ahli dalam menyadari adanya pola dan keteraturan. Tetapi kadang-kadang kita terlalu berlebihan: kita berpikir telah melihat arti dan signifikansi yang sebenarnya tidak ada," kata French.

"Kita juga mengira ketika sesuatu terjadi, karena seseorang atau sesuatu melakukannya berdasarkan alasan tertentu."

Pada dasarnya, kita melihat sejumlah kebetulan terkait dengan sejumlah peristiwa besar dan kita kemudian membuat cerita terkait hal tersebut.

Cerita itu menjadi sebuah teori konspirasi karena berisikan "hal yang baik" dan "hal buruk", yang disebut terakhir berkaitan dengan semua hal yang tidak kita sukai.

Menyalahkan politikus

Dalam banyak hal, ini seperti politik sehari-hari.

Kita sering kali menyalahkan politikus terkait dengan peristiwa buruk, bahkan saat kejadian tersebut di luar kendali mereka, kata Profesor Larry Bartels, ahli politik di Universitas Vanderbilt, Amerika Serikat.

"Orang segera memuji atau menghukum pemerintah terkait dengan hal baik atau buruk, tanpa benar-benar memahami apakah kebijakan pemerintah memang mempengaruhi hasilnya," katanya,

Barack Obama. Barack Obama memperlihatkan akta kelahirannya pada tahun 2011 terkait tuduhan dia tidak dilahirkan di AS. (Getty Images)

Ini bahkan terjadi pada berbagai hal yang sangat tidak terkait dengan pemerintah.

"Salah satu contohnya saat kita mengkaji rincian sejumlah serangan hiu di lepas pantai New Jersey pada tahun 1916," kata Prof Bartels.

"Kejadian ini menjadi sumber film Jaws. Kita menemukan terdapat penurunan berarti dukungan terhadap Presiden [Woodrow] Wilson di daerah yang paling banyak diserang hiu.

Peran "kita" dan "mereka" pada teori konspirasi juga dapat ditemukan pada kelompok politik yang lebih umum.

Di Inggris, referendum Uni Eropa menciptakan kelompok Remainers (tetap di EU) dan Leavers (keluar EU) yang jumlahnya kurang lebih sama.

"Orang merasa bagian dari kelompoknya, dan ini juga berarti orang tidak menyukai anggota kelompok lainnya," kata Profesor Sara Hobolt dari London School of Economics (LSE).

Remainers dan Leavers sering kali mengartikan dunia secara berbeda.

Misalnya ketika dihadapkan pada fakta ekonomi yang sama, Remainers kemungkinan akan mengatakan kinerja ekonomi buruk, sementara Leavers mengatakan keadaan baik.

Teori konspirasi hanyalah bagian dari hal ini.

"Leavers yang menjelang referendum, memandang mereka akan kalah kemungkinan besar akan berpikir referendum direkayasa," kata Prof Hobolt.

"Dan hal itu kemudian benar-benar berbalik setelah hasil referendum diumumkan, karena pada saat itu Remainers yang dikalahkan."

Tidak ada jalan keluar

Kemungkinan yang tidak mengenakkan terjadi ketika mengetahui bahwa teori konspirasi terkait dengan pemikiran politik. Tetapi hal ini seharusnya tidak perlu mengejutkan.

"Sering kali kita membuat keyakinan dalam cara yang mendukung apa yang kita inginkan sebagai suatu kebenaran," kata Bartels.

Dan mengetahui lebih banyak informasi tidaklah membantu: "Orang yang sering kali menjadi korban prasangka ini adalah orang yang terlalu memperhatikan banyak hal."

Bagi kebanyakan orang, terdapat sedikit alasan mendapatkan fakta politik yang benar karena suara perseorangan Anda tidak akan mempengaruhi kebijakan pemerintah.

"Saya tidak berisiko saat memiliki pandangan politik yang tidak benar," kata Bartels.

"Jika saya merasa lebih senang saat berpikir Woodrow Wilson seharusnya dapat mencegah serangan hiu, maka imbalan kejiwaan mempercayainya kemungkinan lebih besar dibandingkan hukuman apapun yang dapat saya alami jika pandangan tersebut salah."

Pada akhirnya, kita ingin merasa nyaman, bukannya merasa benar.

Karena itulah teori konspirasi datang dan pergi, dan juga mengapa konspirasi akan selalu menjadi bagian dari kisah yang kita ceritakan terkait dengan peristiwa politik.

Analisis ditulis oleh pakar atas permintaan BBC.

James Tilley adalah guru besar ilmu politik dan Fellow of Jesus College, Universitas Oxford.

Editor: Duncan Walker




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed