DetikNews
Senin 11 Februari 2019, 10:15 WIB

Bagaimana Salah Satu Sungai Terbesar di Kolombia 'Hilang' dalam 3 Bulan?

BBC Magazine - detikNews
Bagaimana Salah Satu Sungai Terbesar di Kolombia Hilang dalam 3 Bulan? Bendungan Ituango diperkirakan proyek hidroelektrik terbesar di Kolombia. (Getty Images)
Bogota - Dengan panjang 1.350 km, SungaiCauca membelah Kolombia dan sebagian tanah paling suburnya, mulai dari pegununganAndes yang kaya sumber daya sampai ke Laut Karibia, setelah bergabung dengan SungaiMagdalena di dekat hilirnya.

Diperkirakan 10 juta orang, sekitar seperlima penduduk Kolombia, tinggal di sepanjang tepiannya.

Dalam perjalanan panjangnya itu, Cauca menghidupi bendungan pembangkit listrik tenaga air, kompleks pertambangan, sejumlah industri, kota dan desa, serta para petani dan nelayan.

Pada bulan Mei 2018, curah hujan yang berlebihan dan masalah pembangunan serius di mana sungai dibendung menyebabkan banjir di hilir dan ribuan orang harus meninggalkan rumahnya.

Tetapi sekarang Cauca bisa dikatakan hilang: sejak Desember sampai Februari 2019, permukaan air begitu rendahnya sehingga ahli hidrologi mengatakan bahkan sulit untuk mengamati arus sungai.

Apa yang terjadi pada Cauca?

Sungai Cauca memasok bendungan Hidrotuango, pembangkit listrik tenaga air yang saat ini sedang dibangun di dekat kota Puerto Valdivia dan Ituango, Kolombia barat laut.

Please follow instructions to commission this graphic in your language
BBC https://jira.dev.bbc.co.uk/browse/NEWSSPEC-23065


Pembangunan bendungan jenis-tanggul ini dilakukan perusahaan EPM yang sebelumnya membangun tiga terowongan untuk mengalihkan Cauca sementara bendungan dibuat.

Pada foto yang diambil perusahaan foto-bumi Planet Labs pada tanggal 26 Maret 2018, proyek pembangunan dapat terlihat secara keseluruhan, bendungan ada di bagian atas foto.

Hidroituango.
Bendungan Hidrotuango pada tanggal 26 Maret, saat pembangunan sedang dilakukan. (Planet Labs)


Air mengalir dari bagian bawah foto ke atas: pada titik di mana sungai dihambat bendungan, air ditumpahkan ke tiga terowongan yang melewati konstruksi dan muncul kembali di baliknya, di bagian kanan bendungan.

Dua terowongan tersebut akhirnya ditutup, dan sungai kemudian dialirkan ke terowongan ke tiga.

Pada tanggal 8 April 2018, impoundment pembuatan massa air secara sengaja dimulai dan foto memperlihatkan permukaan air di balik bendungan (bagian bawah foto) meluap.

Hidroituango.
Foto dari tanggal 8 April memperlihatkan bendungan mulai terisi air. (Planet Labs)


Tetapi pada permulaan bulan Mei, masalah mulai muncul.

Foto berikutnya, diambil pada tanggal 7 Mei, memperlihatkan kawah yang terbentuk di atas terowongan digunakan untuk mengalihkan arus air.

7 Mei.
Tanggal 7 Mei, terdapat bukti kawah dan longsor terowongan peralihan tersumbat, menjebak air ke bendungan. (Planet Labs)


Kawah terlihat di bagian kanan danau, di bagian bawah foto, mengakibatkan lubang yang menelan setengah jalur tanah.

Pada sisi yang sama dari danau, lebih dekat ke dinding bendungan, juga terjadi longsor.

Akibatnya terowongan pengalihan tersumbat. Usaha para insinyur untuk membuka kembali dua terowongan yang tersumbat mengalami kegagalan.

Air sekarang terjebak di balik bendungan dan waduk mulai terisi tanpa melewati pintu air.

Sepuluh hari kemudian, permukaan air begitu tinggi sehingga kawah terendam dan terdapat bukti kembali terjadinya longsor di sekitar danau.

Pada saat ini air mencapai meskipun belum selesai pos kerja, dan mulai tumpah ke arah itu, meskipun bagian tersebut dari bendungan sebenarnya tidak dirancang untuk tujuan ini.

Hidroituango
Tanggal 17 Mei, permukaan air tinggi tetapi belum mencapai bagian teratas, di mana air dapat dikeluarkan secara terkontrol. (Planet Labs)


Gambar di atas juga memperlihatkan air dikeluarkan pada kaki bendungan, karena salah satu terowongan yang sebelumnya tertutup akhirnya terbuka dengan sendirinya.

Perubahan keadaan dengan tiba-tiba berarti di hilir, arus air meningkat tiga kali pada umumnya, menyebabkan banjir dan pengungsian sekitar 25.000 orang.

Puerto Valdivia.
Puerto Valdivia, di hilir proyek bendungan Hidroituango adalah kota pertama yang menjadi korban Sungai Cauca. (Getty Images)


Tetapi masalah Bendungan Hidrotuango masih belum berakhir. Dalam beberapa minggu kemudian, terjadi peningkatan curah hujan dan lumpur menumpuk di pos kerja.

Akhirnya, ini menyebabkan air meluap tanpa kendali ke bawah bendungan, merusak sebagian waduk dan melemahkan strukturnya.

Para insinyur mengatakan kekhawatirannya bendungan akan ambruk dan perusahaan pengelola, EPM mengumumkan bahwa lebih dari 130.000 orang untuk siap diungsikan.

Dari banjir ke kekeringan... kemudian hilang

Sejak saat itu, kekhawatiran utama di Hidrotuango adalah mencegah ambruknya bendungan dan menghentikan terus terjadinya erosi dengan mencegah luapan air.

Karena sistem terowongan dipandang tidak dapat diandalkan, satu-satunya cara untuk mengontrol luapan air adalah membiarkannya mencapai bagian teratas bendungan, dimana air akan dialirkan lewat pintu banjir.

Tetapi sekarang musim kering sudah mulai terjadi dan kekeringan semakin menyulitkan usaha untuk mengumpulkan cukup banyak air agar mencapai bagian paling atas.

Pada tanggal 16 Januari 2019, EPM memutuskan cara terbaik untuk mencapai tujuannya adalah secara drastis mengurangi jumlah air yang dikeluarkan: dari hampir 800 m3 per detik menjadi 395 (data dari Kementerian Lingkungan Kolombia/ IDEAM).

Tetapi EPM mengatakan ini tidaklah cukup, dan pada tanggal 5 Februari perusahaan sama sekali menutup arus air. Sungai menghilang dalam beberapa jam.

Menurut pengukuran para pejabat kementerian di Puerto Valdivia, tinggi permukaan air pada tanggal 4 Februari adalah 1,96 m, tetapi di tanggal 6 Februari turun menjadi 42 cm.

IDEAM menyatakan lokasi di mana sungai sebelumnya mengalir, sekarang menjadi jalur batu dan lumpur, ribuan ikan terdampar dan lebih 700 sukarelawan berusaha menyelamatkan mereka.

5 Februari 2019
Bendungan Hidroituango pada tanggal 5 Februari 2019. (Planet Labs)


Setelah membuka gerbang air, EPM menyatakan pihaknya tidak lagi mengukur arus air ke hilir karena EPM sedang mengkalibarasi kembali sensornya.

Tetapi sejumlah pejabat kementerian mengatakan pengukuran mereka memperlihatkan arus air pada angka 0, karena tidak terdapat cukup air untuk melakukan pembacaan normal.

Sementara itu, masyarakat yang beberapa bulan sebelumnya terancam banjir, sekarang tidak mampu mengairi lahan atau menangkap ikan.

Menurut pejabat setempat di Puerto Valdivia dan Ituango, masih belum pasti sampai berapa lama keadaan akan seperti ini.

Mengatasi tekanan lingkungan

Ini sebenarnya bukanlah krisis pertama yang dialami Sungai Cauca.

Selama ini, sungai dan ekosistemnya berjuang mengatasi kotoran seringkali limbah yang dibuang langsung atau dengan sedikit pemrosesan dari sekitar 10 juta orang.

Berdasarkan sejumlah laporan tahun 2007 dari koran nasional El Tiempo, saat itu Cauca menerima sekitar 500 ton limbah setiap hari.

Sungai juga menghadapi polusi pertambangan emas, batu bara dan bauksit, disamping merkuri dari kegiatan industri.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed