DetikNews
Selasa 05 Februari 2019, 16:03 WIB

Takut pada Bos, Karyawan Sewa Jasa Pengunduran Diri dari Pekerjaan

BBC Karangan Khas - detikNews
Takut pada Bos, Karyawan Sewa Jasa Pengunduran Diri dari Pekerjaan
Tokyo -

Bagi sejumlah orang, mengundurkan diri mungkin jadi hal yang rumit. Karena itu, sejumlah karyawan memutuskan untuk menyewa jasa pengunduran diri hingga menghilang dari kantor tanpa pamit secara resmi kepada atasan.

Yuichiro Okazaki dan Toshiyuki Niino adalah orang yang sangat mahir dalam mengundurkan diri dari pekerjaan. Dalam waktu 18 bulan terakhir, mereka telah mengundurkan diri dari setidaknya 1.500 pekerjaan.

Namun, pasangan ini tidak mengundurkan diri dari posisi mereka masing-masing. Mereka adalah pendiri perusahaan start-up yang menawarkan jasa bantuan pada orang-orang yang berniat mundur dari pekerjaan.

"Sebagian besar dari mereka takut pada bos," kata Okazaki.

"Mereka tahu bahwa bos mereka akan berkata: 'Tidak, kamu tidak boleh keluar'. Saya pikir ini terjadi karena budaya Jepang yang menganggap jika kamu berhenti dari sebuah pekerjaan, itu artinya tidak baik. Ketika mereka mau mengundurkan diri, mereka merasa menjadi orang yang jahat."

Untuk menjawab hal ini start-up Senshi S menyediakan jasa pengunduran diri yang dinamai Exit.

Dengan membayar sebesar 50.000 yen (Rp 6,4 juta), Exit akan menelepon bos dari karyawan itu dan mengajukan pengunduran diri atas nama karyawan tersebut.

Kadang-kadang perusahaan itu perlu menelepon berkali-kali pihak pemberi kerja untuk menyampaikan pesan pengunduran diri. Sementara itu, banyak pula perusahaan yang tidak mau berurusan dengan Exit dan meminta para karyawan itu untuk mengundurkan diri sendiri.

Namun, ketika pengunduran diri itu berhasil, para klien bisa sangat senang.

"Ada seorang klien yang memberi tahu kami, 'kamu adalah Mesias'," ujar Okazaki.

Klien tersebut sudah berencana untuk mengundurkan diri selama 10 tahun belakangan dan dia merasa "sangat tersiksa oleh pekerjaan tersebut".

Dia mengestimasi bahwa setidaknya 30 perusahaan di Jepang menyediakan jasa sejenis.

Dahulu, karyawan umumnya setia pada satu perusahaan sampai ia pensiun. Namun, beberapa tahun belakangan ini, orang-orang cenderung untuk berpindah-pindah pekerjaan. Jumlah tenaga kerja yang semakin sedikit di sana juga berarti pasar lapangan kerja bagi para pencari kerja.

"Orang berubah tapi kebudayaan tidak. Perusahaan juga tidak berubah oleh karena itu orang-orang membutuhkan kami," kata Okazaki.

Tentu saja, meminta orang lain untuk membantu kita mengundurkan diri adalah satu hal yang tidak biasa. Namun, bagi sebagian orang, mengundurkan diri adalah hal yang sulit.

Meskipun berbicara dengan bos saat akan mengundurkan diri masih jadi opsi yang populer, hal itu akan sangat tergantung dengan situasi saat kita akan meninggalkan pekerjaan.

Bagaimana jika Anda ingin buru-buru mengundurkan diri dan menemukan bahwa Anda tidak cocok pada pekerjaan itu- atau ketika kamu sadar bahwa kamu tidak sanggup untuk bekerja di posisi itu?

Bagaimana jika, dibandingkan harus menghadapi percakapan yang tidak nyaman dengan bos, kamu menghilang saja?

Perilaku itu bisa disebut "ghosting"(menghilang) - sebuah kata yang sering digunakan dalam dunia kencan - yang artinya adalah seseorang tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa penjelasan.

Tidak hanya dalam romansa, frasa itu juga sekarang dipakai di dunia pekerjaan.

Pada akhir tahun lalu, buku cokelat muda (beige book) yang dikeluarkan bank sentral Amerika Serikat -laporan berisi kondisi ekonomi AS yang dikeluarkan delapan kali setahun- juga menyebut soal fenomena itu.

Chris Yoko, yang mengelola perusahaan desain website di Virginia, AS, mengalami hal ganjil saat bekerja sama dengan seorang kontraktor, yang berjanji akan menyelesaikan sebuah proyek digital dari rumahnya.

"Laki-laki itu baru saja mulai bekerja dengan kami- dia kelihatannya cocok dengan pekerjaan itu, dan dia kelihatan sebagai seseorang yang sangat baik. Kami mulai dengan memberinya tugas yang sangat sederhana, menurut standar kami. Dia sepakat, [tapi] hari Kamis tiba- dan kami tidak menerima hasil apa pun darinya."

Kami mengirim banyak email dan SMS, tapi tidak mendapat balasan. Laki-laki ini juga mangkir dalam rapat lain untuk proyek itu. Akhirnya, karena kontraktor itu menghilang, pekerjaan itu diberikan ke orang lain.

Tak lama setelah itu, seorang laki-laki yang mengaku sebagai kawan si kontraktor yang menghilang, menghubungi Yoko lewat email.

Dia berkata, laki-laki itu meninggal dunia dalam kecelakaan mobil dan meminta Yoko untuk mengirimkan dokumen-dokumen pajak yang dibutuhkan keluarga kontraktor tersebut.

Merasa ada yang ganjil, Yoko mengecek akun Twitter si kontraktor.

Rupanya, pada akun sosial medianya, si kontraktor itu terlihat "sangat hidup". Dia terlihat baru saja membalas Tweet dari sepupunya terkait acara kumpul keluarga.

"Dia membalas orang ini dengan foto dirinya yang sedang memegang sebotol wiski dan berkata : 'Aku tidak hanya akan datang ke pertemuan keluarga, tapi aku akan membawa ini'," kata Yoko.

"Saya mengambil cuplikan layar tersebut dan mengirimkan ke laki-laki itu dan berkata: 'Hei, ada kabar baik, lihat dia baik-baik saja!."

Pura-pura mati untuk menghindar dari pekerjaan adalah sebuah contoh yang ekstrem. Namun, menghilang dan memutus semua kontak dengan pemberi kerja sering terjadi belakangan ini.

Seorang manajer yang bekerja di perusahaan ritel Inggris (yang tidak mau namanya dipublikasikan) mengatakan dia mundur dari pekerjannya karena dia menemukan pekerjaan baru yang membutuhkannya segera.

Hal itu sebetulnya bertentangan dengan kontraknya, yang mengharuskannya memberi tahu bahwa ia akan meninggalkan pekerjaan tiga bulan sebelumnya.

Oleh karena kontraknya berbunyi seperti itu, ia memutuskan untuk "kabur".

Hal itu terjadi pada awal kariernya, pada puncak resesi. Dia mengatakan kepergiannya terjadi seiring dengan sadarnya ia bahwa hubungan antara pemberi kerja dan karyawan dapat menjadi sangat "tidak aman dan tidak stabil."

"Saya mempunyai rekan kerja yang dipecat setelah mengikuti evaluasi akhir tahun. Bos bisa jadi sekejam itu. Hal itu membuat seorang karyawan berpikir: 'Saya tidak perlu datang kerja besok hari".

Mungkin perkataannya ada benarnya. Bukan hanya karyawan yang menghilang tanpa pemberitahuan. Banyak pula orang yang lamaran kerjanya tidak direspons oleh calon pemberi kerja.

Beberapa orang lain tidak diberi kabar apa pun setelah menjalani wawancara tatap muka. Seorang laki-laki berkata kepada BBC bahwa sang calon pemberi kerja "menghilang" setelah dia menuliskan dokumen strategi, mengerjakan serangkaian tes, dan menjalani sesi wawancara.

Chris Gray, direktur pada perusahaan perekrut tenaga kerja di Inggris, mengatakan gejala karyawan "kabur" dari pekerjaan karena banyaknya jumlah tawaran pekerjaan di negara-negara maju.

Sedikitnya jumlah pengangguran di AS dan Inggris berarti "sangat mudah bagi para pekerja untuk melompat keluar dari pekerjaannya yang satu dan masuk ke pekerjaan lain," katanya.

Dia menambahkan, sangat sulit untuk mengubah keadaan saat seseorang sudah memutuskan untuk menghilang.

"Ketika kamu sudah membuang waktu sebagai seorang perekrut atau seorang bos yang baru saja ditinggal karyawan, kamu sebaiknya tidak membuang waktu lagi untuk memikirkan mengapa mereka menghilang," katanya.

"Saya pikir yang bisa dilakukan untuk memitigasi hal ini adalah kamu perlu semakin proaktif dalam membangun program pengembangan orang-orang yang potensial; membangun hubungan sedini mungkin. Menjalin hubungan dengan orang-orang itu sebelum kamu membutuhkannya."

Bagi para pekerja, menghilang mungkin terlihat sebagai jalan terbaik, tapi mereka harus mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.

Sama seperti saat berkencan, tidak ada orang yang suka dengan orang yang pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

"Itu sangat tidak profesional," kata Dawn Fay, presiden distrik dari firma konsultan tenaga kerja di AS, Robert Half.

"Saya tidak akan merekomendasikan baik pemberi kerja atau karyawan yang pernah menghilang begitu saja.

Dia mengatakan alasan di baliknya - beberapa orang tidak suka konflik atau tidak mau mengecewakan orang lain, sementara yang lain mungkin kehilangan minat dalam proses rekrutmen berlarut-larut.

Perusahaan, katanya, dapat melakukan bagian mereka dengan "melakukan proses dengan cepat" dan berkomunikasi dengan jelas.

Namun dia mengatakan ghosting dapat berdampak pada masa depan anda.

"Hal ini dapat kembali 'menggigitmu' dalam jenjang kariermu di kemudian hari. Anda tidak pernah tahu di mana orang lain akan berada di masa depan, jadi anda harus memastikan bahwa anda selalu bersikap secara profesional dalam segala situasi."

Anda bisa membaca artikel aslinya How People are 'Ghosting' their employers dan artikel lainnya di BBC Capital




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed