DetikNews
Rabu 23 Januari 2019, 10:24 WIB

2 Mayat Korban Mutilasi Dipastikan Sebagai Pengkritik Militer Thailand

BBC World - detikNews
2 Mayat Korban Mutilasi Dipastikan Sebagai Pengkritik Militer Thailand
Bangkok -

Polisi di Thailand mengukuhkan, dua mayat yang dimutilasi dan ditemukan bulan lalu, adalah dua pengkritik kerajaan dan militer Thailand.

Kraidej Luelert dan seorang pegiat yang dikenal bernama Phuchana ditemukan di bantaran Sungai Mekong.

Wajah dua mayat ini dirusak dan di perut mereka terdapat bongkahan beton.

Keduanya merupakan bagian dari sejumlah aktivis yang melarikan diri ke Laos, setelah militer melakukan kudeta pada 2014.

Kraidej dan Phucana merupakan orang dekat Surachai Sae-Dan, tokoh oposisi utama kerajaan Thailand, kata polisi.

Tiga orang hilang pada 12 Desember, tetapi nasib Pak Surachai sejauh ini tidak diketahui.

Organisasi Human Rights Watch mengatakan lima orang yang selama ini kerap mengkritik pemerintah Thailand, yang tinggal di Laos, telah hilang selama dua tahun terakhir.

Mayat mereka ditemukan menjelang akhir Desember, dan salah seorang dari mereka terlihat mengambang di sungai. Keduanya dibungkus karung dan jaring ikan serta diikat dengan tali.

Hasil penyelidikan polisi, setelah melalui tes DNA, dua orang itu merupakan Kraidej Luelert dan seorang pria yang hanya dikenal dengan nama belakangnya, Phuchana.

Laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan mayat ketiga ditemukan pada saat yang sama, tetapi kemudian kembali hilang.

Para wartawan mengatakan temuan dua mayat tokoh oposisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka menjadi korban penculikan organisasi masyarakat yang diberi hak untuk membunuh, walaupun para pejabat Thailand membantah terlibat dalam kasus penculikan ini.

Thailand berulang kali gagal mengekstradisi sejumlah aktivis yang melarikan diri ke luar negeri semenjak kudeta militer 2014.

Surachai Sae-Dan, yang nama aslinya Surachai Danwattananusorn, merupakan kritikus paling tajam terhadap junta militer dan kerajaan Thailand sejak tahun 1970-an.

Pada akhir 1970-an, ia telah menjalani sejumlah hukuman penjara termasuk di bawah undang-undang lese majeste negara yang ketat, karena dianggap menghina kerajaan.

Dia mulai menjalani hukuman penjara pada 2012, tetapi diberikan pengampunan oleh kerajaan pada tahun berikutnya.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed