DetikNews
Senin 21 Januari 2019, 18:03 WIB

Ketika Antartika Dipenuhi Hutan Belantara dan Dinosaurus Hidup Bebas

BBC Karangan Khas - detikNews
Ketika Antartika Dipenuhi Hutan Belantara dan Dinosaurus Hidup Bebas
Jakarta -

Es, kosong, terpencil, dingin. Ini adalah sejumlah kata yang biasa disebut untuk mendeskripsikan Antartika, tapi kawasan tersebut tidak melulu demikian.

Ada satu masa di mana tanah luas di selatan Bumi itu dipenuhi dengan hutan dan dinosaurus hidup dengan bebas.

Tapi bagaimana alam liar dengan gundukan es itu bisa punya cuaca hangat dan mendukung kehidupan makhluk Bumi yang paling besar itu?

Untuk memahaminya, kita harus melihat waktu geologi. Antartika adalah wilayah tanpa es pada periode Cretaceous, yang terbentang dari 145 hingga 66 juta tahun lalu.

Masa ini mungkin sangat asing tapi kita bisa mengetahuinya karena ini adalah periode terakhir dinosaurus sebelum asteroid jatuh ke Bumi dan memusnahkan mereka.

Pada masa ini, ada hutan belantara di dua kutub Bumi. Fosil pepohonan dan reptil berdarah dingin yang ditemukan memungkinkan para peneliti membangun gambaran tentang bagaimana iklim waktu itu.

Reptil berdarah dingin memerlukan kehangatan untuk bertahan hidup; sekarang kita melihat mereka berjemur di panas matahari untuk menghangatkan diri di siang hari.

Di kutub, di mana matahari menghilang sepanjang bulan-bulan musim dingin, iklimnya harus cukup hangat sehingga memungkinkan mereka bertahan dalam kegelapan.

Para ilmuwan juga menggunakan fosil binatang bercangkang yang hidup di laut bernama foraminifera untuk memahami iklim masa lalu.

Dengan menganalisis unsur kimia dalam cangkang dan mengetahui interval usia ketika spesies yang berbeda hidup, mereka bisa mendapatkan perkiraan suhu air laut dalam periode itu.

Dr Brian Huber dari Museum Sejarah Alam Smithsonian menyelidiki periode Cretaceous dengan fokus khusus pada sejumlah titik di laut dalam sekitar Antartika.

Dia menjelaskan; "Foraminifera memberikan data terbaik karena Anda bisa memiliki dua-duanya. Makhluk hidup yang tinggal di dasar laut, hidup di sedimen dan merekam suhu dasar laut dan kemudian Anda juga mendapatkan yang planktonik yang hidup di lima puluh meter teratas samudra yang merekam suhu atmosfer.

"Ketika Anda memasangkan rekaman-rekaman itu sepanjang waktu dan menganalisis kerang-kerang dari berbagai bagian samudera di seluruh dunia, Anda mendapatkan gagasan yang sangat bagus tentang evolusi iklim."

Huber menguraikan bahwa apa yang mereka temukan di Samudra Selatan di sekitar Antartika awalnya sulit dipercaya karena terlalu hangat; "Kami menemukan suhu 30C di 58 derajat selatan," dekat dengan Lingkaran Antartika.

Suhu tinggi ini terjadi selama pertengahan Cretaceous yang dikenal sebagai 'Cretaceous Hothouse' - efek rumah kaca panas yang disebabkan oleh peningkatan karbon dioksida di atmosfer.

Tapi apa yang terjadi di periode Cretaceous sehingga tercipta pohon dan dinosaurus berkeliaran di Antartika tidak seperti ladang es tandus hari ini?

Huber menjelaskan; "Apa yang kita ketahui tentang Cretaceous pertengahan khususnya adalah bahwa kita memiliki tingkat penyebaran dasar laut yang jauh lebih cepat dan lebih banyak sumber vulkanik CO2."

Huber dan rekannya masih menyelidiki apakah 'rumah kaca' terjadi sebagai akibat erupsi vulkanis dalam jumlah besar yang menghasilkan CO2 dan menciptakan selimut rumah kaca yang menghangatkan bumi.

Kita semua tahu perubahan iklim terjadi di masa lalu, perubahan juga terjadi sekarang dan itu akan terjadi juga di masa depan, tetapi apa yang berbeda terkait apa yang kita lakukan sekarang dibandingkan dengan apa yang terjadi di masa lalu? Mungkinkah Antartika menjadi tempat tanpa es lagi?

"(Perubahan iklim sekarang) benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya, baik dalam segi kecepatan dan dampak luasnya, dibandingkan dengan peristiwa geologis yang kita ketahui dari masa lalu."

"Kita melepas ratusan miliar ton CO2 ke atmosfer hanya dalam beberapa dekade. Gunung berapi tidak dapat menghasilkan jumlah CO2 dalam rentang waktu sesingkat itu bahkan jika itu adalah gunung berapi besar," kata Huber.

Terkait masa depan, Huber menyarankan; "Saya pikir apa yang akan kita lihat dalam beberapa dekade, atau mungkin berabad-abad ke depan adalah apa yang disebut aliran es yang mulai mengalir lebih cepat dan bisa jadi Antartika Barat khususnya mulai mengalami degradasi."

"Mengingat laju aliran es, kita tidak akan melihat [seluruh] Antartika memburuk dalam beberapa dekade ke depan."

Ahli glasiologi memperkirakan bahwa begitu permukaan laut naik, Anda mulai melihat umpan balik positif di mana es dapat mengalir lebih cepat dan permukaan laut naik lebih cepat, jadi itu terus berjalan. Jadi ya saya pikir tanda-tandanya sudah ada di sana. "

Kita mungkin tidak memiliki dinosaurus yang berkeliaran di Antartika lagi, tetapi kita tidak dapat mengesampingkannya kemungkinan Antartika akan bebas es di masa depan, dan kita tidak memiliki cara untuk mengetahui seperti apa rasanya bagi manusia karena kita tidak pernah hidup di Bumi ketika tidak ada es di kutub.

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Earth.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed