DetikNews
Jumat 18 Januari 2019, 17:59 WIB

Jakarta dan 4 Kota Lain di Dunia yang Layak Dipantau pada 2019

BBC Karangan Khas - detikNews
Jakarta dan 4 Kota Lain di Dunia yang Layak Dipantau pada 2019
Jakarta -

Berbagai tren telah mengubah wajah dunia selama lebih dari satu abad terakhir. Perubahannya begitu dramatis seperti halnya urbanisasi.

Pada 1900, hanya ada 16 kota dengan lebih dari satu juta penduduk. Namun, kini separuh lebih populasi dunia bermukim di daerah perkotaan, menurut lembaga kajian the Brookings Institution.

Dari semua kota di dunia, sebanyak 300 di antaranya mendorong hampir setengah dari perekonomian global.

Karena itu, boleh dibilang kota menjadi kunci pendorong ekonomi dan pada saat yang sama terus berkembang. Jadi, kota mana yang perubahannya paling signifikan pada 2019?

Bangalore: Perkembangan ekonomi tercepat

Menentukan kota mana yang perekonomiannya akan tumbuh tercepat ternyata susah-gampang. Pasalnya kerap ada satu atau dua komponen utama yang secara statistik tergolong anomali.

Global Metro Monitor yang disusun lembaga kajian The Brookings Institution menempatkan Dublin pada peringkat atas. Itu karena di atas kertas banyak perusahaan yang berada di sana, termasuk bank, alih-alih aktivitas perekonomian lokal.

Oxford Economics mengatakan Tripoli setidaknya berdasarkan teori merupakan ekonomi paling cepat berkembang pada 2019. Meski demikian, risiko di Tripoli cukup tinggi karena keadaan keamanan Libia yang tegang.

Lalu kota mana yang pertumbuhannya paling signifikan, dapat dihitung, dan berkesinambungan?

"Dalam berbagai konteks, Bangalore di India merupakan kota tersebut. Pertumbuhan kota itu amat mungkin yang paling cepat. Kami memprediksi pertumbuhan PDB Bangalore mencapai 10,5% pada 2019, itu pun setelah penyesuaian inflasi," kata Richard Holt, kepala Riset Kota-Kota Global dari lembaga Oxford Economics.

'Lebih banyak pekerjaan, gaji makin tinggi'

Versi Silicon Valley di India adalah tempat perusahaan-perusahaan teknologi terbesar setempat bermarkas.

Banyak perusahaan multinasional juga berkantor di sana guna memanfaatkan gabungan pengetahuan teknis dan efisiensi biaya.

Bangalore juga tergolong bagus dalam sektor manufaktur yang bertumbuh pesat, termasuk bioteknologi dan antariksa.

Kota ini sudah lama menjadi pusat utama pertumbuhan India, namun kiprahnya boleh jadi lebih dahsyat pada tahun ini.

"Secara keseluruhan hasilnya adalah lebih banyak pekerjaan dan gaji lebih besar. Konsekuensinya belanja konsumen di kota dapat meningkat 10% atau lebih dalam konteks sebenarnya pada 2019," jelas Holt.

"Sebagian besar belanja itu akan kembali berputar mendorong ekonomi kota tersebut. Dan, meskipun biaya naik yang pada akhirnya bisa membahayakan siklus ini, itu mungkin terjadi dalam beberapa tahun atau dekade-dekade mendatang," tutup Holt.

Zhongshan: Untung atau rugi?

Pada Desember 2018, Amerika Serikat dan Cina sepakat menggelar 'gencatan senjata' selama 90 hari dalam 'perang dagang' agar perundingan bisa meredam aksi saling balas bea masuk yang terjadi beberapa kali selama tahun lalu.

Kalaupun perundingan itu menghasilkan kemajuan sepertinya AS sudah menerapkan bea masuk terhadap barang-barang Cina senilai US$250 miliar atau sekitar Rp3.500 triliun sejak Juli 2018.

Adapun Cina membalas dengan menerapkan bea masuk terhadap produk-produk AS senilai US$110 miliar atau Rp1.500 triliun.

Basis-basis manufaktur untuk ekspor di sepanjang pesisir Cina amat mungkin menjadi kawasan-kawasan yang benar-benar merasakan dampaknya ketika produk mereka menjadi lebih mahal untuk konsumen AS. Itu termasuk Zhongshan, kata Deborah Elms selaku direktur eksekutif Asian Trade Centre.

'Barometer yang penting'

Zhongshan terletak dekat perbatasan Makau, di Provinsi Guangdong, yang merupakan pusat manufaktur dan teknologi Cina.

Seluruh Provinsi Guangdong, dengan penduduk lebih dari 100 juta orang, akan sangat merasakan dampak ketegangan AS-Cina terutama pada perdagangan dan investasi asing.

Sebuah survei Kamar Dagang AS mengindikasikan sebanyak 70% perusahaan AS yang beroperasi di Guangdong menunda investasi atau bahkan mempertimbangkan angkat kaki. Lalu mengapa Zhongshan penting?

"Lebih dari 70% dari ekspor mereka ke AS kini terkena bea masuk. Mereka mengekspor mesin-mesin, yang merupakan kategori produk terbesar yang dikirim dari Cina ke AS sehingga kota itu menjadi barometer penting terkait sengketa dagang pada 2019," kata Elms.

londonLondon bakal menghadapi momen bersejarah terkait Brexit. (Getty Images)


London: Ketidakpastian Brexit

London adalah kota terbesar di Eropa dan menghasilkan lebih dari seperlima ekonomi Inggris. Namun, tak perlu diragukan lagi, London menghadapi tahun sulit dan transformatif selagi Inggris berupaya memfinalkan perundingan keluar dari Uni Eropa alias Brexit.

Dalam pidato tahun barunya, Perdana Menteri Theresa May mengatakan Inggris bisa "melewati tahap kritis" jika parlemen menyetujui kesepakatan Brexit yang diupayakannya. Namun, beberapa bulan sebelum tenggat 29 Maret, tidak bisa dipastikan dia bisa mengamankan kesepakatan.

Memasuki Brexit tanpa kesepakatan atau referendum kedua juga bisa saja terjadi.

Peluang baru?

Sebagian besar pakar sepakat bahwa ketidakpastian tidak membantu. Mata uang poundsterling menderita dan pasar properti di London kurang bergairah. Bank Sentral Inggris memperingatkan akan ada resesi jika Inggris memasuki Brexit tanpa kesepakatan khusus.

Bank sentral juga sebelumnya memprediksi 75.000 pekerjaan terkait sektor keuangan bisa lenyap akibat Brexit dan 5.000 di antaranya berasal dari pusat keuangan London.

Di lain pihak, Kota Frankfurt di Jerman diperkirakan bisa menyediakan 10.000 pekerjaan di sektor keuangan bersama 800 miliar euro dalam bentuk aset. Kemudian beberapa perusahaan multinasional mengatakan bakal memindahkan kantor pusat mereka ke luar negeri.

Akan tetapi para pendukung Brexit menepis dugaan itu. Mereka meyakini kekhawatiran soal Brexit terlalu dibesar-besarkan dan Brexit justru akan memungkinkan Inggris untuk berkiprah di jalur ekonomi yang baru. Tahun ini kita bisa tahu siapa yang benar.

beijingBandara Internasional Daxing di Beijing akan mampu menampung 100 juta penampung setahun. (Getty Images)


Beijing: Melesat ke angkasa

Asosiasi Transportasi Udara Internasional mengestimasi Cina akan mengambil alih Amerika Serikat sebagai pasar penerbangan terbesar di dunia pada 2022. Tahun ini Beijing akan menempuh langkah besar menuju target itu.

Kira-kira pada September mendatang, Bandara Internasional Daxing akan dibuka. Tempat itu luar biasa besar.

Sedemikian besarnya, bandara tersebut akan mampu menampung 100 juta penumpang setahun saat beroperasi penuh. Dampaknya pun besar.

Ellis Taylor selaku editor keuangan Asia pada FlightGlobal, mengatakan Bandara Internasional Daxing akan memicu persaingan sengit di pasar domestik lantaran maskapai China Southern dan China Eastern akan mampu mengambil kue yang selama ini didominasi Air China.

beijingBeijing diprediksi akan menjadi pusat penerbangan yang semakin penting. (Getty Images)

Menjelajah jalur baru

Jika Anda bepergian ke Asia, atau mungkin dari Asia ke Amerika Serikat, Anda mungkin akan transit di Beijing.

Bandara baru ini punya potensi membentuk ulang peta penerbangan internasional mengingat Beijing akan menjadi pusat penerbangan yang semakin penting.

"Mungkin saja ada lebih banyak orang transit di kedua bandara Beijing. Maskapai-maskapai itu akan menggunakan posisi yang lebih baik dari segi ongkos untuk menurunkan tarif dalam menghubungkan penerbangan jarak jauh," kata Taylor.

jakartaDinding laut dibuat di Jakarta untuk menahan gelombang air pasang. (Getty Images)


Jakarta: Terbenam atau berenang?

Jakarta punya predikat memalukan sebagai kota yang amat mungkin paling cepat tenggelam pada 2019.

"Jakarta punya banyak faktor yang muncul pada saat bersamaan baik itu faktor alam atau buatan manusia. Akibatnya kota itu sangat rentan pada naiknya permukaan air laut," kata Dr Katherine Kramer, pemimpin lembaga Climate Change for Christian Aid, yang menulis laporan soal kota-kota yang tenggelam tahun ini.

Ibu kota Indonesia ini berada di dataran rendah, di pesisir, dan sebagian besar dibangun di atas rawa-rawa.

Namun masalah yang paling mendesak adalah penggunaan air tanah oleh penduduk setempat yang menyedotnya dari sumber air bawah tanah. Infrastruktur air yang buruk membuat alternatif solusinya sedikit.

Ketika air muncul, tanah di bawahnya terbenam. Kawasan utara Jakarta terbenam 2,5 meter dalam 10 tahun dan di beberapa kawasan terbenam 25cm setahun.

'Rentan'

Perubahan iklim menambah tantangan kota Jakarta.

"Jakarta juga rentan pada kejadian berkala yang semakin sering dan parah akibat perubahan iklim, seperti banjir dan badai. Perubahan intensitas dan pola curah hujan yang disebabkan suhu permukaan yang menghangat juga membuat risiko cuaca ekstrem lebih besar," pungkas Kramer.

Artikel ini dapat dibaca dalam versi bahasa Inggris pada laman BBC Capital dengan judul Five Cities to Watch in 2019


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed