AS-China Gagal Sepakat, Pertama Kali KTT APEC Ditutup Tanpa Deklarasi

BBC World - detikNews
Senin, 19 Nov 2018 09:33 WIB
Mike Pence menatap Presiden Xi Jinping menjelang jamuan makan malam KTT APEC pada Sabtu (17/11). (Reuters)
Port Moresby - Perbedaan tajam antara Amerika Serikat dan China terkait perdagangan menyebabkan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) berakhir tanpa deklarasi akhir untuk pertama kalinya.

KTT berlangsung di Papua Nugini dan ditutup pada Minggu (18/11). Tuan rumah, Perdana Menteri Peter O'Neill menjelaskan bahwa "dua raksasa di ruang" gagal mencapai kesepakatan.

Dikatakannya pernyataan dari ketua konferensi APEC akan dirilis kemudian.

Amerika Serikat dan China terlibat dalam perang dagang yang sengit dan menyampaikan visi yang berbeda-beda dalam pertemuan puncak APEC.

Dalam acara itu, Amerika Serikat mengatakan akan bergandengan tangan dengan Australia dalam mengembangkan pangkalan laut di Papua Nugini, dalam upaya yang tampaknya diarahkan untuk meredam pengaruh China.

'Lautan utang'

Menurut Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, pangkalan laut itu akan membantu "melindungi kedaulatan dan hak-hak maritim di kepulauan Pasifik".

Pada Sabtu, Presiden China Xi Jinping menyerang kebijakan Amerika, yang mengutamakan kepentingan dalam negeri, dengan mengatakan bahwa negara-negara yang memberlakukan proteksionisme "akan mengalami malapetaka".

Pence
Wapres AS Mike Pence (ketiga dari kanan) Xi Jinping tampak tidak tampil bersama dalam foto para pemimpin APEC. (AFP)


Pence kemudian mengatakan bahwa negaranya siap "melipatgandakan atau bahkan lebih" tarif yang dikenakan terhadap barang-barang dari China.

Pada Minggu (18/11), China mengatakan tidak ada satu pun negara berkembang yang mengalami kesulitan utang karena bekerja sama dengan Beijing.

Pernyataan tegas Kementerian Luar Negeri China ini dikeluarkan setelah Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, memperingatkan bahwa negara-negara dapat terjerumus ke dalam lautan utang jika mereka meminjam dari China.

Salah satu negara yang mengeluh terjerat utang dari China adalah Maladewa. Presiden baru Maladewa mengeluh betapa besar beban utang yang ditanggung negaranya akibat meminjam dari China.



(nvc/nvc)