DetikNews
Kamis 11 Oktober 2018, 14:44 WIB

Ibu Ini Terus Cari Putrinya yang Hilang di Desa yang 'Ditelan Bumi'

BBC Indonesia - detikNews
Ibu Ini Terus Cari Putrinya yang Hilang di Desa yang Ditelan Bumi Seska Sumilat dengan foto anaknya Gabriella yang hilang di desa Jono Oge, Sigi. (BBC)
Jakarta - Seorang ibu menempel foto anaknya di salah satu sudut kota Palu. Foto anaknya yangbernamaGabriellaCeska Adam, berjejer dengan foto-foto oranghilanglainya.

Ibu bernama Seska Sumilat itu memegang beberapa foto anak perempuannya yang berusia 17 tahun, Gabriella.

Gabriella dinyatakan hilang di desa yang terkena likuifaksi, Jono Oge, Kabupaten Sigi yang letaknya sekitar 15 kilomter dari Palu.

Saat gempa mengguncang Sulawesi Tengah, Gabriella mengikuti kegiatan pembekalan rohani atau Katekisasi yang diadakan gereja dan sekolahnya di Jono Oge.

Baru dua hari setelah gempa pada hari Minggu (30/09), Seska pergi ke Desa Jono Oge, dan saat melihat kehancuran desa akibat likuifaksi, harapannya hilang.

"Saya manusia biasa, bukan malaikat yang kuat, saya cari di mana, saya tidak tahu, kalaupun Tuhan titipkan anak itu selama 17 tahun kepada kami, saya ikhlaskan, tapi kenapa dengan cara ini, tunjukkan di mana dia, apapun keadaannya, agar kami bisa kunjungi dia dalam momen-momen tertentu," kata Seska dengan tangisnya yang tak dapat dibendung lagi.

Menurut keterangan sekolah, SMA 2 Kota Palu, masih ada 28 siswa belum ditemukan di Desa Jono Oge.

Lahan di desa itu, bergeser sejauh tiga kilometer saat gempa terjadi. Sesaat sebelum bencana terjadi, Gabriella sempat menelpon ibunya. Dia sempat pergi mencari bahan makananan, keluar Desa Jono Oge.

Sang ibu masih berharap, pemerintah daerah meneruskan pencarian. Seska, bersama para orang tua yang mencari anaknya, berbagi informasi apapun yang mereka dapat.

Orang tua lain yang mencari anaknya adalah Micha Mantong. Ia mencari anaknya Windy Fransisca dan pergi ke beberapa tempat.

Orang tua saling berbagi informasi Micha, ayah yang mencari putrinya yang mengikuti kegiatan gereja saat gempa terjadi di Jono Oge. Micha, ayah yang mencari putrinya yang mengikuti kegiatan gereja saat gempa terjadi di Jono Oge. (BBC)

Windy juga ikut pembekalan rohani di gereja di Jono Oge. Alasan ayah Windy, Micha, mencari ke banyak tempat karena ada peserta pembekalan rohani yang lari dengan menumpang mobil ke arah perbukitan saat gempa terjadi.

"Saya masih lihat kemungkinan Windy termasuk yang menumpang mobil itu dan belum mengabari," kata Micha.

Micha mengumpulkan kesaksian dari orang-orang selamat yang ikut serta dalam pembekalan rohani.

"Sabtu pagi setelah kejadian (gempa pada Jumat 28 September), saya datang ke Jono Oge, warga mengumpulkan jenazah di masjid, saya lihat semua jenazah, tidak ada Windy di sana, saya tanyakan kepada orang-orang di mana Windy, tidak ada yang bisa menjawabnya," kata Micha tak bisa menahan tangisnya.

Dia sempat tanyakan kepada korban yang selamat, yang sempat bertemu Windy sebelum gempa mengguncang.

"Mereka bilang melihat Windy, bahkan Windy sempat menyapa, namun saat turun (dari bukit), Windy tidak bersama mereka," kata sang ayah, yang berusaha tetap tegar.

Pencarian terus dilakukan, para orang tua yang kehilangan saling berbagi informasi, namun hingga 12 hari setelah bencana, belum ada titik terang keberadaan buah hati mereka bagi banyak orang tua.

Pencarian lewat siaran radio Nadila, tinggal di Petobo dan korban selamat dari likuifaksi. Nadila, tinggal di Petobo, korban selamat dari likuifaksi. (BBC)

Di Palu, banyak warga yang mencari sanak keluarga yang hilang lewat radio,termasukNadila.

Nadila - yang bekerja sebagai penyiar radio- selamat dari lumpur amblas atau likuifaksi di Petobo. Saat itu, ia berlari bersama 54 orang lainnya ke arah bukit.

Dalam ketakutan dan dengan telapak kakinya yang mulai luka karena lari tanpa alas kaki, ia sempat teringat tante dan neneknya yang masih ada di rumah kala itu. Dua hari Nadila berada di bukit, bersama para korban selamat, lapar dan haus. Hanya ada pakaian yang melekat di badannya.

"Saya kira itu kiamat, saya sudah tak mampu pikir apa-apa, ada angin besar dari tanah, terasa di telapak kaki, lalu tiba-tiba rumah turun, tapi bukan tsunami," kata Nadila mengingat saat rumah-rumah amblas akibat likuifaksi.

Mereka tidak bisa keluar dari tempat itu karena tidak ada jalan lain. Hingga akhirnya pada hari ketiga setelah bencana, tim evakuasi membuat jalan setapak yang aman, bagi para korban selamat untuk bisa berjalan menuju pengungsian.

Rumahnya terkubur bersama sang nenek. Tantenya masih dinyatakan hilang.

Pada hari keempat setelah bencana, Nadila akhirnya menguatkan diri untuk kembali bekerja setelah bertemu dengan psikolog.

Pencarian orang hilang itu bergema di udara. Suara Nadila lewat radio lokal mengabarkan orang-orang yang hilang berikut dengan nomor telepon yang bisa dihubungi terdengar setiap hari.

"Atas nama ibu Rita Sengkewenas umur 39 tahun tinggi 165 cm berat badan 70 kilogram, alamat rumah jalan Banteng Blok M nomor 4," kata Nadila dalam siaran Pro 2 RRI Palu. Untuk orang hilang, radio ini siaran selama satu jam.

Tumpukan tebal daftar nama orang hilang selalu bertambah setiap harinya.

Dari sekitar 1000 laporan yang sudah terkumpul, 50 di antaranya sudah terkonfirmasi ditemukan dalam keadaan hidup.

Data orang hilang akibat gempa Palu. Data orang hilang akibat gempa Palu. (BBC)

Pertama kali siaran setelah musibah itu, Nadila sempat mencari keluarganya melalui siaran radio. Namun pada hari ke-12 setelah gempa berkekuatan 7.4 pada skala Richer mengguncang Palu, Nadila mengatakan ia telah menerima kehilangan keluarga yang dicintainya.

"Saya ikhlas saat ini, walaupun Pemerintah Kota Palu akan menghentikan pencarian, saya bisanya berdoa saja, agar tante dan nenek tenang di sana," mata Nadila berkaca-kaca saat menjawab pertanyaan dari wartawan BBC News Indonesia, Silvano Hajid.

Pencarian korban yang hilang di Petobo, Balaroa, dan pesisir Pantai Palu, rencananya akan dihentikan pada Jumat (12/10).

"Setelah rapat dan koordinasi tingkat provinsi juga dengan pihak keluarga korban, rencananya 12 Oktober nanti pencarian resmi dihentikan." Kata Wali kota Palu, Hidayat.

Orang hilang yang belum ditemukan hingga kini menurut Badan Nasional penanggulangan Bencana berjumlah 671 jiwa.

Foto-foto orang yang masih hilang tersebar di Palu. Radio lokal masih terus menyiarkan orang yang hilang, lengkap dengan nomor telepon keluarga yang bisa dihubungi.

Keluarga yang masih kehilangan sanak saudara masih tetap bersemangat mencari informasi keberadaan terakhir orang-orang yang dicintai.


Simak Juga 'Masih Banyak yang Hilang, Warga Ingin Pencarian Diperpanjang':

[Gambas:Video 20detik]


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed