detikNews
Kamis 27 September 2018, 09:43 WIB

Penyerang Eks Mata-mata di Inggris Adalah Agen Intelijen Rusia

BBC World - detikNews
Penyerang Eks Mata-mata di Inggris Adalah Agen Intelijen Rusia Foto paspor Anatoliy Chepiga ada 2003 (kiri) dan foto Ruslan Boshirov yang dirilis kepolisian (kanan). (Bellingcat/PA)
Moskow - Jati diri salah satu tersangka pelaku penyerangan mantan mata-mata Rusia di Inggris diungkap oleh sebuah laman jurnalisme investigasi.

Dalam artikelnya yang diunggah pada 26 September 2018, situs the Bellingcat mengklaim pria bernama Ruslan Boshirov sejatinya adalah Kolonel Anatoliy Chepiga, agen badan intelijen militer Rusia atau GRU.

Lebih jauh, Bellingcat mengklaim bahwa Kolonel Chepiga pernah menjadi serdadu yang bertugas di Chechnya dan mendapat penghargaan tertinggi Pahlawan Federasi Rusia. Penghargaan semacam itu biasanya disematkan langsung oleh Presiden Vladimir Putin.

Untuk mendukung klaim tersebut, Bellingcat menampilkan dokumen paspor Anatoliy Vladimirovich Chepiga.

Foto Chepiga pada 2003 tampak menyerupai Ruslan Bushirov, namun dalam versi yang lebih muda.

Boshirov dan seorang warga Rusia lainnya, Alexander Petrov, menjadi tersangka insiden penyerangan terhadap mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, Yulia, di Kota Salisbury pada Maret lalu.

Walau terpapar zat beracun Novichok, Skripal dan Yulia luput dari maut setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, Dawn Sturgessperempuan yang tidak terkait dengan Skripalmeninggal dunia pada Juli lalu lantaran terpapar zat serupa.

Para pejabat Inggris tidak berkomentar atas temuan situs the Bellingcat mengenai jati diri Boshirov yang sebenarnya. Namun, sebelumnya, sejumlah penyelidik Inggris berkata bahwa Boshirov adalah agen intelijen Rusia.

Ditengarai Boshirov berkunjung ke Inggris menggunakan paspor palsu bersama Alexander Petrov. Pemerintah Inggris menuduh mereka adalah agen intelijen militer Rusia, GRU.

monumentKolonel Chepiga masuk dalam daftar penghargaan Bintang Emas dan namanya terukir di dinding Sekolah Komando Militer Timur Jauh milik Rusia. (Bellingcat)

Rusia selalu membantah tudingan tersebut dan Presiden Vladimir Putin mengatakan mereka adalah warga sipil.

Keduanya muncul di televisi pemerintah Rusia dan mengklaim mereka adalah turis yang mengunjungi Salisbury untuk melihat katedral.

Penerbitan artikel mengenai identitas salah seorang tersangka dalam kasus penyerangan di Salisbury mengemuka setelah seorang aktivis band punk Pussy Riot, Pyotr Verzilov, diduga telah diserang menggunakan racun.

Dia mengaku "sangat yakin" bahwa serangan itu didalangi oleh badan intelijen Rusia.

Koresponden BBC di bidang keamanan, Gordon Corera, mengatakan belum diketahui secara pasti apakah kedua insiden terkait. Namun, kasus-kasus itu, menurutnya, menunjukkan bahwa Rusia bersedia mengambil langkah "semakin agresif" dan "berisiko".

"Mereka tampak kurang khawatir tertangkap basah lebih berani," ujar Corera.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed