DetikNews
Senin 24 September 2018, 10:28 WIB

Kaum Feminis Arab Saudi Berjuang Melalui Radio Online

BBC Magazine - detikNews
Kaum Feminis Arab Saudi Berjuang Melalui Radio Online Arab Saudi akhirnya mengizinkan kaum perempuan untuk mengemudi, namun para pegiat mengatakan banyak hal yang masih perlu dilakukan. (Getty Images)
Riyadh - Banyak cara untuk memperjuangkan hak kaum perempuan, salah satunya adalah meluncurkanradioonline, seperti yang dilakukan oleh kaum feminis di Arab Saudi.

Radio online yang masih baru itu dijalankan dari dari sebuah ruangan kecil, mereka menyiarkan sebuah program yang bertujuan untuk mengkampanyekan hak-hak perempuan yang lebih luas lagi di Arab Saudi.

Dengan diiringi musik melankolis, penyiar Nsawya FM (Feminisme FM) membahas masalah kekerasan dalam rumah tangga di kerajaan itu.

Suara sang penyiar bergetar ketika ia membahas nasib Sarah, seorang perempuan yang dikatakannya dibunuh oleh seorang kerabat laki-lakinya.

Sarah, perempuan berusia 33 tahun yang merupakan lulusan sebuah universitas ini mempunyai pekerjaan tetap dan tinggal bersama orang tuanya. Ia ingin menikahi seorang pria berkewarganegaraan Yaman.

"Impian Sarah kandas setelah ditembak dengan lima peluru oleh saudara laki-lakinya yang berumur 22 tahun, meskipun ia sudah resmi bertunangan dengan persetujuan orang tuanya," tutur Ashtar, 27 tahun, kepada BBC Arab melalui telepon.

Ia menggunakan nama samaran yang terinspirasi oleh dewi cinta dan perang dari Mesopotamia.

Kasus itu dilaporkan berbagai media dan diperbincangkan oleh orang-orang yang mengenalnya, kata Ashtar.

Sang penyiar juga menceritakan kisah Hanan Shahri, yang dilaporkan bunuh diri pada tahun 2013, setelah kakak dan pamannya diduga memukulinya, mereka tak mengizinkan Hanan menikahi tunangannya.

Kasus-kasus seperti itu, ujar Ashtar, "hanyalah puncak gunung es".

Mayoritas bisu

Bulan lalu lalu, Nsawya FM membuat akun Twitter dan mengumumkan akan menyiarkan program mingguan yang akan menjadi "suara bagi kalangan mayoritas bisu".

Radio online ini juga menyerukan kepada para relawan yang ingin terlibat dalam produksi atau menyumbangkan materi.

Dalam dua minggu terakhir, stasiun radio itu menyiarkan dua program selama satu jam dengan hanya menggunakan mikrofon, laptop dengan perangkat lunak penyuntingan dan siaran langsung audio dari situs web streaming, Mixlr.

Rendahnya kualitas audio dan keseluruhan produksi secara umum, mencerminkan sifat non-profesional dari proyek ini.

Ashtar mengatakan, awalnya mereka tidak terlalu membayangkan bisa memperoleh banyak pendengar. Dan tujuan mereka sebenarnya adalah mencapai "pertumbuhan bertahap" karena program mereka adalah menyebarkan kesadaran tentang hak-hak perempuan.

"Kami memulai proyek ini untuk sekadar mengabadikan fase ini sebagai sejarah, sehingga orang-orang akan tahu kami nyata, kami memang ada," jelas Ashtar, yang tidak ingin mengungkapkan jati dirinya, meskipun tinggal di luar Arab Saudi karena ia takut ada tindakan balas dendam.

"Otoritas Saudi bisa melarang Twitter kapan saja dan gagasan-gagasan kami akan lenyap. Padahal radio memberi kami kesempatan untuk merekam semua program dan menyiarkannya di platform lain," tambahnya.

Menurut PBB, setidaknya 17 pembela HAM dan aktivis hak-hak perempuan yang kritis terhadap pemerintah Saudi ditangkap atau ditahan sejak pertengahan Mei. Beberapa dari mereka dituduh melakukan kejahatan serius, termasuk melakukan "kontak yang mencurigakan dengan pihak-pihak asing", dan bisa dipenjara hingga 20 tahun jika terbukti bersalah.

Gagasan-gagasan 'konfrontatif'

Nsawya FM memiliki dua penyiar dan sembilan awak radio yang memproduksi konten. Dua awaknya berkewarganegaraan Saudi. Sebagian tinggal di Arab Saudi, sebagian di luar negeri.

Para awak perempuan itu mengatakan komunikasi di antara mereka sulit karena tinggal di zona waktu yang berbeda dan beberapa dari mereka memiliki kegiatan lain seperti belajar atau bekerja.

Ashtar menggambarkan dirinya sebagai "seorang pegiat yang menggunakan media untuk mengemukakan semua gagasan".

Ia mengatakan sudah mengirimkan berbagai artikel ke beberapa penerbitan terkemuka di Libanon dalam beberapa tahun terakhir, namun tak ada satupun yang dimuat.

Ia yakin penolakan tersebut sebagai akibat dari gagasan-gagasan 'konfrontatif-nya tentang masyarakat, agama dan politik.

Perempuan Saudi
AFP


Ashtar mengungkapkan kekaguman atas 'era Matriarkal' - yang terjadi pada periode Arab pra-Islam ketika kaum perempuan menjadi pemimpin-pemimpin suku.

"Saya percaya bahwa perempuan bisa lebih baik daripada laki-laki. Jika perempuan memegang tampuk kekuasaan lagi, terutama di sektor-sektor tertentu seperti peradilan, dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik," jelasnya.

Ashtar mengatakan, ia tidak menyembunyikan keyakinan itu dari keluarganya dan mengambil kesempatan untuk berdebat dengan kerabatnya dalam berbagai pertemuan seperti Idul Fitri dan perayaan-perayaan lainnya.

Namun, keluarganya menolak gagasan-gagasannya. "Barat telah mencuci otakmu," kata mereka kepada pada Ashtar berkali-kali.

'Satu tanda tangan'

Kini setelah larangan mengemudi bagi perempuan dicabut oleh Raja Salman, para pegiat seperti Ashtar berkampanye untuk mengakhiri sistem perwalian laki-laki, yang mereka sebut diskriminatif.

Di bawah sistem ini, kaum pria berwenang untuk mengambil berbagai keputusan penting atas nama kerabat perempuan mereka.

Para pegiat berkampanye di Twitter, platform media sosial paling populer di Arab Saudi. Para perempuan Saudi sangat aktif di sana.

Namun, banyak orang di kerajaan itu tidak menyukai perempuan yang menggunakan situs itu untuk mendorong reformasi.

Beberapa orang mencela para pegiat ini sebagai 'mata-mata' dan 'bukan orang Saudi,' atau menggambarkan mereka sebagai 'lalat elektronik' dalam upayanya untuk mengecilkan keberadaan mereka.

Sementara yang lain mendesak mereka untuk menunggu dan memberi raja kesempatan untuk memberlakukan reformasi lebih lanjut.

"Itu hanya propaganda mereka. Kami orang Saudi," kata Ashtar.

"Sebetulnya raja bisa saja menghapus sistem perwalian, seandainya ia mau. Hal ini tidak membutuhkan diskusi dan konsultasi puluhan tahun. Yang dibutuhkan hanyalah satu tanda tangan."



Saksikan juga video 'Menyelam Jadi Hobi Baru Wanita Arab Saudi':

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed