DetikNews
Sabtu 18 Agustus 2018, 09:40 WIB

Imran Khan, Dari Playboy Jadi Politikus dan PM Pakistan

BBC World - detikNews
Imran Khan, Dari Playboy Jadi Politikus dan PM Pakistan Para buruh duduk di depan poster Imran Khan ketua partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI). (Reuters)
Islamabad - Mantan bintang kriket,ImranKhan menjadi perdana menteri terpilih Pakistan lewat sebuah pemilihan di majelis nasional negara itu.

Partainya, Gerakan Keadilan Pakistan atau Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) memenangkan sebagian besar kursi pada pemilihan umum bulan Juli - menjadikannya perdana menteri dengan bantuan sejumlah partai kecil, lebih dua puluh tahun setelah Khan pertama kali terjun ke dunia politik.

Imran, 65 tahun, akan diambil sumpahnya pada hari Sabtu (18/08) mewarisi negara yang menghadapi krisis ekonomi parah.

Tetapi siapakah tokoh ini sebenarnya?

Pemilihan sebagai PM ini adalah puncak dari karier yang dimulai pada tahun 1970-an seorang pria yang dipandang banyak pihak di Barat, terutama di Inggris, sebagai seorang playboy lulusan Universitas Oxford yang akrab dengan kehidupan kelab malam dan olah raga kriket.

Di Barat, tulis Jonathan Boone, mantan koresponden Guardian di Pakistan, pandangan politiknya masih "dianggap sebebas kehidupan pribadinya".

Tetapi bulan dan tahun ke depan akan menentukan apakah pandangan tersebut memang berdasar.

Janji perubahan

Dia memulai karier politiknya pada akhir tahun 1990-an, saat masih menikmati kegembiraan memimpin tim kriket Pakistan memenangkan Piala Dunia pada tahun 1992. Tetapi diperlukan dua dekade sebelum Khan benar-benar dipandang sebagai pesaing serius untuk menjadi pemimpin negara.

Tahun 2013, PTI muncul menjadi kekuatan politik ketiga terbesar, setelah Liga Nawaz Muslim Pakistan (PML-N) mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif dan Partai Rakyat Pakistan (PPP) mantan presiden Asif Zardari.

Jadi bagi Khan dan kebanyakan pendukungnya, ini sebenarnya mirip sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Imran Khan menjanjikan perubahan lewat perbaikan pendidikan dan fasilitas kesehatan, serta peningkatan lapangan pekerjaan bagi generasi muda - yang merupakan 64% dari keseluruhan penduduk dan merupakan kelompok terbesar pendukungnya.

Dia sepertinya ada di tempat yang tepat untuk mewujudkannya. Dengan jumlah kursinya di parlemen, Khan akan dapat memiliki mayoritas suara yang diperlukan dengan menarik perhatian calon independen, bukannya membuat persekutuan dengan partai-partai mapan.

Tantangan permulaannya sebagai perdana menteri adalah mendapatkan legitimasi - dia dipandang pengecam dan pesaingnya sebagai wakil kelompok mapan militer yang mereka katakan merekayasa proses pemilihan agar Khan berkuasa.

Dia juga dituduh meremehkan demokrasi lewat kampanye lima tahun menentang Sharif - yang diturunkan Mahkamah Agung tahun lalu - meskipun pada kenyataannya pemilu tahun 2013 yang memilih Sharif dipandang pengamat dalam negeri dan internasional sebagai bebas dan adil.

Tetapi ini baru sebagian dari masalah.

Imran Khan berpidato setelah pemilihan umum di Islamabad pada tanggal 25 Juli.
Imran Khan berpidato setelah pemilihan umum di Islamabad pada tanggal 25 Juli. (Reuters)


Tamparan ke politik dinasti

Para pengamat mengatakan tantangan paling berarti yang dihadapi Khan kemungkinan berasal dari pandangannya yang menyederhanakan apa yang dianggap penyakit yang diderita Pakistan. Ini terlihat dari apa yang dia katakan kepada para pendukungnya dalam beberapa tahun terakhir.

Khan mengatakan satu-satunya cara agar dirinya dapat memenuhi janji penciptaan lapangan kerja dan memperbaiki layanan umum adalah dengan mengatasi politik dinasti - dua saingan utamanya, partai PML-N dan PPP, berganti-ganti berkuasa sejak tahun 1988 - serta menangkap pemimpin korup dan memaksa mereka menyerahkan kekayaan curiannya.

Dia juga tidak menunjukkan keinginan untuk membedakan demokrasi murni dengan demokrasi di permukaan yang didominasi pihak militer, yang berusaha menguasai kebijakan keamanan dan luar negeri, serta menjalankan kerajaan bisnis mereka sendiri.

Khan juga tidak mengisyaratkan dirinya memandang militansi keagamaan sebagai suatu masalah.

Kekuatan militer

Banyak pihak meyakini di pertengahan masa jabatannya, Khan akan konflik dengan kelompok mapan militer, sama seperti yang dialami kedua pendahulunya.

Ini karena begitu dia berkuasa dan mengkaji gambaran menyeluruh, para pengamat politik mengatakan, Khan akan menemukan cara untuk memperbaiki sektor kesehatan dan pendidikan, serta menciptakan pekerjaan dan memicu pertumbuhan ekonomi yang Pakistan perlukan.

Seperti pendahulunya dia akan menyadari bahwa dirinya harus mengurangi konflik dan ketegangan kawasan, terutama dengan India.

Khan juga harus mereformasi birokrasi dan lembaga peradilan Pakistan, memastikan dan menguatkan posisi pemerintah pada hal-hal yang dikuasai pebisnis yang sering kali bersekutu dengan pihak militer.

Tetapi karena memasukkan kelompok kapitalis tersebut ke dalam partainya sebelum pemilu, kemungkinan sasaran ini akan sulit Khan raih.

Kegagalan mengontrol angkatan bersenjata juga akan merusak posisi Pakistan di dunia.

Negara tersebut sudah menghadapi pembatasan pemberian bantuan dari Washington, yang merupakan sumber utama keamanan dan pendanaan pembangunan.

Pakistan juga dimasukkan ke dalam daftar badan pengawas penyandang dana teror internasional atau Financial Action Task Force (FATF) di Paris, yang juga akan mempengaruhi pendanaan.

Negara ini sedang mengalami krisis keuangan - utang luar negeri melonjak dan mata uangnya anjlok.

Yang menarik adalah, sementara dimasukkan dalam daftar abu-abu FATF pada bulan Juni, Pakistan justru mencabut pembatasan terhadap sejumlah pemimpin milisi buron dunia untuk mengikuti pemilu. Kebijakan yang dilaporkan berdasarkan kebijakan "memasukkan orang-orang militan ke dalam kehidupan umum" itu didukung pihak militer.

Tetapi hal ini tidak didukung oleh Delhi maupun Washington. Berbeda dengan pesaing politiknya, Khan menghindari untuk membicarakan hal ini saat kampanye pemilu.

Pilihan yang ada

Para pengamat mengatakan kemungkinan besar dia pada akhirnya akan melakukan beberapa pilihan strategi.

Khan kemungkinan akan menemukan cara untuk bekerja sama dengan partai saingannya seperti PML-N dan PPP - yang telah melihat dunia nyata dari kursi kekuasaan dan sekarang siap membentuk kelompok oposisi yang kuat, mengingat gabungan kekuatan di parlemen, yang tidak terlalu berbeda dengan Khan dan PTI-nya.

Tetapi karena kegiatan politiknya selama puluhan tahun terfokus pada melihat kedua partai tersebut sebagai musuh utama, kemungkinan diperlukan keberanian yang besar untuk merangkul mereka.

Pilihan lain adalah memerintah dengan pendukungnya yang masih muda dengan terus menerapkan sistem demokrasi terpimpin. Jika cara ini yang dipilih, maka Khan dapat bersantai dan menikmati kedudukannya selama keadaan masih mendukung.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed