DetikNews
Rabu 15 Agustus 2018, 09:40 WIB

Lira Turki Anjlok, Mengapa Indonesia Tak Berpengaruh Banyak?

BBC Indonesia - detikNews
Lira Turki Anjlok, Mengapa Indonesia Tak Berpengaruh Banyak?
Jakarta - LiraGettyImages

Gejolak ekonomi Turki berdampak pada mata uang dan pasar modal negara-negara berkembang, namun pengaruh terhadap Indonesia disebut pengamat tak signifikan.

Indeks harga saham gabungan (IHSG ) di Bursa Efek Indonesia memerah dan rupiah melemah. Kendati begitu, ekonom menilai krisis Turki tak akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia.

Pada penutupan perdagangan Senin (13/08), IHSG melemah 3,55% ke level 5.861,24 poin. Sementara, nilai tukar rupiah yang sempat anjlok di level Rp 14.651 per dolar AS pada Senin (13/08), depresiasi terburuk sejak 2015, sempat menguat 33 poin menjadi Rp 14.618 pada Selasa (14/08).

Tetapi sentimen investor yang bereaksi negatif terhadap gejolak ekonomi Turki diperkirakan membuat tekanan terhadap IHSG dan rupiah terus berlanjut.

Apa yangmembuatIHSG dan rupiah tertekan?

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengungkapkan sentimen negatif ini merupakan rembetan dari krisis ekonomi yang terjadi di Turki, dimana mata uang Lira anjlok lebih dari 20% terhadap dolar AS pada akhir pekan lalu.

Di sisi lain, fundamental ekonomi Turki juga lemah. Defisit transaksi berjalan (CAD) lebih dari 6% dan inflasi hampir menyentuh 20%.

"Jadi itu yang membuat pasar agak goyang sejak akhir Minggu lalu, juga ada sanksi dagang dari Amerika," ujar David kepada BBC News Indonesia.

Seperti diberitakan, AS mengenakan bea masuk sebesar dua kali lipat terhadap baja serta aluminium Turki, sebagai reaksi atas penahanan pendeta AS, Andrew Brunson di Turki.

Di sisi lain, lanjut David, reaksi kebijakan dari Turki sangat lemah. Pemerintah Turki bahkan mengintervensi bank sentralnya untuk tidak menaikkan suku bunga sejak beberapa kuartal terakhir, meski ada tekanan terhadap mata uangnya.

"Ini sekarang persoalan ini merembet ke pasar emerging market yang lain. Jadi pelaku pasar agak khawatir dengan yang terjadi di Turki," ujar David.

Hingga Selasa (14/08), IHSG melemah 13,326 poin (0,23%) ke 5.847,920.

Pelemahan yang terjadi pada IHSG seiring dengan pelemahan yang terjadi pada bursa global. Belum adanya langkah dari pemerintah Turki yang mampu mendorong kestabilan mata uangnya yang jatuh ke rekor terbaru pada pasa Asia, memicu kekhawatiran sejumlah negara terutama Eropa dan Asia.

Sedangkan bursa regional mayoritas bergerak negatif.

Sementara, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa pagi tetap bertengger di atas Rp 14.600 meski sempat menguat sebesar 33 poin.

Bank Indonesia mengaku sudah melakukan intervensi pasar guna meredam tekanan pelemahan rupiah.

Untuk mengantisipasi tekanan yang semakin kuat, BI bersiap menjalankan dual intervensi dengan stabilisasi di pasar surat berharga negara (SBN) dan pasar valas.

Negara mana sajayangterdampak depresiasi mata uang?

Nyatanya, depresiasi mata uang tidak hanya terjadi terhadap Indonesia dan negara-negara berkembang saja, mata uang euro juga melemah karena banyak bank disana yang memberikan kredit ke perusahaan-perusahaan dan bank di Turki.

"Banyak yang lebih lemah dari kita sejak pecahnya krisisi di Turki. Bahkan, mata uang yang kuat seperti krona Swedia itu 3,5% melemah, euro 2%, poundsterling 3,5%," ujar David.

"Apalagi emerging market, seperti rupee India," imbuhnya.

Rupee India mencapai rekor terendah pada Selasa (14/08) karena sentimen negatif bahwa nasib lira Turki akan menyebar ke negara-negara berkembang lainnya.

Mata uang Afrika Selatan, Argentina, Meksiko, Brasil, dan Rusia tergelincir selama seminggu terakhir karena, seperti Turki, mereka sangat bergantung pada modal asing, terutama dolar.

Berapa lama sentimen negatif ini akan berlangsung?

Menurut David, hal itu bergantung pada respon yang dilakukan oleh pemerintah Turki untuk meredam ancaman krisis di negaranya.

"Sejak kemarin sih sudah banyak kebijakan dari Turki dengan pelonggaran GWM (Giro Wajib Minimum-dana minimum yang harus dipelihara oleh bank-bank dalam bentuk saldo rekening giro yang ditempatkan di bank sentral), diharapkan likuiditasnya lebih baik," kata dia.

Mereka juga mulai menjajaki permintaan bantuan juga, misalnya swap valas dengan beberapa negara lain, seperti negara-negara Timur Tengah dan Cina.

"Jadi mereka berupaya untuk memitigasi kemungkinan memburuknya krisis di Turki," cetusnya.

Erdogan Kemerosotan nilai tukar Lira, menurut Presiden Erdogan, disebabkan oleh adanya skenario untuk menjatuhkan Turki. (Getty Images)

Namun, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira memprediksi krisis di Turki akan berlangsung lama, pasalnya solusi untuk mengatasi krisis di negara tersebut belum jelas.

Apalagi, Presiden Turki Recep Erdogan hingga kini masih menganggap bahwa anjloknya lira lantaran 'serangan' ekonomi yang dilakukan AS. Hal ini diperkirakan akan semakin memperumit masalah.

"Saya pikir sampai 2018 krisis Turki ini masih berlangsung terus," cetusnya.

Apa saja dampak krisis Turki bagi ekonomi Indonesia?

Bhima mengungkapkan transmisi yang paling cepat terasa dari krisis Turki sudah pasti pada sektor keuangan, dimana indeks saham dan nilai mata uang melemah.

Sementara, dampaknya terhadap sektor perdagangan diperkirakan 'terbatas'.

Merujuk pada data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan antara Indonesia dan Turki menjapai US$1,7 miliar, atau hampir Rp 25 triliun hingga semester pertama 2018.

"Karena ekspor Indonesia ke Turki itu sampai semester pertama 2018, porsinya hanya 0,9% dari total ekspor Indonesia, jadi tidak terlalu signifikan dari sisi perdagangan," kata dia.

Hanya saja, jika transmisi dampak terhadap sektor keuangan semakin memburuk dan rupiah semakin melemah, maka harga bahan bahan baku menjadi lebih mahal. Imbasnya, harga kebutuhan pokok semakin mahal.

"Akibatnya di semester II ini inflasi kita juga mulai naik. Inflasi naik, sementara tidak diikuti kenaikan pendapatan masyarakat, ini bisa menyebabkan tergerusnya daya beli masyarakat."

Terang saja, imbuh Bhima, hal itu akan berdampak pada laju ekonomi Indonesia.

Lantas, apakah krisis yang sama juga akan merembet ke Indonesia?

Sama halnya Turki, Indonesia kini juga tengah menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dengan tren penurunan. Sejak awal tahun, rupiah mengalami depresiasi hampir 8% terhadap dolar AS.

Rupiah termasuk dalam mata uang dengan peforma terburuk, bersama dengan rupee India dan peso Brasil,. Ketiga mata uang rupiah itu jatuh paling dalam ketimbang mata uang lainnya seperti bath Thailand serta dolar Singapura.

Dikutip dari Bloomberg, pada Selasa (14/08) rupiah melemah 7,76% terhadap mata uang Paman Sam. Mata uang rupee India melemah sebesar 9,33% dan mata uang peso Filipina melemah 7,23%.

Sementara nilai tukar bath Thailand hanya melemah 2,50% terhadap dolar AS, serta dolar Singapura melemah sebanyak 3,05% terhadap mata uang Paman Sam.

Namun, tidak serta merta krisis yang terjadi di Turki akan terjadi di Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan terdapat perbedaan fundamental ekonomi yang nyata antara Indonesia dan Turki.

Defisit transaksi berjalan (CAD) yang sebesar 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan inflasi yang rendah di level 3,5% menandakan ekonomi nasional masih terkendali.

"Makanya yang muncul dari CAD, walaupun 3% tidak setinggi waktu taper tantrum (efek pengumuman kebijakan moneter AS tahun 2013 yang langsung memukul kurs sejumlah negara) tapi kita akan tetap hati-hati dan menjaga supaya dia tidak menjadi sumber kerawanan," ujar Sri Mulyani seperti dikutip dari detik.com.

Kendati begitu, dia menegaskan Indonesia akan terus memantau perkembangan gejolak di Turki secara hati-hati.

"Karena situasi di Turki kan sangat spesifik, tidak hanya finansial, tidak hanya ekonomi, tapi juga ada masalah security maupun politik di tingkat global," ujar Sri Mulyani.

Menyoal tren penurunan mata uang yang dialami Indonesia, Bhima menegaskan hal itu tidak bisa hanya diatasi dari sisi moneter saja.

Mengigat contagion effect (efek menular) dari krisis Turki akan berdampak pada negara dengan transaksi berjalan yang lebar, Indonesia salah satunya, solusi untuk mengatasi nilai tukar rupiah yang melemah adalah dengan mengurangi defisit transaksi berjalan.

Apasolusinya?

Dari sisi ekspor, Bhima menegaskan ekspor ke negara tujuan alternatif selain negara-negara Eropa dan Timur Tengah harus terus didorong.

"Eropa kemungkinan besar akan terimbas efek dari Turki. Timur Tengah juga akan terimbas, berarti kita harus cari pasar lainnya," kata dia.

Insentif untuk sektor yang berorientasi ekspor, seperti perkebunan, pertambangan dan industri manufaktur harus segera diberikan.

"Sebelum rupiah melemah, aturan-aturan insentif fiskalnya sudah rampung bulan Agustus ini,"

Yang tak kalah penting, impor juga harus ditekan, salah satunya impor dari proyek infrastruktur.

Adapun Presiden Joko Widodo meminta jajarannya memperkuat cadangan devisa untuk mengokohkan ketahanan terhadap ketidakpastian ekonomi global, termasuk dampak dari krisis ekonomi di Turki.

"Kita harus jaga stabilitas rupiah dalam nilai yang wajar, inflasi rendah, defisit transaksi yang aman," kata Jokowi dalam rapat terbatas dengan topik lanjutan strategi kebijakan memperkuat cadangan devisa di Kantor Presiden, Selasa (14/08).

Kementerian Perdagangan dan Bea Cukai juga diminta untuk cermat dalam mengendalikan impor. Hal itu harus dilakukan secara detail dan cepat sehingga impor barang yang memang sangat penting dan sangat tidak penting bisa diketahui.

"Juga terkait terobosan untuk meningkatkan ekspor. Dalam ratas lalu banyak disinggung, termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan investasi. Kita juga sudah buka OSS (Online Single Submission). Ini dampaknya apa, harus dilihat," kata dia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed