DetikNews
Jumat 10 Agustus 2018, 18:50 WIB

Korut Kutuk AS karena Masih Berlakukan Sanksi

BBC World - detikNews
Korut Kutuk AS karena Masih Berlakukan Sanksi Apakah Korea Utara dan AS kembali pada perang kata-kata dan saling ancam secara militer? (AFP)
Pyongyang - Korea Utara kembali mengecam Amerika Serikat yang tidak juga mencabut sanksi terhadap negara itu.

Kementerian Luar Negeri mengatakan telah menunjukkan berbagai langkah yang menunjukkan niat baik, namun AS masih mengikuti "skenario akting yang ketinggalan zaman" dan membahayakan setiap upaya menuju denuklirisasi.

Korea Utara masih tetap dikenakan berbagai sanksi AS dan dunia internasional atas program nuklir dan uji coba rudal mereka.

AS menginginkan Korea Utara melakukan perlucutan senjata nuklir sepenuhnya sebelum sanksi dicabut.

Dalam KTT bersejarah bulan Juni lalu, Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bersepakat untuk bekerja menuju denuklirisasi Semenanjung Korea.

Tetapi rincian proses itu masih sangat kabur - Korea Utara tidak berkomitmen untuk menghentikan program senjata nuklirnya secara sepihak.

Pekan lalu, laporan PBB yang bocor mengatakan Korea Utara belum berhenti membangun senjata - yang mendorong AS menyerukan masyarakat internasional untuk terus memberlakukan sanksi.

Hari Jumat (10/08), Korea Selatan mengatakan menemukan dan menindak tiga perusahaan yang mengimpor batu bara dan besi dari Korea Utara, melanggar sanksi PBB yang diberlakukan pada Agustus tahun lalu.

Apa kata Korea Utara?

Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut berbagai langkah rekonsiliasi yang disebut telah mereka lakukan: menghentikan uji coba rudal, mengembalikan sisa jenazah tentara AS yang tewas dalam Perang Korea 1950-53 dan membongkar sebuah situs nuklir.

Mereka mengatakan bahwa AS berpegang pada skenario lama bahwa "semua pemerintahan sebelumnya telah mencoba dan gagal".

Mereka juga menuduh para pejabat AS "berbuat tak sesuai niat Presiden Trump" dengan "melontarkan tuduhan-tuduhan tak berdasar" dan melancarkan "upaya putus asa untuk mengintensifkan sanksi dan tekanan internasional".

Kim Jong-un and Donald Trump shaking hands
KTYT bersejarah Kim-Trump adalah langkah pertama, namun jalan masih begitu panjang. (Reuters)


Dikatakan, "mengharapkan bisa memetik hasil sambil menghina mitra dialog" adalah "tindakan bodoh ibarat menunggu menetasnya sebutir telur rebus".

Awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Korea Utara menyebut tindakan AS "mencemaskan". Dan bulan lalu, Korea Utara menuduh AS menggunakan taktik "mirip gangster" dalam berbagai perundingan.

Menteri Luar Negeri Ri Yong-ho saat ini sedang berkunjung ke Iran, yang presidennya, Hassan Rouhani memperingatkan bahwa AS tidak bisa dipercaya setelah pemerintahan Trump mencabik kesepakatan pelonggaran sanksi era Obama.

Menurut media Iran, Menlu Ri mengatakan, jika AS kembali ke posisi yang lebih agresif terhadap Pyongyang, Korea Utara akan berusaha memulihkan pengetahuan nuklir mereka.

"Karena kami tahu bahwa AS tidak akan pernah mencabut kebijakan permusuhannya kepada kami, kami akan mempertahankan pengetahuan nuklir kami," katanya seperti dikutip oleh media lokal.

Apa kata AS?

Para diplomat utama AS mempertanyakan komitmen Utara untuk denuklirisasi.

Penasihat keamanan nasional John Bolton awal pekan ini mengatakan Korea Utara belum memulai proses ini, sementara utusan AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan Washington "tidak mau menunggu terlalu lama" untuk Korea Utara.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa merupakan hal penting untuk mempertahankan "tekanan diplomatik dan ekonomi" terhadap Korea Utara.

Bagaimana sanksi diduga dilanggar?

Dinas bea cukai Seoul mengatakan impor batu bara dan besi Korea Utara dilakukan dengan terlebih dahulu dikirim ke Rusia untuk menyamarkan asal-usul mereka.

Diperkirakan ketiga perusahaan yang terlibat berharap mendapatkan untung besar, karena anjloknya harga produk Korea Utara setelah memberlakukan sanksi PBB.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed