DetikNews
Jumat 10 Agustus 2018, 19:21 WIB

Menteri Malaysia Perintahkan Penarikan Potret LGBT dari Pameran

BBC Magazine - detikNews
Menteri Malaysia Perintahkan Penarikan Potret LGBT dari Pameran Potret Ayub (kiri) dan Pang (kanan) disingkirkan dari sebuah pameran. (@MOOREYAMEEN)
Kuala Lumpur -

Penyelenggara acara di Malaysia telah mencabut dua potret pegiat LGBT dari sebuah pameran foto umum karena adanya kecaman dari pemerintah.

Direktur George Town Festival mengatakan dirinya "diarahkan" untuk menurunkan potret oleh Menteri di Jabatan Perdana Menteri untuk Urusan Agama, Mujahid Yusof Rawa.

Mujahid mengatakan penyebaran kebudayaan LGBT tidak didukung di Malaysia.

Pameran tersebut menampilkan serangkaian potret sejumlah warga Malaysia yang berpose dengan bendera negara itu.

Foto-foto tersebut diambil tahun lalu pada peringatan 60 tahun kemerdekaan Malaysia.

Di antaranya adalah Nisha Ayub, pegiat transgender yang memenangkan sejumlah penghargaan, termasuk International Women of Courage Award dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada tahun 2016 karena kegiatannya untuk hak-hak transgender.

Pang Khee Teik adalah salah satu pendiri Seksualiti Merdeka, sebuah acara tahunan tentang hak seksualitas. Dia juga menjadi editor forum online Queer Lapis.

Dia difoto menggenggam bendera pelangi dan dibalut bendera nasional.

Homoseksualitas adalah suatu pelanggaran hukum di Malaysia, menurut hukum sekuler maupun syariah Islam.

'Kebanggaan Malaysia, bukan kebanggaan gay'

Joe Sidek, direktur acara mengatakan kepada BBC bahwa dirinya "diarahkan" untuk menurunkan foto-foto itu meskipun "saya tidak diancam".

Dia mengatakan tujuan pameran terbuka untuk umum yang berjudul Stripes and Strokes tersebut adalah untuk menampilkan "Kebanggaan Malaysia, bukannya kebanggaan gay".

"Saya tidak mendukung penyensoran tetapi saya memahami mengapa hal ini harus dilakukan."

Dia menegaskan dirinya memandang "gambaran lebih luas" dan mempertanyakan permintaan ini dapat menimbulkan masalah di masa depan.

"Jadi saya memilih untuk kalah dalam pertarungan ini," katanya, dan menambahkan dirinya telah dikecam karena keputusannya ini.

Pada umumnya masyarakat Malaysia adalah Muslim konservatif dan LGBT masih merupakan tabu.
Pada umumnya masyarakat Malaysia adalah Muslim konservatif dan LGBT masih dipandang tabu. (Getty Images)


Mujahid mengatakan kepada koran The Star Malaysia bahwa masyarakat Malaysia "tidak bisa menerima penyebaran LGBT karena bertentangan dengan norma masyarakat".

"Ketika Anda menampilkan potret dengan simbol (LGBT), jika itu bukannya mempromosikan...maka jelaskan ke saya apa artinya mempromosikan?"

Para pegiat yang ditampilkan dalam rangkaian foto tersebut telah berkomentar.

"Mereka membicarakan tentang hak sebagai warga Malaysia tetapi mereka menolak memberikan kesempatan kepada orang seperti saya untuk menunjukkan kecintaan kepada negara," kata Ayub di Facebook.

"Mereka dapat membakar atau membuang foto saya tetapi mereka tidak dapat merenggut kecintaan saya kepada negara saya. Saya kemungkinan seorang transgender, tetapi saya adalah warga Malaysia yang memiliki keluarga, teman, yang selalu mengharapkan Malaysia yang lebih merangkul (semua pihak)."

Pang menyampaikan kata-kata yang sama dengan Ayub, dengan menulis di Facebook, satu-satunya tindakan yang dipromosikan adalah "kecintaan kepada negara kami meskipun ada kebencian."




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed