DetikNews
Selasa 31 Juli 2018, 11:23 WIB

Ups! Menlu Inggris Sebut Istrinya dari Jepang, Padahal dari China

BBC World - detikNews
Ups! Menlu Inggris Sebut Istrinya dari Jepang, Padahal dari China Menlu Inggris, Jeremy Hunt dan istrinya Lucia Guo yang berasal dari Cina saat menghadiri pesta di Istana Buckingham (19/05/2016). (Press Association)
Beijing -

Menteri Luar Negeri Inggris yang baru, Jeremy Hunt, sedang dalam kunjungan resmi ke Cina, tetapi kekeliruannya yang memalukan malah menjadi berita utama.

Hunt berusaha mengambil hati tuan rumah dengan menyebutkan istrinya orang Cina, tetapi dia justru menyebutnya sebagai "orang Jepang".

Dia kemudian memang segera memperbaiki diri dan para hadirin yang ada di ruangan langsung tertawa.

Tetapi kesalahan ini tetap menjadi berita utama dan Hunt sendiri mengatakan ini adalah sebuah "kesalahan besar".

Lucia Guo dilahirkan di Xian, Cina tengah. Dia menikahi Hunt pada 2008 ketika bekerja di Warwick University, Inggris. Pasangan ini telah memiliki tiga anak.

Apa yang sebenarnya dikatakan?

Hunt sedang bertemu Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, ketika dia mengatakan dalam bahasa Inggris: "Istri saya orang Jepang - istri saya orang Cina. Maaf, itu adalah suatu kesalahan besar".

Dia menjelaskan bahwa dirinya dan Wang "berbicara dalam bahasa Jepang saat makan malam kenegaraan".

Sebelumnya dia mengatakan: "Istri saya orang Cina dan anak-anak saya setengah Cina dan jadi kami memiliki kakek-nenek orang Cina yang tinggal di Cina, serta ikatan kekeluargaan yang kuat di Cina."

Mengapa ini dipandang sebagai kesalahan?

1. Cina dan Jepang bersaing sengit

Mencampurkan Cina dengan negara lain adalah suatu keburukan terutama jika Anda berusaha mengambil hati pemerintah Cina.

Tetapi dari semua negara dunia yang kemungkinan Anda campur adukkan dengan Cina, Jepang adalah negara terburuk.

Unjuk rasa anti Jepang di Cina pada tahun 2012.
Unjuk rasa anti Jepang di Cina pada tahun 2012. (AFP)


Pasalnya, kedua negara ini hubungannya tidak baik selama berpuluh tahun. Mereka berperang dalam dua perang dan bertikai terkait dengan wilayah di Laut Cina Timur.

Di antara generasi tua Cina, banyak orang yang enggan membeli barang buatan Jepang atau pergi berlibur ke Jepang - karena mereka menuduh Jepang mengecilkan pelanggaran perangnya.

Dan terjadi juga sejumlah unjuk rasa anti-Jepang di sejumlah tempat di Cina pada tahun 2012, ketika ketegangan meningkat terkait kepulauan yang disengketakan.

2. Dia membicarakan istrinya sendiri

Mudah bagi siapapun salah bicara atau kebingungan dengan ras seseorang.

Hunt memang dapat berbicara bahasa Jepang dan pernah bekerja di Jepang - dan mengatakan dirinya berbicara dalam bahasa Jepang dengan Wang - hal ini kemungkinan dapat menjelaskan mengapa hal tersebut masih di pikirannya saat menghadiri pertemuan.

Meskipun demikian, adalah aneh untuk menjelaskan mengapa "Jepang" terucap pada pertemuan dengan para pejabat Cina - terutama saat Hunt membicarakan istrinya sendiri.

3. Sesuai dengan stereotipe negatif

Terdapat sebuah lelucon bahwa orang Asia Timur "semuanya kelihatan serupa" - dan banyak orang Asia Timur mengeluh karena orang membuat asumsi berdasarkan kemalasan terkait ras mereka.

Misalnya saja, orang-orang berteriak "Konnichiwa" (ucapan bahasa Jepang) kepada saya meskipun saya orang Cina, sementara teman saya, orang Jepang Inggris, menghadapi orang-orang yang tidak dikenal menegur dengan "Ni Hao" (halo dalam bahasa Cina).

Sebagian besar orang Asia Timur yang saya kenal akan menyetujui bahwa ini bukanlah kesalahan terburuk yang dapat dilakukan seseorang - tetapi tetap saja hal ini mengesalkan.

Kesalahan Hunt kemungkinan hanyalah salah ucap - tetapi ini adalah kesalahan yang sangat besar jika dikaitkan dengan konteksnya.

Dan yang lebih penting lagi bagi Hunt - kesalahan ini tidak akan membuat tuan rumah terpesona, yang sebenarnya adalah alasannya menyebutkan istrinya pada mulanya.

4. Apakah pada akhirnya ini akan efektif?

Hunt bersama Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi.
Hunt bersama Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi. (AFP)

Jika memperhatikan peningkatan status Cina sebagai kekuatan dunia, dan kekuatan konsumennya, memang banyak politikus dan kalangan usaha yang berusaha mendekatkan diri ke Cina.

Tetapi hal ini tidak mudah dilakukan.

Baik pendiri Facebook, Mark Zuckerberg maupun Presiden Prancis Emmanuel Macron sudah berusaha membuat orang Cina terkesan dengan berusaha berbicara dalam bahasa Mandarin - tetapi reaksi yang mereka terima beragam.

Dan memiliki ikatan keluarga Cina juga tidak berarti akan melancarkan keadaan.

Misalnya saja, Gary Locke yang menjadi duta besar Amerika Serikat untuk Cina dari tahun 2011 sampai 2013, menjadi berita utama karena dirinya adalah orang Amerika keturunan Cina pertama yang menjabat posisi tersebut.

Tetapi dia tetap menghadapi kecaman dari media Cina, terutama saat hubungan menegang, semisal ketika kedubes AS di Beijing memberikan perlindungan kepada pembangkang Cina Chen Guangcheng.

Surat kabar pemerintah The Global Times menegaskan kepada masyarakat bahwa Locke hanyalah seorang politikus AS "biasa" yang bekerja untuk kepentingan Washington, meskipun dia beretnis Cina.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed