DetikNews
Kamis 26 Juli 2018, 17:53 WIB

Negara Kecil Ini Berambisi Memimpin Penjelajahan Antariksa

BBC Karangan Khas - detikNews
Negara Kecil Ini Berambisi Memimpin Penjelajahan Antariksa Sejumlah perusahaan tambang-antariksa membuka cabang di Luksemburg. (Getty Images)
Luksemburg - Seiring perlombaan angkasa baru dimulai, banyak perusahaan teknologi besar mengusung Mars sebagai calon tempat tinggal manusia di luar Bumi. Tapi mereka mungkin menatap terlalu jauh.

Peluang terbaik kita untuk membangun kehidupan di luar Bumi terletak lebih dekat, jalur yang mungkin akan dirintis oleh perusahaan-perusahaan lain yang tidak begitu terkenal.

Membangun koloni di Bulan akan "menjadi cetak biru bagi Mars", kata saintis NASA.

Orang-orang yang akan mendirikan permukiman lunar ini kemungkinan besar merupakan pegawai perusahaan tambang swasta kecil, bukan raksasa teknologi.

Banyak dari perusahaan semacam ini terhubung dengan sebuah negara kecil di Uni Eropa bernama Luksemburg.

Hebatnya, Nasa percaya bahwa koloni di Bulan dapat didirikan dalam empat tahun ke depan.

Takeshi Hakamada adalah salah satu dari orang-orang yang berusaha untuk kembali menjejakkan kaki manusia di Bulan.

Tapi kali ini tujuannya lebih komersil: mencari sumber daya mineral dan gas yang menguntungkan, sekaligus air yang dapat menunjang kehidupan.

Hakamada adalah CEO ispace, perusahaan swasta yang bergerak di bidang eksplorasi ruang angkasa. Perusahaan ini berbasis di Tokyo, dan membuka cabang di Luksemburg.

Ispace berencana untuk sampai ke orbit Bulan pada 2020, kemudian mencoba pendaratan halus di permukaannya pada 2021.

"Dua misi pertama kami akan berfungsi sebagai demonstrasi teknologi yang kami miliki. Dari sana, kami akan mulai mendirikan jasa transportasi frekuensi-tinggi untuk membawa muatan pelanggan ke Bulan," kata Hakamada.

"Jika kita menemukan sumber air di Bulan, kita dapat mengembangkan industri sumber daya yang benar-benar baru di ruang angkasa," tambah Hakamada.

Penemuan sumber air beku akan menjadi momen yang monumental bagi spesies kita, karena temuan itu akan memungkinkan manusia untuk tinggal di luar Bumi dalam periode yang lebih lama.

Bulan, eksplorasiSemua negara di Bumi dapat mengeksplorasi Bulan namun tidak satupun diizinkan untuk menyatakan klaim kepemilikan. (Getty Images)

Hakamada tidak sendirian dalam ambisinya. Saat ini terdapat sepuluh perusahaan tambang-ruang angkasa (termasuk ispace) berdomisili di Luksemburg sejak negara itu mengesahkan undang-undang sumber daya antariksa pada Februari 2016.

Program ini disokong dengan dana senilai $223 juta (sekitar Rp3 triliun).

Untuk bisnis antariksa ini, Bulan adalah satu dari dua target utama yang dipertimbangkan. Para pengusaha juga mengincar asteroid di dekat Bumi untuk menambang sumber daya logam.

Di antara Bulan dan kira-kira 16.000 asteroid di dekat Bumi, sumber daya yang tersedia bisa jadi cukup kaya untuk menghasilkan megatriliuner pertama di dunia, menurut beberapa pengamat termasuk astrofisikawan Neil deGrasse Tyson.

Perlombaan antariksa modern semakin sengit setelah Luksemburg mengesahkan undang-undangnya pada 2016.

Ini menjadikan Luksemburg negara kedua di dunia setelah AS yang menyediakan kerangka legal komprehensif untuk eksploitasi sumber daya di luar Bumi.

"Sejak Februari 2016, kami telah berinteraksi dengan hampir 200 perusahaan yang menghubungi kami," kata Paul Zenners, perwakilan menteri ekonomi Luksemburg, yang menjalankan prakarsa pemerintah SpaceResources.lu.

Kerangka antariksa Luksemburg memiliki perbedaan penting dari kerangka AS. AS mengharuskan perusahaan memiliki lebih dari 50% ekuitas yang disokong pemerintah, sedangkan Luksemburg tidak mengajukan syarat seperti itu.

Negara Eropa yang kecil itu, yang disebut sebagai negara terkaya di dunia oleh IMF berdasarkan PDB per kapitanya, telah dituduh sebagai surga pajak. Luksemburg memang menawarkan serangkaian insentif dan manfaat pajak, termasuk pajak yang sangat rendah untuk repatriasi kapital.

Keikutsertaan Luksemburg dalam perlombaan antariksa pada 2016 menarik perusahaan-perusahaan terbesar AS di bidangnya, antara lain Deep Space Industries dan Planetary Resources, perusahaan AS yang disokong taipan Sir Richard Branson dan pendiri Google Larry Page.

Planetary Resources, salah satu pemain lama dalam industri antariksa, menjual saham senilai $28 juta (hampir Rp406 miliar) kepada Luksemburg.

Jumlah ekuitas tepatnya tidak pernah diungkap, namun pimpinan perusahaan tersebut mengakui bahwa Luksemburg adalah salah satu investor terbesarnya.

Undang-Undang Sumber Daya Antariksa Luksemburg membuka gerbang bagi investasi. Menteri ekonomi kini mengatakan bahwa industri antariksa menyumbang 1,8% pada PDB negara, rasio terbesar di antara negara-negara Uni Eropa.

Namun kendati nilai investasi yang besar, pertambangan antariksa adalah industri yang juga menyoroti celah hukum yang ambigu.

"Tidak jelas apakah hukum antariksa internasional mengizinkan suatu negara untuk memberikan hak properti pada sumber daya alam yang ditambang di ruang angkasa," menurut studi Allen dan Overy, firma hukum yang berbasis di Luksemburg.

Setelah AS mengesahkan undang-undang pertambangan ruang angkasa pertama di dunia pada 2015, Rusia termasuk negara yang mengajukan keberatan.

Untuk memahami ambiguitas hukum antariksa, kita perlu kembali ke Traktat Luar Angkasa (Outer Space Treaty, OST) yang diteken pada 1967.

Perjanjian dari zaman Perang Dingin itu melarang kepemilikan suatu negara akan benda langit. Intinya, ruang angkasa dianggap sebagai milik bersama, seperti halnya Antartika.

Perkembangan militer di ruang angkasa sangat dibatasi oleh OST, yang ditandatangani oleh 105 negara.

Demi mewujudkan ambisi Presiden Donald Trump untuk mendirikan "Pasukan Angkasa Luar", AS mungkin harus menarik diri dari OST, langkah yang akan semakin mengucilkan negara tersebut.

Tapi OST tampaknya tidak menyinggung kepemilikan sumber daya, kealpaan yang didefinisikan oleh AS dan Luksemburg.

Dan negara lain mungkin akan melakukannya juga; Uni Emirat Arab baru-baru ini meneken kesepakatan untuk belajar dari siasat hukum Luksemburg.

"Undang-undang Luksemburg tentang eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya antariksa membahas kealpaan ini dan memberinya kejelasan di level nasional, sebagai langkah pertama untuk mengizinkan aktivitas terkait sumber daya antariksa," kata Zenners.

"Undang-undang Luksemburg tidak memiliki tujuan, maksud, atau efek membuka jalan bagi kepemilikan negara akan benda-benda langit dalam bentuk apapun. Hanya kepemilikan sumber daya antariksa yang dibahas dalam kerangka hukum, yang juga memerinci aturan untuk otorisasi dan pengawasan misi."

Sebagai negara kecil, Luksemburg mungkin lebih gampang untuk memimpin 'demam emas' baru untuk sumber daya di ruang angkasa.

"Di samping Amerika Serikat, Luksemburg telah terbukti sebagai negara yang berpikir ke depan, dan kesuksesan mereka akan memungkinkan perusahaan swasta untuk melakukan misi antariksa," kata Bill Miller, CEO Deep Space Industries, yang membuka kantor pusatnya untuk wilayah Eropa di Luksemburg.

Perdebatannya mungkin tidak akan memanas dalam waktu dekat karena perusahaan tambang antariksa biasanya terlalu ambisius dalam mengumumkan rencana peluncurannya.

Tapi jika keuntungan dari usaha ini mulai mengalir suatu hari nanti, mungkin kita bisa bertaruh kalau Luksemburg akan terlibat di situ.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The tiny nation leading a new space race, di BBC Future.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>