DetikNews
Senin 04 Juni 2018, 10:11 WIB

Mengapa Hewan Laut Tak Bisa Berhenti Makan Plastik?

BBC Karangan Khas - detikNews
Mengapa Hewan Laut Tak Bisa Berhenti Makan Plastik? Setiap tahun, sekitar 8 juta metrik ton sampah plastik masuk ke lautan.
Ottawa - plastic in the ocean
Setiap tahun, sekitar 8 juta metrik ton sampah plastik masuk ke lautan. (BBC)


Plastik tidak hanya terlihat seperti makanan. Baunya, rasanya, dan bahkan bunyinya terdengar seperti makanan.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini terkait serial dokumenter Blue Planet II, David Attenborough menjelaskan urutan bagaimana seekor albatros tiba di sarangnya untuk memberi makan anak-anaknya.

"Dan apa yang keluar dari mulutnya? Bukan ikan, dan bukan cumi-cumi - yang biasanya mereka makan. Plastik."

Hal ini, seperti kata Attenborough, memilukan dan aneh.

Albatros mencari makanan hingga ribuan kilometer untuk mencari mangsa pilihan mereka, yang mereka ambil dari air dengan mudah.

Bagaimana burung yang jago seperti itu dapat dengan mudah tertipu, dan kembali dari perjalanan panjang mereka hanya dengan mulut yang penuh dengan plastik?

Tidak nyaman mengetahui bahwa albatros tidak sendirian.

Setidaknya 180 spesies hewan laut telah didokumentasikan mengkonsumsi plastik, dari plankton kecil hingga paus raksasa.

Plastik telah ditemukan di dalam perut sepertiga ikan yang ditangkap di Inggris, termasuk spesies yang biasa kita konsumsi sebagai makanan.

Plastik juga telah ditemukan di dalam makanan favorit lainnya seperti kerang dan lobster.

Singkatnya, hewan dari segala bentuk dan ukuran makan plastik, dan dengan 12,7 juta ton barang itu masuk ke lautan setiap tahun, ada banyak hal yang harus dilakukan.

Bahkan di daerah yang paling terpencil di lautan terbuka, flotsam plastik dapat ditemukan, dengan konsekuensi yang luas untuk kehidupan laut
Bahkan di daerah yang paling terpencil di lautan terbuka, sampah plastik dapat ditemukan, dengan konsekuensi yang besar bagi kehidupan laut. (BBC)


Prevalensi konsumsi plastik sebagian alasannya adalah konsekuensi dari kuantitas yang begitu besar ini.

Dalam zooplankton, misalnya, itu sesuai dengan konsentrasi partikel plastik kecil di dalam air karena bagian tubuh untuk makan mereka dirancang untuk menangani partikel dengan ukuran tertentu.

"Jika ada partikel dalam kisaran ukuran ini, itu pasti makanan," kata Moira Galbraith, seorang ahli ekologi plankton di Institute of Ocean Sciences, Kanada.

Seperti zooplankton, makhluk bertubuh silindris dan bertentakel yang dikenal sebagai teripang tampak tidak terlalu rewel tentang apa yang mereka makan karena mereka merangkak di dasar laut, memasukkan sedimen ke dalam mulut mereka untuk mengekstraksi makanan yang dapat dimakan.

Namun, satu analisa menunjukkan bahwa penghuni dasar samudera ini dapat mengkonsumsi lebih banyak plastik hingga 138 kali dari yang diperkirakan, mengingat distribusi plastik dalam sedimen.

Untuk teripang, partikel plastik mungkin lebih besar dan lebih mudah untuk diambil dengan tentakel mereka daripada makanan yang lebih konvensional, tetapi pada spesies lain ada indikasi bahwa konsumsi plastik lebih dari sekedar proses pasif.

Banyak hewan tampaknya memilih diet ini. Untuk memahami mengapa plastik begitu menarik bagi hewan laut, kita perlu mengerti bagaimana mereka memandang dunia.

"Hewan memiliki kemampuan inderawi dan perseptif yang sangat berbeda dari kita. Dalam beberapa kasus kemampuan mereka lebih baik dan dalam beberapa kasus kemampuan mereka lebih buruk, tetapi dalam semua kasus mereka berbeda," kata Matthew Savoca di NOAA Southwest Fisheries Science Center di Monterey, California.

Salah satu penjelasannya adalah hewan mengira plastik sebagai makanan yang biasa dimakan - pelet plastik, misalnya, dianggap menyerupai telur ikan yang lezat.

Tetapi sebagai manusia, kita bias oleh indra kita sendiri.

Untuk mengerti kesukaan hewan akan plastik, para ilmuwan harus mencoba melihat dunia seperti yang hewan lakukan.

Banyak hewan tampaknya memilih plastik sebagai menu makanan.
Banyak hewan tampaknya memilih plastik sebagai menu makanan. (BBC)


Manusia adalah makhluk visual, tetapi ketika mencari makan, banyak hewan laut, termasuk albatros, bergantung pada indera penciuman mereka.

Savoca dan rekan-rekannya telah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa beberapa spesies burung laut dan ikan tertarik pada plastik karena baunya.

Secara khusus, plastik mengeluarkan dimethyl sulfide (DMS), senyawa yang dikenal menarik burung mencari mangsa.

Pada dasarnya, ganggang tumbuh di plastik mengambang, dan ketika ganggang tersebut dimakan oleh kril - sumber makanan laut utama - ia melepaskan DMS, menarik burung dan ikan yang kemudian mengunyah plastik, bukan kril yang sebenarnya mereka cari.

Bahkan untuk penglihatan, kita tidak bisa langsung mengambil kesimpulan ketika mempertimbangkan daya tarik plastik.

Seperti manusia, kura-kura laut sangat bergantung pada penglihatan mereka untuk mencari makanan.

Namun, mereka juga dianggap memiliki kemampuan untuk melihat sinar UV, membuat penglihatan mereka sangat berbeda dari kita.

Qamar Schuyler dari The University of Queensland, Australia, mendalami isi kepala penyu dengan memodelkan kemampuan visual mereka dan kemudian mengukur karakteristik visual dari plastik saat penyy melihatnya.

Dia juga memeriksa isi perut penyu yang sudah mati untuk mengerti plastik pilihan mereka.

Kesimpulannya adalah bahwa meski penyu muda relatif tidak pandang bulu, penyu yang lebih tua lebih suka mengincar plastik yang lunak dan tembus cahaya.

Schuyler berpendapat bahwa hasilnya menegaskan gagasan lama bahwa penyu salah mengira tas plastik dengan ubur-ubur yang lezat.

Warna juga dianggap sebagai faktor dalam konsumsi plastik, meskipun preferensi bervariasi antar spesies.

Penyu muda lebih menyukai plastik putih, sementara Schuyler dan koleganya menemukan bahwa burung laut yang disebut penggunting laut (shearwater) memilih plastik merah.

Selain penglihatan dan penciuman, ada indera lain yang digunakan binatang untuk mencari makanan.

Banyak hewan laut berburu dengan echolocation, terutama paus bergigi dan lumba-lumba.

Echolocation dikenal sangat sensitif, namun puluhan paus sperma dan paus bergigi lainnya ditemukan mati dengan perut penuh dengan kantong plastik, onderdil mobil dan detritus manusia lainnya.

Savoca mengatakan kemungkinan echolocation mereka salah mengidentifikasi benda-benda ini sebagai makanan.

"Ada kesalahpahaman bahwa hewan-hewan ini bodoh dan hanya makan plastik karena ada di sekitar mereka, tetapi itu tidak benar," kata Savoca.

Tragedi yang terjadi adalah bahwa semua hewan ini adalah pemburu dan penjelajah ulung, memiliki indera yang diasah oleh evolusi ribuan tahun untuk menargetkan apa yang sering menjadi jajaran mangsa yang sangat spesifik.

"Plastik baru ada selama sebagian kecil dari waktu itu," kata Schuyler.

Pada saat itu, mereka entah bagaimana memasukkan plastik ke kategori 'makanan'.

Plastik tidak hanya terlihat seperti makanan, baunya, rasanya, dan bahkan bunyinya terdengar seperti makanan.




Sampah kita datang dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna yang menarik bagi beragam hewan, dan inilah masalahnya.

Schuyler ingat seseorang bertanya, "mengapa kita tidak membuat semua plastik berwarna biru?", mengingat eksperimen menunjukkan warna ini kurang populer di kalangan penyu.

Tetapi penelitian lain menunjukkan bahwa untuk spesies lain, justru kebalikannya.

Jadi jika tidak ada solusi universal, tidak ada aspek plastik yang dapat kita ubah dengan mudah untuk mencegah hewan memakannya, lalu apa yang bisa kita ambil dari usaha kita masuk ke dalam pikiran pemakan plastik?

Savoca berharap kisah tragis seperti albatrosnya Attenborough akan membantu membalikkan perilaku konsumen terhadap plastik sekali pakai dan mendorong orang untuk berempati dengan hewan-hewan ini.

Pada akhirnya ini akan membantu memotong pasokan makanan sampah yang masuk ke lautan.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di BBC Earth dengan judul Why marine animals can't stop eating plastic




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed