DetikNews
Sabtu 12 Mei 2018, 13:49 WIB

Istri Ini Dihukum Mati karena Bunuh Suami saat Diperkosa

BBC World - detikNews
Istri Ini Dihukum Mati karena Bunuh Suami saat Diperkosa
Jakarta - Kaum perempuan muda di Sudan, menurut pengamat, dibesarkan dalam tata masyarakat patriarkal.

Pengadilan di Sudan menghukum mati seorang perempuan muda yang membunuh suaminya yang diduga memperkosanya, setelah keluarga suaminya menolak tawaran uang ganti rugi.

Hakim di Kota Omdurman membenarkan hukuman mati untuk Noura Hussein, yang saat diperkosa dipegangi oleh sejumlah saudara laki-laki suaminya.

Kelompok hak asasi manusia menyerukan agar putusan itu dibatalkan.

Noura Hussein, sekarang berusia 19 tahun, dipaksa menikah pada usia 16 tahun dan berusaha melarikan diri.

Dia dikatakan ingin menyelesaikan pendidikannya dan ingin belajar untuk menjadi guru.

Kasusnya menarik perhatian luas di media sosial, memunculkan kampanye yang disebut #JusticeforNoura yang sempat trending di Twitter.

Bagaimana pembunuhan itu terjadi?

Noura Hussein berlindung di rumah bibinya setelah melarikan diri dari perkawinan paksa, tetapi tiga tahun kemudian dia diperdaya untuk kembali ke rumah, dan keluarganya kemudian menyerahkannya kembali kepada suaminya.

Setelah enam hari, suaminya mendatangkan sejumlah sepupu yang menurut Noura memeganginya, sehingga memungkinkan suaminya melakukan seks secara paksa--memperkosanya.

https://twitter.com/yassmin_a/status/994606731299819520

Ketika pada hari berikutnya suaminya hendak melakukan pemerkosaan itu lagi, Noura melayangkan sebilah pisau dan menikam suaminya sampai mati.

Setelah itu, ia berlari menuju rumah orang tuanya, yang kemudian menyerahkannya kepada polisi.

Bulan lalu Pengadilan Syariah Sudan menyatakan Noura Hussein bersalah atas pembunuhan terencana, dan Kamis (10/5) pengadilan secara resmi menjatuhkan hukuman mati kepadanya dengan cara digantung, lapor kantor berita Reuters. Pengacaranya memiliki waktu 15 hari untuk mengajukan banding.

"Di bawah hukum syariah, keluarga suami dapat menuntut uang ganti rugi atau kematian balasan," kata Badr Eldin Salah, seorang aktivis dari Gerakan Pemuda Afrika, yang berada di pengadilan, kepada Reuters.

"Mereka memilih kematian dan sekarang hukuman mati telah dijatuhkan."

Apa yang dikatakan oleh kelompok hak asasi manusia?

Yasmeen Hassan dari Equality Now, Kesetaraan Sekarang, salah satu kelompok yang mengusahakan pembatalan hukuman, mengatakan kepada BBC News, bahwa putusan itu tidak mengejutkannya.

"Sudan adalah tempat yang sangat patriarkal dan norma-norma gender (yang mendiskriminasi perempuan) di sini sangat ditegakkan," katanya.

"Ini tempat anak perempuan diperbolehkan menikah pada usia 10 tahun, ada perwalian hukum pria atas perempuan, dan perempuan diperintahkan untuk berjalan lurus di garis sempit dan tidak boleh melanggar."

"Namun Noura adalah gadis yang maju, yang menginginkan pendidikannya dan ingin berbuat baik di dunia dan dia terjebak dalam situasi serta menjadi korban dari sistem ini."

Amnesty International mengatakan hukuman mati terhadap perempuan karena "membunuh suaminya yang memperkosanya sebagai pembelaan diri" adalah "kegagalan pihak berwenang dalam menangani perkawinan anak, perkawinan paksa dan perkosaan dalam pernikahan".

"Noura Hussein adalah korban dan hukuman terhadapnya adalah tindakan kekejaman," kata perwakilan Amnesty, Seif Magango.

"Pihak berwenang Sudan harus membatalkan hukuman yang sangat tidak adil ini dan memastikan bahwa Noura mendapatkan pengadilan ulang yang adil yang mempertimbangkan keadaan yang membuatnya terpaksa melakukan pembunuhan itu."




(nkn/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed