DetikNews
Jumat 23 Maret 2018, 15:50 WIB

Perlawanan Bawah Tanah Ala Toko Musik Bajakan di Arab Saudi

BBC Karangan Khas - detikNews
Perlawanan Bawah Tanah Ala Toko Musik Bajakan di Arab Saudi
Riyadh -

Arwa Haider pindah ke Arab Saudi ketika berusia 13 tahun. Dia ingat seperti apa rasanya menjadi remaja penggemar musik pop di tempat di mana musik dicibir.

Di akhir 2017, bintang hip-hop Amerika Serikat menggelar konser khusus laki-laki di Jeddah, Arab Saudi; penyanyi country Amerika Serikat Toby Keith awal tahun ini juga menjadi berita utama karena mengadakan konser serupa.

Pertunjukan-pertunjukan ini menandai suatu kemajuan penting di negara Teluk yang ketat, di mana musik rupanya dianggap "haram".

Rasanya seperti mimpi melihat klip Nelly yang tengah memanaskan suasana pesta yang terlarang bagi kaum perempuan; nyatanya, budaya pop telah lama berkuasa di kerajaan ini - dan penguasa pada 1980an adalah toko kaset bajakan di Saudi.

Pada musim gugur 1988, ibu saya, saudara perempuan saya yang berusia 7 tahun dan saya sendiri (berusia 13 tahun dan penyuka musik yang fanatik) pindah dari London ke Al-Khobar, di provinsi bagian timur Arab Saudi; kami bergabung dengan ayah, yang mulai bekerja di rumah sakit lokal.

Saya tidak yakin apa yang kami harapkan. Kedua orang tua saya yang berdarah Irak dan Muslim, keduanya bekerja sebagai dokter dan setara: tiba-tiba kesetaraan itu menguap.

Saya teringat sensasi sakit kepala di malam kedatangan kami: lalu lintas yang panas dan terik, tatapan yang tajam dan menghakimi dari orang-orang asing - dan tempat suci yang terasa aneh ketika ayah membawa kami ke toko kaset di King Khalid Street

Toko ini seperti toko-toko lain yang tidak terhitung banyaknya yang acap saya datangi selama kami di Saudi: unit mirip gubuk yang tanpa nama, dinding-dinding yang ditutupi oleh album-album kaset dari semua jenis genre.

Ini adalah kaset-kaset yang dijual secara gelap, atau bajakan, dan mereka memajang kaset-kaset lagu Barat terbaru untuk menutupi judul-judul katalog.

Saya selama ini sangat ingin mendengarkan album Pet Shop Boys, Introspective, tetapi di toko pertama itu, saya memilih rekaman dari Eurythmics dan aksi disko Italia yang aneh, Radiorama; soundtrack saya untuk rumah baru, sekolah baru dan peraturan baru.

Toko-toko kaset di Saudi memiliki aroma yang khas, aroma dari plastik gosong dan debu gurun. Kaset-kaset tersebut dijual di dalam tempat plastik tahan panas yang tebal: format yang ideal: vinyl dapat mengerut di bawah matahari, dan compact disc masih sangat jarang.

Kaset-kaset bajakan Saudi harganya sangat murah sekitar 10 riyal (kurang lebih Pound 1.50) masing-masing, dan karena mereka direkam pada pita C90 (lebih panjang dari album rata-rata), mereka sering menambahkan dengan lagu bonus dan remix yang belum pernah saya temukan di toko-toko Inggris.

Semuanya serba rahasia; tidak ada grafik penjualan, atau royalti yang dibayarkan pada para musisi - tetapi ada sesuatu yang meledak, karena toko-toko kaset bajakan bermunculan di setiap pusat perbelanjaan dan mall.

Mereka buka setiap hari, dan tutup saat waktu salat setiap hari, ketika azan dikumandangkan dari masjid-masjid di seluruh kota.

Toko-toko itu dikelola oleh laki-laki pendiam (selalu lebih ramah terhadap pelanggan laki-laki), dan mereka juga benar-benar diam karena memainkan musik pop di muka umum adalah perbuatan yang dilarang. Hal ini membuat mereka terasa jadi mitos: tempat dari keinginan yang tidak terucapkan

Namun budaya pop tetap berkembang dengan cepat di era sebelum internet - begitu suatu lagu hit meledak di Barat, akan memicu reaksi di Saudi.

Kami telah membacanya dari majalah-majalah impor yang mahal, Smash Hits dan New Musical Express (dengan semua foto yang telah diburamkan oleh badan sensor agama; karya seni album juga disensor dengan cara yang sama).

Kami akan menangkap siaran Bahraini radio, yang memutarkan tangga lagu-lagu Inggris (pesisir Al-Khobar dapat menerima siaran dari negara-negara Teluk yang tidak terlalu kaku).

Kami akan bergosip tentangnya di sekolah khusus anak-anak perempuan yang taat tempat saya bersekolah dengan teman-teman sekelas dari Mesir, India, Sudan, Lebanon dan Pakistan.

Dalam beberapa hari, lagu top itu akan dijiplak di Asia Timur atau Asia Tenggara (label bajakan terkemuka Thomsun dulu dibuat di Indonesia), dan dijual di toko kaset di Saudi, kadang-kadang dengan lembaran lirik yang tidak pas.

Saya akan menekan tombol play di Walkman atau pemutar kaset di mobil ayah saya, dan menikmati acid house; hip hop; rave, terjadi di belahan lain di dunia. Bahkan adik perempuan saya merasakan bahwa musik menghubungkan kami dengan kemerdekaan, sementara dalam kenyataannya kami tidak diizinkan melakukan banyak hal.

Sebagai orang dewasa, saya merasa beruntung dapat membeli musik dari seluruh dunia, namun berbelanja kaset bajakan di Saudi adalah pengalaman yang unik, baik atau buruknya.

Ada toko kaset favorit (label 747 tumpah ruah di dekat Corniche Al Khobar, di mana saya menemukan album New Order's Technique), dan satu toko yang membuat saya berharap tidak pernah mendatanginya (sebuah toko di Riyadh tempat orang asing melihat saya yang berumur 13 tahun dan mengenakan hijab, sebagai mangsa yang mudah).

Era modern telah menghapus tempat-tempat bajakan, membuatnya menjadi lebih seperti mitos. Pasar global Saudi membawa jaringan "megastore" menjual CD-CD resmi; platform digital membawa kenyamanan yang lebih bening, yang secara resmi didominasi oleh artis-artis dari Arab dan Transatlantik (Ed Sheeran laku keras di mana-mana).

Arab Saudi mendapatkan iTunes pada Desember 2012, dan layanan musik streaming Apple pada 2015.

Apa yang mungkin telah hilang dari toko-toko tua yang kusam itu adalah gemilau perlawanan bawah tanah. Kaset-kaset bajakan Saudi membuktikan bahwa musik adalah gaya hidup yang tidak dapat diperkirakan dan ditahan-tahan, bahkan di dalam kondisi yang penuh tekanan ketat.

Kembali ke sekolah saya, kami menyembunyikan kaset-kaset di bahwa papan lantai kelas kami yang sudah mulai keropos, untuk saling bertukar ketika para guru tidak melihat.

Saya menggoreskan wajah senyum acid house di atas meja, dan mencoretkan nama band favorit saya di langit-langit.

Ketika guru matematika kami melihatnya, dia memerintahkan saya naik ke atas meja, dan menghapus kata "Boys" dengan sebotol cairan penghapus.

Kemudian pelajaran dilanjutkan, dengan kata-kata "Pet Shop" di atas kepala-kepala kami.

Anda bisa membaca artikel aslinya Saudi Arabia's bootleg music shops atau artikel lainnya di BBC .




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed