DetikNews
Senin 19 Maret 2018, 16:15 WIB

Menolak Bungkam Soal Pemerkosaan di Kazakstan yang Konservatif

BBC Magazine - detikNews
Menolak Bungkam Soal Pemerkosaan di Kazakstan yang Konservatif
Astana -

Di masyarakat yang konservatif di Kazakstan, salah satu negara di Asia Tengah, banyak perempuan takut mengungkap pemerkosaan dan pelecehan seksual yang mereka alami.

Namun ada sebuah kampanye -yang digagas sebelum maraknya kampanye #MeToo belakangan ini- yang berupaya untuk mengajak agar para perempuan tersebut tidak bungkam terus.

Saina Raisova, salah seorang korban, menahan tangis saat mengenang satu hari ketika dia diperkosa oleh dua orang pria tahun lalu.

Perempuan berusia 26 tahun ini sampai melompat dari jendela di tingkat tiga untuk lari dari pemerkosanya itu hingga pangkal paha dan tumitnya patah.

Walau bertahan hidup, Saina mengatakan sejak pemerkosaan tersebut, yang pertama kali muncul di pikirannya adalah bunuh diri: "Saya pikir saya tidak akan bisa hidup dengan ini (pemerkosaan)".

Hidupnya kini masih dalam penderitaan dan tidak kalah menyiksa pula upayanya untuk mendapatkan keadilan.

Membicarakan kekerasan seksual dianggap sebagai hal yang memalukan bagi banyak orang Kazakstan dan kepada BBC, Saina, mengatakan ada tekanan kuat baginya untuk mendiamkan pemerkosaan yang dideritanya.

"Saya bukan hanya berjuang menghadapi aparat keamanan, namun juga dengan diri saya sendiri dan keluarga. Karena mereka kaget. Mereka tidak memahaminya."

"Kenapa Anda harus mengungkapkan ke umum' kata mereka. Serahkan kepada Allah. Dia akan menghukum," Saina mengulang komentar orang atas kasusnya.

"Orang tua saya ingin saya sepenuhnya menutupi ini, karena menjadi stigma besar bagi mereka."

Yelena IvanovaYelena Ivanova, yang berusia 19 tahun, juga melakukan hal yang tidak biasa dengan melaporkan dugaan pemerkosaan kepada polisi. (BBC)

Tahun lalu, setelah melihat gugatan yang diajukannya bergerak lambat dan khawatir pemerkosanya bebas dari hukuman, Saina memutuskan untuk mengungkap pemerkosaan yang dia alami ke khalayak umum.

Bulan Januari, pengadilan akhirnya mengganjar hukuman 10 tahun penjara kepada salah seorang pemerkosanya, sedang satu pelaku lainnya masih buron.

"Banyak yang menyalahkan korban, bukan penjahatnya. Mereka mengatakan 'Kau seharusnya tidak pergi, kau seharusnya tidak mau (bertemu), kau toh sudah memiliki yang kau inginkan'," tutur Saina, yang bergabung dengan gerakan 'jangan berdiam'.

Kelompok itu berupaya membantu agar suara korban kekerasan seksual didengar.

Sejak didirikan tahun 2016 lalu, gerakan itu sudah membantu 19 perempuan untuk membawa kasusnya ke pengadilan dan dalam waktu setahun, tagar #KZ (yang artinya 'jangan berdiam' sudah digunakan hampir 100.000 kali di internet.

Dina Smailova, seorang mantan produser pertunjukan musik anak adalah pendiri 'jangan berdiam' yang mengungkapkan penderitaannya di Facebook: diperkosa ketika berusia 20 tahun.

Pesannya itu memicu sejumlah tanggapan di media sosial, mulai dari yang berbagi pengalaman buruknya, menawarkan bantuan, maupun yang menyerukan aksi bersama.

Namun menurut Dina, tujuan utama dari gerakan tersebut adalah berupaya untuk mengubah sikap: "Masyarakat yang menerapkan konsep memalukan, korban selalu kotor, bukan pemerkosanya'"

"Kami mengatakan tidak memalukan jika diperkosa, tapi menjadi pemerkosa yang memalukan. Itulah sebabnya kenapa kami tampil ke depan umum memperlihatkan wajah kami dan mengatakan bahwa kami tidak malu. Mereka yang seharusnya malu."

Menurut Komisi Statistik Hukum, tercatat 2.250 kasus kekerasan seksual di Kazakstan pada tahun 2017 lalu namun para pegiat berpendapat angka itu tidak mencerminkan situasi sesungguhnya karena sebagian besar korban tidak melaporkan kasusnya ke polisi.

Untuk mengubah sikap masyarakat, gerakan 'jangan berdiam' menggelar berbagai seminar dengan tujuan meningkatkan kesadaran di kalangan para pelajar maupun aparat penegak hukum di samping mengatur pertemuan-pertemuan untuk para korban agar berbagi penderitaan.

Salah seorang korban yang berusia 19 tahun, Yelena Ivanova, untuk pertama kali mengungkapkan pemerkosaan yang dialaminya di salah satu acara yang digelar oleh gerakan 'jangan berdiam'.

Dalam pertemuan tahun lalu tersebut, dia memegang mikropon dan berdiri di depan para hadirin untuk mengungkap penderitaannya, yang disela dengan beberapa kali isak tangis.

"Saya mengalaminya... pelecehan dan pemerkosaan," tuturnya dengan suaranya lemah yang memecah kesunyian. Beberapa hadirin menghapus air mata ketika mendengar kisahnya.

Walau membicarakan pemerkosaan secara terbuka merupakan tabu, Yelena merasa tidak punya pilihan lain.

"Jika Anda tidak berdiam, maka orang-orang melihat bahwa Anda sedang memperjuangkan kebenaran. Dan ketika orang bergabung, saya merasa lebih aman karena tahun bahwa saya tidak sendirian dalam perjuangan saya," jelasnya kepada BBC.

Gerakan 'jangan berdiam' juga melakukan lobi-lobi untuk undang-undang yang lebih melindungi korban kekerasan seksual.

Berdasarkan UU saat ini, kasus kekerasan seksual bisa ditutup jika kedua pihak berdamai dan kekerasannya tidak dianggap sebagai 'serangan parah', seperti pemerkosaan dalam jangka waktu panjang atau pemerkosaan berkelompok.

Namun para pengkritik UU mengatakan korban berada dalam tekanan besar untuk menerima ganti rugi keuangan agar berdamai dengan penyerangnya. Tekanan itu bisa datang dari keluarga korban sendiri maupun aparat penegak hukum dan pengacara.

Dan upaya perdamaian tersebut menciptakan semacam perasaan 'kebal hukum'.

Itulah sebabnya Dina mengakui bahwa untuk mengubah sikap masyarakat maka UU perlu untuk diubah lebih dulu: "Hukuman seharusnya tidak bisa dihindari dan pemerkosa tahu bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan kejahatannya."




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed