Warga Suriah Bertaruh Nyawa Selamatkan Diri dari Serangan Ganda

BBC World - detikNews
Jumat, 16 Mar 2018 18:13 WIB
Damaskus - Penduduk Afrin Warga dari kota Afrin menempuh perjalanan melewati perbukitan untuk menyelamatkan diri dari pertempuran. (AFP)

Sekitar 50.000 warga Suriah melarikan diri dari operasi militer terhadap pasukan pemberontak di Ghouta Timur -yang digempur pasukan Suriah- dan Afrin yang diserang oleh pasukan Turki.

Menurut organisasi pemantau Suriah yang berkantor di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights, sekitar 30.000 orang menyelamatkan diri dari Afrin di Suriah utara. Tujuan mereka adalah desa-desa yang dikendalikan oleh pasukan pemerintah Suriah.

Ratusan kepala keluarga meninggalkan Afrin Kamis malam (15/03) di tengah gempuran dari tentara Turki yang diarahkan untuk menghancurkan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi. Kelompok milisi ini oleh Turki dianggap sebagai perpanjangan tangan dari pemberontak Kurdi di wilayah Turki.

Afrin Asap tampak membumbung dari Afrin pada Kamis (16/03). (AFP)

Dalam serangan pada Rabu malam, setidaknya 18 warga sipil meninggal dunia akibat serangan Turki.

Sebagian besar penduduk Afrin adalah etnik Kurdi dan kota tersebut digempur lewat darat maupun udara oleh pasukan Turki serta sekutu-sekutunya di Suriah.

Ghouta Timur

Pergerakan penduduk juga terjadi di Ghouta Timur di pinggiran ibu kota Suriah, Damaskus. Sekitar 20.000 orang menyelamatkan diri dari kawasan yang digempur oleh pasukan Suriah untuk melumpuhkan kelompok pemberontak di sana.

Pasukan-pasukan propemerintah diyakini berhasil menguasai kembali 70% wilayah Ghouta Timur setelah berlangsung pertempuran sengit selama tiga minggu terakhir.

Warga di Ghouta Timur Warga sipil menggunakan wilayah yang dikuasai pasukan pemerintah untuk menyelamatkan diri dari Ghouta Timur. (AFP)

Di tengah serangan itu, 25 truk pembawa bantuan makanan berhasil memasuki Douma di Ghouta Timur, tetapi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan bantuan itu hanyalah sebagian kecil dari jumlah yang sejatinya diperlukan.

Setelah kunjungannya ke Ghouta Timur, presiden ICRC Peter Maurer menuturkan bahwa warga di sana sangat lelah mengalami pertempuran dan kekurangan makanan serta obat-obatan.

"Mungkin saya akan mengenang seorang anak laki-laki yang mendekati saya di dekat jalan-jalan di Ghouta Timur dan bertanya apakah saya mempunyai sebotol kecil air minum yang menggambarkan betapa buruk situasinya," paparnya.

"Di banyak tempat di dunia dalam situasi-situasi seperti yang saya saksikan di Ghouta Timur, biasanya lebih banyak permen yang diminta. Di sini, keperluan pokok."

Pergerakan massa penduduk dari Ghouta Timur dan Afrin terjadi ketika perang di Suriah sudah berlangsung selama tujuh tahun yang telah memaksa 12 juta jiwa menyelamatkan diri dari rumah-rumah mereka.

Setidaknya 6,1 juta jiwa menjadi pengungsi dalam negeri sementara sekitar 5,6 juta orang mencari perlindungan di luar Suriah.

(ita/ita)