DetikNews
Senin 12 Maret 2018, 19:22 WIB

Korut Belum Merespons Rencana Pertemuan dengan AS

BBC World - detikNews
Korut Belum Merespons Rencana Pertemuan dengan AS
Seoul -

Korea Selatan mengatakan belum menerima respons dari Pyongyang terkait pertemuan antara pemimpin Korea Utara dan Presiden AS Donald Trump.

Secara mengejutkan Trump menerima tawaran Korea Utara untuk melakukan pertemuan langsung. Pejabat Korea Selatan mengatakan Kim siap untuk melepaskan senjata nuklirnya.

Namun rincian mengenai rencana pembicaraan masih belum jelas, tanpa ada kepastian tentang lokasi atau agenda.

Analis merasa skeptis tentang apa yang dapat dicapai dalam pembicaraan tersebut mengingat isu yang sangat kompleks.

"Kami tidak melihat ataupun menerima respons resmi dari rezim Korea Utara mengenai pertemuan Korea Utara-AS," jelas seorang juru bicara dari Kementerian Unifikasi Korea Selatan pada Senin (12/3).

"Saya merasa mereka melakukan pendekatan yang hati-hati terhadap masalah ini dan mereka butuh waktu untuk mengatur sikap mereka."

Pejabat Korea Selatan berkunjung ke China untuk membicarakan pertemuan dengan mitranya di Beijing, yang dianggap sebagai pendukung terakhir dari rezim Korea Utara.

Kemudian mereka akan ke Jepang, yang seperti AS telah berulangkali terancam oleh Pyongyang.

Korea Utara
Amerika Serikat berulang kali menyatakan Korea Utara untuk hentikan program senjata nuklirnya. (AFP)


Tawaran pertemuan puncak yang mengejutkan itu terjadi setelah lebih dari setahun kedua pemimpin Korea Utara dan AS mengeluarkan retorika yang saling menghina, yang menimbulkan kekhawatiran global akan meningkatkan ketegangan menjadi konfrontasi militer.

Korea Utara telah melancarkan sejumlah uji coba nuklir selama setahun terakhir dan mengembangkan rudal jarak jauh, yang disebutnya dapat membawa bom nuklir sampai ke wilayah daratan AS.

Pertemuan presiden AS dan pemimpin Korea Utara belum pernah terjadi sebelumnya.

Tetap saja, rincian pertemuan masih belum jelas.

"Pyongyang mungkin ingin melihat dan menunggu bagaimana tawaran tersebut diterima Washington," kata Andray Abrahamian, Peneliti di Pacific Forum CSIS, kepada BBC.

"Ada sedikit kebingungan dalam membaca pesan dari Gedung Putih jadi mungkin masuk akal untuk membuat sejumlah peraturan mendasar sebelum menyampaikannya kepada publik," jelas Abrahamian.

Sanksi dicabut


Jika pertemuan terjadi, Trump diperkirakan akan bertemu dengan pemimpin Korea Utara pada akhir Mei, sementara dua Korea akan melakukan pembicaraan terpisah sebelumnya.

Para pengamat memiliki pendapat yang berbeda mengenai apakah pembicaraan akan memuluskan jalan bagi Pyongyang melepaskan ambisi nuklirnya atau apakah Korea Utara berupaya meraih kemenangan propaganda dan memperoleh kelonggaran dari sanksi internasional yang telah berlangsung selama beberapa tahun.

"Tujuan jangka pendek mereka akan mendapatkan kelonggaran dari sanksi," jelas Abrahamin.

"Banyak pakar tampak kesal bahwa Kim Jong-un akan menggunakan sebuah pertemuan puncak untuk propaganda. Ini seharusnya tidak menjadi perhatian besar.. (Itu) tidak berarti bahwa Amerika Serikat memberikan persetujuan terhadap sistem politiknya, catatan HAK atau program senjata," tambah dia.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed