DetikNews
Kamis 08 Maret 2018, 15:29 WIB

Ancaman Hidup dan Mati Pemain Timnas Sepakbola Wanita Afghanistan

BBC Magazine - detikNews
Ancaman Hidup dan Mati Pemain Timnas Sepakbola Wanita Afghanistan
Kabul -

Diludahi, dilempari batu di jalan, dan harus menghindari berbagai pemboman sekadar dalam perjalanan untuk latihan: semua cuma karena mereka ingin bermain sepak bola.

Itulah kenyataan yang dihadapi sejumlah anggota tim nasional sepakbola perempuan Afghanistan.

Karena masalah keamanan itu pula, pelatih mereka -mantan pemain nasional AS Kelly Lindsey - hingga saat ini belum pernah menginjakkan kaki di Afghanistan.

Sejumlah pemain bahkan belum pernah bermain sepak bola lengkap dengan 11 pemain sebelum mereka bergabung dengan skuad nasional yang dibentuk pada 2010.

Namun, dalam dua tahun sejak ditangani Lindsey, Afghanistan meningkat dari urutan 128 peringkat FIFA menjadi peringkat ke-106.

Kemajuan itu dicapai terlepas dari sifat 'unik' tim ini karena semua pertandingan dan kamp pelatihan harus diadakan di luar negeri demi alasan keamanan.

'Ini soal hidup dan mati bagi gadis-gadis itu'

Skuad ini adalah gabungan pemain dari diaspora Afghanistan di seluruh dunia dan mereka yang masih tinggal di Afghanistan.

Mereka yang hidup di Australia, Eropa dan Amerika Utara bisa berlatih dengan normal. Mereka pun memiliki teladan dan sosok perempuan ideal: ibu mereka, yang banyak di antaranya yang beremigrasi bersama anak-anak ketika suami mereka terbunuh dalam peperangan dan kekerasan di negeri mereka.

Lain halnya dengan para pemain yang masih tinggal di Afghanistan, yang selalu menghadapi berbagai ancaman kekerasan. Mereka dianggap bisa merusak martabat dan reputasi keluarga, serta dituding bertentangan dengan budaya Afghanistan.

"Tidak mudah bagi kami untuk melakukan latihan," kata Lindsey, 38, kepada program BBC World Football. "Mereka diludahi, mereka dilempari batu, terjadi pemboman dalam perjalanan."

"Penting bagi kalangan perempuan di dunia luar untuk memahami, bahwa ini sesuatu yang nyata, bukan dongengan belaka. Gadis-gadis ini mengalaminya setiap hari."

Sebuah studi BBC baru-baru ini menemukan bahwa kelompok bersenjata Taliban aktif secara terbuka di 70% wilayah Afghanistan, dan secara langsung mempengaruhi kehidupan 15 juta orang - setengah penduduk negeri.

Hal itu mengancam kebebasan perempuan yang dinikmati di Afghanistan sejak rezim tersebut digulingkan pada 2001.

"Jika seorang perempuan bermain sepak bola, maka ayahnya, saudaranya, pelatihnya, ibunya, dihakimi oleh masyarakat sekitar," kata Lindsey.

"Khalida Popal, direktur program kami ... kakaknya ditikam sampai hampir mati karena mengizinkan adik perempuannya bermain bola."

"Sungguh menakjubkan bagi saya bahwa setelah apa yang mereka alami setiap hari, mereka tetap saja ingin bermain sepakbola."

"Tampil terbuka menjadi sorotan semua orang, dan dengan ancaman Taliban - ini urusan hidup dan mati bagi gadis-gadis itu."

"Saya berulang kali bertanya pada diri sendiri: 'Apakah saya bersedia mati demi bisa bermain sepak bola?' Saya memuji mereka setiap hari bahwa mereka datang berlatih dan bahwa sepak bola berarti dalam kehidupan mereka di tengah situasi yang begitu kacau balau."

"Belum pernah main di lapangan ukuran penuh '

Tugas Lindsey sama sekali tidak mudah.

Dengan kamp pelatihan yang berada di luar Afghanistan, praktis dia melatih jarak jauh - melalui telepon dan email.

Sepak bola perempuan Afghanistan dalam pertandingan persahabatan melawan tim Pasukan Keamanan Intrnasional yang dipimpin NATO di Kabul, tahun 2010. Tim Afghan menang 1-0. Sepak bola perempuan Afghanistan dalam rintisan sejumlah pemain amatir yang tampil dalam pertandingan persahabatan melawan tim Pasukan Keamanan Intrnasional yang dipimpin NATO di Kabul, tahun 2010. (Majid Saeedi/Getty Images)


TimAfghan menang 1-0.

Sejumlah pemainnya bahkan ada yang belum pernah menginjak lapangan ukuran penuh sebelum bergabung dengan skuad untuk pertandingan persahabatan awal bulan ini melawan Yordania, saat mereka kalah 5-0 dan 6-0.

"Kami bertemu setiap dua minggu di telepon untuk mendiskusikan latihan, nutrisi, apa yang terjadi dengan tim, apa yang mereka sudah berhasil dan apa yang mereka kesulitan - di dalam dan di luar luar lapangan.

"Kami mengirimkan video, materi latihan, dan Powerpoint berisi taktik untuk mereka pelajari sehingga ketika mereka datang ke kamp pelatihan mereka tahu apa yang ingin kami lakukan sebagai sebuah tim."

Ketika mereka bertemu, Lindsey harus segera melatih hingga hal mendasar.

"Setiap kali yang datang ke kamp pelatihan adalah kelompok perempuan yang berbeda-beda," katanya.

"Kami tidak selalu mendapatkan orang yang sama, jadi kami harus selalu mengajarkan lagi permainan 11-11: posisi, peran, tanggung jawab - yang menurut saya oleh kebanyakan pelatih nasional dianggap sudah merupakan hal yang diketahui semua pemain.

"Saya menghargai pemain yang hidup di luar Afghanistan karena menghormati apa yang ingin kami lakukan, dan tidak merasa frustrasi dengan kami karena harus kembali mengulang-ngulang dari dasar."

'Pada hari kita lolos, dunia akan tahu sepak bola perempuan telah berubah'

Afghanistan belum lagi lolos ke turnamen besar pertama mereka, namun tim tersebut relatif masih dalam masa pertumbuhan.

Dan 'misi' mereka - seperti yang digambarkan Lindsey - lebih dari sekadar memenangkan pertandingan sepak bola.

"Semua gadis bermain dengan penuh semangat dan gairah untuk kebanggaan bangsa mereka. Meski kebanyakan tim nasional lain juga punya semangat yang sama, gadis-gadis ini mengetahui benar tantangan yang mereka hadapi, keutuhan yang mereka sungguh butuhkan, dan masa depan yang mereka songsong bagi para gadis muda di seluruh dunia. Semoga saja."

Lindsey mengatakan ambisi utama mereka adalah lolos ke Piala Dunia - namun Afghanistan masih berada di luar peringkat 100 FIFA dan tak banyak teladan untuk menginspirasi mereka.

Tuan rumah Yordania akan menjadi satu-satunya negara Islam di kejuaraan sepakbola perempuan Piala Asia, April nanti, yang sekaligus berfungsi sebagai kualifikasi untuk Piala Dunia 2019.

anak-anak afghan Sejumlah anak perempuan Afghan bermain bola, tahun 2011 -tak jelas adakah yang benar-benar menjadi pemain sepak bola dan tergabung dalam timnas yang sedang dibangun ini. (ADEK BERRY/AFP/Getty Images)

Dengan pelatihan tim nasional Afghanistan berlangsung dengan tetap separuh pengenalan tim dan separuh pelatihan bertanding, wajar saja kalau perkembangan mereka akan merayap lambat.

Dan sekarang, Lindsey tidak akan berjumpa lagi dengan pemainnya sampai Juni nanti, saat mereka melakukan tur ke Jepang. Tapi toh ambisinya besar.

"Kami sedang berusaha membangun tim ini untuk bisa kompetitif, agar bisa lolos ke Piala Dunia," katanya. "Bila itu akan terjadi, tugas saya tunai."

"Banyak hal yang harus dikerjakan - tapi satu-satunya cara yang bisa kami lakukan adalah bermain sebaik-baiknya dan melihat di mana kita berdiri.

"Hari ketika kami lolos ke Piala Dunia, dunia akan tahu bahwa sepak bola perempuan telah berubah."




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed