Ketua DPR AS Paul Ryan mengatakan dampak perang dagang dapat merusak pencapaian ekonomi.
"Kami sangat khawatir dengan konsekuensi perang dagang dan mendesak Gedung Putih untuk tidak melanjutkan rencana ini," kata juru bicara AshLee Strong, juru bicara Paul Ryan
"Undang-undang reformasi pajak yang baru telah mendorong ekonomi dan kita tentu tidak ingin membahayakan pencapaian tersebut."
- Cina ancam pembalasan jika Trump lancarkan perang dagang
- Cina, Rusia desak Amerika Serikat tinggalkan 'mentalitas Perang Dingin'
- Cina dan AS capai 10 poin kesepakatan perdagangan
Namun Trump, sejam setelah itu, menepiskan kecemasan soal perang dagang.
"Kami tidak mundur," katanya kepada wartawan di Gedung Putih usai bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. "Saya kira tidak akan ada perang dagang," katanya.
Sebelumnya, sekretaris pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan bahwa Presiden Trump "sangat yakin" AS akan memenangkan perang dagang apapun.
Baja dan aluminium adalah sasaran utama tarif bea masuk Trump. (Getty Images)Pekan lalu, Trump mengumumkan akan memajaki baja dan aluminium impor, yang memancing berbagai reaksi dunia.
Senin kemarin, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyerukan negara-negara anggota untuk "mencegah jatuhnya domino pertama" perang dagang.
"Begitu kita mulai menempuh jalan ini, akan sangat sulit untuk membalikkan arah," kata Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo kepada para perunding di Jenewa. "Mata dibayar mata akan membuat kita semua buta dan dunia kan terpuruk dalam resesi yang dalam."
Banyak yang mencemaskan, kebijakan baru ini akan mengancam lapangan kerja di AS. (AFP/Getty Images)Apa mauTrump dan mengapa?
Sebelumnya pada hari Senin, Trump mengisyaratkan bahwa jika AS mencapai kesepakatan yang lebih baik dalam Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (Nafta), dia akan membatalkan rencana pengenaan tarif kepada negara-negara tetangga AS.
Pajak baru itu bisa tak diberlakukan untuk Kanada dan Meksiko jika mereka menandatangani sebuah perjanjian yang "baru dan adil", katanya.
- Trump menghadang penjualan perusahaan teknologi AS ke Cina
- 'Gurita bisnis' Trump, dari Bogor hingga Buenos Aires
- Donald Trump di APEC: "Indonesia berhasil bangkit dari kemiskinan"
Putaran pembicaraan Nafta saat ini, yang berfokus pada pembaruan perjanjian berusia 24 tahun tersebut, berakhir pada hari Senin malam (Selasa pagi WIB) dan hanya sedikit yang sudah dicapai.
Dalam berbagai retorikanya Trump mengeluhkan defisit perdagangan AS dengan negara-negara lain, yang menurutnya diakibatkan oleh kesepakatan dan kebijakan perdagangan 'yang sangat bodoh'.
https://twitter.com/realDonaldTrump/status/970451373681790978
Pada hari Kamis lalu, dia mengatakan impor baja akan dikenakan tarif 25% dan aluminium dikenakan 10%.
Dua hari kemudian, ia juga mengeluarkan ancaman terhadap mobil-mobil buatan UE, yang diulanginya dalam pertemuan dengan Perdana menteri Israel pada hari Senin.
"Mereka menerapkan hambatan perdagangan yang lebih buruk daripada tarif. Mereka memberlakukan tarif juga, tapi mereka memberlakukan hambatan perdagangan yang jauh lebih buruk daripada tarif bea masuk."
"Dan jika mereka ingin macam-macam, tinggal kita kenakan pajak saja atas mobil-mobil mereka yang dikirim ke sini seperti air bah," tegasnya.
https://twitter.com/realDonaldTrump/status/969991653393039361
Bagaimana sikap Partai Republik?Begitu banyak anggota Partai Republik mempertanyakan usulan pemberlakuan tarif itu dan mendesak Presiden untuk mempertimbangkannya lagi.
Banyak yang menganggap bahwa dampak UU pemotongan pajak yang disahkan awal tahun ini akan jadi tak berarti karena harga logam akan naik, dan barang-barang AS bisa dikenakan tarif bea masuk baru pula oleh berbagai negara seluruh dunia.
Senator Orrin Hatch mengatakan bahwa kebijakan itu justru akan membuat warga Amerika yang akan harus membayar lebih. Menurutnya tindakan "Presiden Trump akan dengan jelas memangkas manfaat yang diperoleh dari reformasi pajak pro-pertumbuhan yang telah kita perjuangkan selama ini".
Senator Ben Sasse sepakat bahwa "proteksionisme abad ke 18 akan mendongkrak harga yang membebani keluarga-keluarga Amerika".
Januari lalu, para perwakilan dari Kanada, Meksiko dan AS bertemu membahas kesepakatan Nafta. (Getty Images)SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara dengan CNN, penasihat ekonomi Gedung Putih Peter Navarro menepiskan besarnya jumlah anggota Partai Republik yang menentang rencana kebijakan tarif Trump.
"Sudah jelas: Dia mengungguli mereka," kata Navarro, mengacu pada hasil pemilihan umum 2016.
Dia menambahkan bahwa kaum Republikan "keliru besar ihwal ekonomi".
Lembaga-lembaga industri seperti Asosiasi Produsen Peralatan Motor AS menyatakan keprihatinan mendalam.
Bagaimana reaksi Uni Eropa?Jeans Levi's dan bourbon bisa terpukul pajak impor 25% oleh Uni Eropa jika Trump memberlakukan tarif pada baja dan aluminium Eropa.
Cecilia Malmstrm, Komisioner Perdagangan UE, mengatakan kepada BBC bahwa produk-produk tersebut ada dalam daftar draf barang AS yang bisa dikenakan pajak.
Malmstrm mengatakan kepada BBC: "Kami mengkaji kemungkinan untuk melakukan pembalasan, artinya kami juga akan memberlakukan pajak atau tarif impor AS ke Uni Eropa."
(ita/ita)










































