DetikNews
Rabu 21 Februari 2018, 10:06 WIB

Trump Larang Penggunaan Peranti Senjata Api Bump-Stock

BBC World - detikNews
Trump Larang Penggunaan Peranti Senjata Api Bump-Stock Trump menyatakan dirinya telah memerintahkan Departemen Kehakiman untuk mengajukan aturan yang menjadikan pembelian dan penjualan bump-stock ilegal. (Getty Images)
Washington - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menandatangani perintah larangan peranti senjata api bernama bump-stock yang mengubah kemampuan senapan semi-otomatis menjadi seperti senapan otomatis.

Berbicara di Gedung Putih, Trump menyatakan dirinya telah memerintahkan Departemen Kehakiman untuk mengajukan aturan yang menjadikan pembelian dan penjualan bump-stock ilegal.

"Kami harus berbuat lebih banyak untuk melindungi anak-anak kita," ujar Trump, seraya menambahkan dirinya akan membahas keamanan sekolah pekan ini.

Pekan lalu, seorang remaja berusia 19 tahun menembak mati 17 orang di sebuah SMA di Florida.

Insiden ini memicu unjuk rasa menuntut pengetatan hak membawa senjata api.

Para peserta demonstrasi, yang terdiri dari para pelajar beserta orang tua mereka, meneriakkan slogan 'Anda memalukan' terhadap Presiden AS Donald Trump dan sejumlah politisi.

Salah seorang penyintas bahkan memaparkan bagaimana Trump dan sejumlah politisi menerima sumbangan uang dari Asosiasi Senjata Nasional (NRA), sebuah organisasi yang mendorong hak bersenjata bagi rakyat AS.

Bump stock
Bump stock meningkatkan kemampuan senapan semi-otomatis. (Getty Images)


Apa yang dimaksuddenganbump-stock?

Intinya, bump-stock adalah aksesoris senjata api yang dapat meningkatkan kemampuan senapan semi-otomatis.

Alih-alih menekan pemicu setiap kali hendak menembak, seorang pengguna senapan semi-otomatis yang menggunakan bump-stock pada bagian popor senapan hanya menahan pemicu dengan jarinya sehingga peluru menyembur secara kontinyu seperti layaknya senapan otomatis.

Harga bump-stock berkisar US$100 atau Rp1,3 juta dan bisa dibeli tanpa melalui pemeriksaan latar belakang.

Aksesoris ini digunakan oleh pria pelaku penembakan di Las Vegas, pada Oktober tahun lalu, yang menewaskan 58 orang dan mencederai lebih dari 500 orang.

Hasil analisa audio menunjukkan bahwa sang pelaku, Stephen Paddock, mampu memuntahkan 90 peluru dalam 10 detik dari kamarnya di Mandalay Bay Resort and Casino.

Sejumlah pakar menilai Paddock, yang bunuh diri seusai melakukan serangan, tidak akan bisa menimbulkan korban sedemikian banyak tanpa penggunaan bump-stock.

Bukankah Kongres AS pernahhendakmelarangnya?

Sejumlah anggota parlemen, termasuk Ketua DPR, Paul Ryan, mengaku belum pernah mendengar aksesoris senjata api semacam itu sampai peristiwa penembakan di Las Vegas.

Sesaat setelah insiden tersebut, baik kubu Demokrat maupun Republik sepakat bahwa penjualan bump-stock harus dilarang.

November lalu, Senator Demokrat, Dianne Feinstein, berinisiatif mengajukan aturan larangan bump-stock dan peranti lainnya yang meningkatkan kemampuan senapan semi-otomatis.

Namun, langkah itu menemui jalan buntu.

Asosiasi Senapan Nasional (NRA) dan sejumlah anggota parlemen dari Partai Republik berkilah bahwa aturan semacam itu seharusnya disusun Badan Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak.

Di tingkat negara bagian, pengajuan larangan bump-stock mengalami hasil beragam, seperti di South Carolina, Illinois, Washington, dan Colorado.

grafis, senjata api, as
BBC


MungkinkahTrump mempertimbangkan rencana pengendalian senjata api lainnya?

Pada Selasa (20/02), Gedung Putih mengindikasikan terbuka pada gagasan pembatasan usia bagi pembelian senapan penyerbu jenis AR-15, sebagaimana yang digunakan dalam penembakan di Florida.

"Saya pikir itu jelas suatu bahan untuk kami bahas dan kami berharap mencapai hasilnya dalam dua pekan mendatang," kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders, ketika ditanya soal pembatasan usia.

Pada akhir pekan lalu, Trump menyatakan dirinya mendukung rancangan undang-undang bipartisan yang disusun untuk memperbaiki langkah pemeriksaan sebelum seseorang bisa membeli senjata api.

RUU itu dimaksudkan untuk menambal celah pada sistem pemeriksaan latar belakang kriminal FBI yang digunakan memproses 25 juta pengajuan hak memiliki senjata tahun lalu.

Beragam celah pada sistem itu terungkap setelah insiden penembakan di sebuah gereja di Texas tahun lalu dan penembakan di Florida, pekan lalu.

Pada penembakan di Florida, pelakunya diduga punya latar belakang gangguan mental dan perilaku.

[Gambas:Video 20detik]


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed