Kepala intelijen Jerman Bundesamts fr Verfassungsschutz (BfV) Hans-Georg Maassen mengatakan kepada NDR TV bahwa banyak dari kegiatan mereka yang bisa dihadang dan digagalkan, namun tidak semuanya terdeteksi.
Dia tidak mengatakan jenis teknologi apa yang didapat Korut, namun menegaskan semua itu dapat digunakan untuk tujuan sipil dan militer.
- Kisah pembelot Korea Utara yang muncul pada pidato kenegaraan Trump
- Menlu Jepang ingatkan dunia tidak naif tanggapi Korea Utara
- Donald Trump ke Kim Jong-un: Tombol nuklir saya lebih besar, lebih kuat, dan berfungsi
Korea Utara terus mengembangkan rudal dan senjata nuklir, kendati dikenakan berbagai sanksi internasional.
Sebuah laporan PBB mengatakan bahwa Korea Utara memperoleh hampir $200 juta (Pound 141 juta) tahun lalu dengan mengekspor komoditas yang dilarang, dan melibatkan beberapa negara seperti Cina, Rusia dan Malaysia.
"Kami mengamati bahwa banyak kegiatan pengadaan barang dilakukan dari kedutaan," kata Hans-Georg Maassen, pimpinan BfV, dalam sebuah wawancara yang disiarkan Senin ini.
"Dari sudut pandang kami, semua itu untuk program rudal, dan sebagian untuk program nuklir," tambahnya.
"Ketika kami memantau hal-hal seperti itu, kami menghentikannya. Tapi kami tidak dapat menjamin bahwa kami berhasil memergoki setiap usaha mereka dan menggagalkannya."
- Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un: 'tombol nuklir ada di meja saya'
- Rudal Korea Utara melesat 'lebih tinggi' dan 'bisa menghantam seluruh wilayah AS'
- Kim Jong-un bersama istri berkunjung ke pabrik kosmetik
Korea Utara belum menanggapi pernyataan Maassen.
Investigasi terpisah dari lembaga penyiaran umum Jerman ARD mengungkapkan bahwa badan intelijen Jerman pertama kali melihat tanda-tanda Korea Utara berusaha mendapatkan teknologi dan peralatan itu pada tahun 2016 dan 2017.
Sementara itu, panel ahli PBB telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa Korea Utara membantu Suriah untuk mengembangkan senjata kimia serta memberikan rudal balistik ke Myanmar.
(ita/ita)










































