Utusan khusus PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan terkuaknya lima kuburan massal yang belum pernah dilaporkan menunjukkan tanda-tanda genosida atau pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.
Bukti adanya lima kuburan massal baru dilaporkan oleh kantor berita Amerika Serikat, Associated Press (AP). Disebutkan pembunuhan massal kemungkinan terjadi dalam operasi militer pada akhir Agustus 2017 lalu di Desa Gu Dar Pyin, Buthidaung, Rakhine.
Rumah-rumah orang Rohingya, seperti di Maungdaw ini, dibakar bersamaan dengan operasi militer di Rakhine. (LYNN BO BO/EPA)Foto-foto citra satelit dan rekaman video menunjukkan bukti yang sama dengan kesaksian para warga desa yang berhasil melarikan diri ke negara tetangga Myanmar, Bangladesh.
Di dalam lima kuburan massal tersebut diperkirakan terdapat 400 jenazah.
"Ya, saya pikir penemuan ini merupakan bagian dari tanda-tanda adanya genosida dan kita harus melakukan penyelidikan," tegas utusan khusus PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, Kamis (01/02).
"Sebelum Myanmar dan rakyatnya dan transisi demokrasinya melangkah lebih jauh, saya pikir Myanmar perlu membersihkan bagasinya: Anda melakukannya, atau tidak? Dan jika mereka terbukti melakukannya, maka harus ada pertanggungjawaban dan akuntabilitas," tambahnya.
Foto 'cocok' dengan kesaksian wargaSebelumnya pemerintah Myanmar membantah semua laporan tentang pembunuhan massal dan menuding Rohingya sebagai pihak yang berada di belakang kekerasan.
Semula sebagian pengungsi Rohingya akan dipulangkan dari Bangladesh ke Myanmar akhir Januari, tetapi repatriasi ditunda. (MUNIR UZ ZAMAN/AFP)Namun ketika dimintai komentarnya tentang penemuan kuburan-kuburan massal baru ini, Menteri Besar Negara Bagian Rakhine, Tin Maung Swe, pihak berwenang akan menyelidiki penemuan itu.
"Kami baru saja mendengar berita ini dan meminta para pejabat setempat untuk mencari tahu dan mengecek benar atau tidak."
Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar oleh pemerintah Myanmar karena menganggapnya sebagai pengungsi gelap dari Bangladesh dan menyebut mereka dengan istilah lain, seperti orang Bengali.
- Presiden Jokowi akan ke kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh
- Kesepakatan pemulangan Muslim Rohingya, 300 pengungsi setiap hari
- Militer Myanmar pertama kalinya akui terlibat pembunuhan Muslim Rohingya
Wartawan AP, Foster Klug, menjelaskan kepada BBC bagaimana pihaknya mengindentifikasi kuburan massal dengan mencocokkan citra satelit dan rekaman video dengan kesaksian para warga.
"Kami menggalinya dengan mewawancarai sekitar 30 penduduk desa tentang deskripsi rinci dari kuburan-kuburan massal itu, lokasinya di desa, apa saja yang ada di dalamnya. Begitu kita mendapat keterangan rinci maka kita cocokkan dengan keterangan warga desa lain untuk memetakan lokasi kuburan-kuburan massal tersebut," papar Foster Klug.
Pengungsi Rohingya menaiki wilayah perbukitan untuk kembali ke kamp setelah mengambil air di Ukhia, Bangladesh. (MUNIR UZ ZAMAN/AFP)SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kemungkinan besar masih terdapat kuburan massal lain yang belum ditemukan di Rakhine. Lima kuburan massal ditemukan di Desa Gu Dar Pyin, Buthidaung.
Dari kawasan perkotaan kecil itu, ratusan ribu Muslim Rohingya terpaksa mencari perlindungan ke Bangladesh selama beberapa bulan terakhir.











































