Tak Lagi Jadi Presiden, Mugabe Masih Terima Gaji Penuh dan Tunjangan

BBC Magazine - detikNews
Kamis, 25 Jan 2018 09:33 WIB
Mugabe tak lagi menjadi presiden sejak November lalu tapi masih menerima gaji penuh dan tunjangan dari negara. (AFP)
Harare - Mantan presidenZimbabwe,RobertMugabe, ternyata masih menerima gaji, tunjangan layaknya presiden aktif dan bahkan masih punya fasilitas tiket perjalanan kelas satu yang kesemuanya ditanggung oleh pemerintah.

Mugabe dipaksa mundur pada November 2017 menyusul keputusannya memecat Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa, yang dianggap sebagai langkah yang membuka lebar-lebar pencalonan istri Mugabe sebagai presiden.

Zimbabwe kemudian dililit krisis yang berujung dengan lengsernya Mugabe, politisi yang berkuasa di Zimbabwe selama 37 tahun.

Mnangagwa yang ditunjuk menjadi presiden mengatakan bahwa gaji dan tunjangan untuk Mugabe memang tidak berubah.

Meski demikian, Mnangagwa memastikan tidak akan ada kekebalan hukum atau impunitas bagi Mugabe dan keluarganya, yang dikenal memiliki gaya hidup yang glamor.

"Tidak ada orang yang kebal dari proses hukum ... korupsi tidak akan kami tolerir," kata Mnangagwa dalam wawancara dengan wartawan BBC, Mishal Hussein, di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, hari Rabu (24/01).

Ia juga mengatakan mantan pejabat yang melarikan aset negara ke luar negeri diberi waktu tiga bulan untuk mengembalikan aset tersebut.

Beberapa di antaranya sudah mengembalikan aset yang tadinya disimpan di luar negeri, katanya,

Para analis mengatakan banyak pihak di Zimbabwe yang ingin aparat penegak hukum menyelidiki istri Mugabe, Grace, yang punya nama julukan 'Gucci Grace'.

Tapi, masih dalam wawancara ini, Mnangagwa mengatakan 'pemerintah Zimbabwe akan mengambil langkah apa saja untuk menjamin Mugabe dan keluarganya bisa hidup tenang'.

Presiden MnangagwaPresiden Mnangagwa mengatakan tidak ada orang yang kebal terhadap penuntutan hukum di Zimbabwe. (EPA)

Selain berbicara tentang masa depan Mugabe dan keluarganya, Mnangagwa juga menyinggung tentang pemilihan umum.

Ia menegaskan bahwa jika memang dirinya kalah, ia akan menerima hasil tersebut dengan lapang dada. "Jika kalah, ya sudah," katanya.

Ia menambahkan partai mana pun yang menang, partai itu pula yang akan berkuasa di Zimbabwe.

"Sekarang ini di Zimbabwe, kami terbuka dan transparan. Kami ingin menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil," kata Mnangagwa.

Ketika ditanya apakah dirinya membolehkan kehadiran para pemantau internasional, dengan setengah bercanda ia mengatakan itulah yang ia maksud dengan transparansi.

Selain mengizinkan pemantau internasional, Mnangagwa menegaskan ia ingin pemilu berjalan tanpa kekerasan.

Ia belum memutuskan kapan pemilu ini digelar namun memberi isyarat bahwa pemilu mungkin diselenggarakan sebelum Juli.

Mnangagwa, antara lain menghadapi tuduhan, bahwa ia berada di balik intimidasi dan kekerasan yang terjadi dalam beberapa pemilu lalu untuk membantu memenangkan partai yang berkuasa, ZANU-PF.



(ita/ita)