Eksekusi dengan hukuman gantung itu dilakukan Selasa (26/1) di penjara Borj al-Arab dan Wadi al-Natroun, tempat penahanan para terpidana selama ini.
Mereka terbukti membunuh tentara, merencanakan pembunuhan, dan menghancurkan kenderaan militer.
Hukuman gantung ini merupakan eksekusi massal pertama di Mesir sejak enam jihadis Islam yang digantung pada tahun 2015.
- Pembantaian di masjid Sinai, Mesir: 'Pelaku membawa bendera ISIS'
- Masjid di Mesir diserang saat salat Jumat, 235 meninggal, tak ada korban WNI
- Beredar video tentang tentara Mesir diduga membunuh dua tahanan Sinai
Sebagian besar dari 15 militan yang dieksekusi disebut berasal dari kawasan Sinai, yang bergabung dengan kelompok militan untuk merencanakan, melakukan, dan membantu pembunuhan aparat militer serta polisi di Sinai.
Dalam beberapa tahun belakangan, kawasan Semenanjung Sinai menghadapi peningkatan kekerasan oleh para jihadis -termasuk kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS- yang menyerang tentara, polisi, maupun hakim.
Bulan November, serangan militan atas Masjid Al-Rawda di Sinai Utara menewaskan sedikitnya 235 jiwa. (AFP)
Pekan lalu, ISIS menembak sebuah helikopter di bandara Sinai Utara dengan menggunakan rudal anti-tank, menewaskan seorang aparat militer dan melukai dua lainnya.
Bulan November, militan yang diduga pendukung ISIS mengebom dan menyerang dengan senjata api sebuah masjid di Sinai Utara sehingga jatuh korban mencapai 235 jiwa lebih.
Walau ada pelaku serangan di Masjid Al-Rawda itu yang membawa bendera ISIS, tidak ada pengakuan resmi dari kelompok tersebut.
Menanggapi serangan di masjid tersebut, Persiden Abdul Fattah al-Sisi memberi waktu tiba bulan bagi militer Mesir untuk menangani kekerasan di Sinai dengan instruksi menggunakan 'kekuatan keras'.
(nvc/nvc)










































