DetikNews
Senin 18 Desember 2017, 09:36 WIB

Erdogan Ingin Buka Kedubes Turki di Yerusalem Timur

BBC World - detikNews
Erdogan Ingin Buka Kedubes Turki di Yerusalem Timur Saat ini Turki -seperti negara-negara lain- memiliki kedutaan besar di Tel Aviv dan konsuler di Yerusalem. (EPA)
Ankara - Presiden Turki,RecepTayyipErdogan, mengungkapkan keinginan Turki akan segera bisa membuka Kedutaan Besar untuk negara Palestina di Yerusalem Timur.

Dalam pidatonya di depan anggota partai berkuasa, Partai AK -Minggu (17/12)- dia kembali mengecam Presiden Donald Trump yang menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pekan lalu, Turki menjadi tuan rumah KTT luar biasa Organisasi Konferensi Islam, OKI, untuk menanggapi keputusan Trump tersebut.

Para pemimpin Islam di KTT yang digelar di Istanbul tersebut mendesak dunia agar mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

"Karena berada di bawah pendudukan, kita tidak bisa pergi ke sana dan membuat kedutaan. Namun Insya Allah hari-hari itu semakin dekat dan... kita secara resmi akan membuka kedutaan di sana," katanya tanpa memberi kerangka waktu.

Turki memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan -sama seperti negara-negara lainnya- memiliki kedutaan besar di Tel Aviv.

Jakarta, Indonesia, Palestina
Unjuk rasa berlangsung di sejumlah tempat, termasuk Jakarta, menentang keputusan Presiden Trump terkait Yerusalem. (Getty Images)


Di Yerusalem, pemerintah Ankara memiliki kantor konsuler, sama seperti Amerika Serikat sebelum Presiden Trump menetapkan kota suci bagi tiga agama itu sebagai ibu kota Israel.

Saat mengungkapkan keinginan untuk membuka kedutaan di Yerusalem, Erdogan juga mengatakan bahwa Yahudi tidak punya hak untuk 'Yerusalem yang pantas, yang merupakan ibu kota Muslim'.

Turki, Erdogan,
Presiden Erdogan tidak menjelaskan kerangka waktu untuk keinginannya membuat kedutaan besar di Yerusalem bagi negara Palestina. (AFP)


Di Yerusalem Timur terdapat tempat suci bagi umat Yahudi, Kristen, dan Islam. Berdasarkan kesepakatan Oslo 1993 maka keputusan atas Yerusalem akan ditetapkan di kemudian hari pada tahap akhir perundingan damai Israel-Palestina.

Keputusan Trump dianggap berbagai pihak menghambat perundingan damai tersebut dan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, sudah menyerukan agar Amerika Serikat tidak diberi peran lagi dalam proses perundingan.

Presiden Erdogan menyambut baik seruan dari KTT OKI pada Rabu (13/12) lalu -yang dihadiri Presiden Joko Widodo- yang menurutnya memperlihatkan 'dunia kesatuan suara'.

Bagaimanapun pertemuan itu dinilai kurang bermakna karena tidak dihadiri oleh pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir, yang merupakan kekuatan penting di Timur Tengah dan juga sekutu Amerika Serikat.

Keputusan Trump menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu unjuk rasa di sejumlah negara, termasuk di Indonesia pada Minggu (17/12) yang dihadiri oleh pejabat pemerintah -seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan- dan anggota DPR.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed