DetikNews
Senin 13 November 2017, 14:01 WIB

Kapan Pendekatan dan Rayuan Berubah Jadi Pelecehan Seksual?

BBC Magazine - detikNews
Kapan Pendekatan dan Rayuan Berubah Jadi Pelecehan Seksual? Seorang pakar hubungan mengatakan jika Anda ingin memulai sebuah hubungan, lakukanlah pendekatan dengan cara-cara yang menyenangkan. (Getty Images)
Jakarta - Jika Anda membayangkan sebuah ketertarikan seksual, Anda pasti membayangkan sebuah pernyataan perasaan, lalu seorang pria yang berlutut diikuti saling berkirim pesan singkat yang berisi rayuan atau pendekatan.

Jika hal itu datang dari orang yang tepat pada waktu yang tepat, maka hal-hal seperti itu bisa membuat Anda bahagia.

Namun bila itu datang dari orang yang salah atau pada waktu yang keliru, pesan singkat yang berisi rayuan bisa berubah menjadi hal yang menakutkan, dan sentuhan yang tidak diinginkan bisa membuat Anda merasa tidak nyaman dan malu.

Seiring dengan bertambahnya jumlah perempuan yang mengaku dilecehkan oleh produser film Hollywood Harvey Weinstein, kaum perempuan di seluruh dunia pun lantang bersuara di media sosial tentang pengalaman mereka yang mengalami pelecehan seksual dengan tagar #metoo di Twitter.

Weinstein memang menggunakan pengaruhnya, yang mampu mencetak ataupun menghancurkan karir para korbannya, namun tindakan pelecehan yang dia lakukan bisa membuatnya hengkang dari karirnya.

Kemudian muncul brbagai tuduhan pelecehan dan perkosaan lain. Misalnya terhadap aktor Steven Seagal, dan banyak pembuat film lain. Juga terhadap Kevin Spacey.

Dalam banyak perdebatan, pertanyaan tentang bagaimana kita mendefinisikan pelecehan seksual seringkali tidak terlalu jelas.

Dan garis antara menggoda dan melecehkan itu sangat tipis dan seringkali kabur.

Jadi bagaimana memastikan bahwa Anda tetap di jalur yang benar?

Jika Anda ingin bertemu seseorang, Anda harus mendekatinya, kata seorang pakar hubungan pasangan, James Preece.

Namun tantangannya adalah bagaimana melakukannya di lingkungan yang tepat, bukan dalam situasi yang sangat tidak cocok, katanya.

Dia menganjurkan pada para kliennya yang terdiri dari lelaki dan perempuan berusia antara 23 sampai 72 tahun untuk merayu pasangan yang disukai dengan cara-cara yang segar, bukan dengan hal yang berbau seks.

"Bersikaplah ramah dan bangunlah kepercayaan dan keharmonisan," katanya. Sehabis melakukan kencan pertama, dia menyarankan agar memberi pelukan akrab atau mencium pipi.

Kapan merayu berubah menjadi pelecehan seksual?

Ketika tidak diinginkan dan memaksa, kata Sarah King, dari Stuart Miller Solicitors.

James Preece, seorang pakar kencan, menyebut, rayuan berubah menjadi pelecehan jika seorang sudah bertindak terlalu jauh - entah melalui perkataan ataupun perbuatan - jelas di situ perempuan tidak menginginkannya.

Sea Ming Pak, seorang guru yang mengajarkan tentang seks dan hubungan di berbagai sekolah di London, menyebutkan secara panjang lebar apa saja yang menurutnya merupakan bentuk pelecehan seksual.

Sexual harrasment Batas antara menggoda dan pelecehan itu sangat tipis dan seringkali mengaburkan. (Getty Images)

Diantaranya sentuhan tanpa persetujuan, merasa berhak melalukan sesuatu pada orang lain, berbicara dengan cara tertentu, mengejar gadis-gadis di jalan untuk mengobrol dengan mereka, bersiul dan menggunakan kekuasaan atau kepercayaan dari perempuan, untuk berbicara tidak senonoh.

Kamus Bahasa Inggris Oxford mendefinisikan pelecehan seksual sebagai "tindakan seksual yang tidak diinginkan, komentar cabul, dan lain-lain".

Lebih dari separuh perempuan mengatakan bahwa mereka telah dilecehkan secara seksual di tempat kerja, menurut penelitian yang dilakukan tahun lalu oleh lembaga survei TUC.

Mengapa pelecehan seksual terjadi?

Sea Ming Pak, yang bekerja untuk lembaga kesehatan seksual Brook, menganggap, budaya komersialisasi seks dan seksualisasi di negara-negara Barat menurutnya melahirkan budaya 'merasa berhak,' dan menimpakan kesalahan pada perempuan.

Anak-anak muda sudah terbiasa dengan film, video musik, program TV, akses pornografi. Mengirim foto-foto seksual di ponsel menjadi hal yang lumrah, katanya.

Di depan majelis sekolah dan ruang kelas, dia mengatakan untuk berhubungan seks, kita harus memiliki kebebasan dan kemampuan untuk menentukan pilihan.

Tapi dia mengakui khawatir tentang betapa terbatasnya informasi yang didapat anak-anak kita di sekolah sehingga banyak menyalahkan korban saat dihadapkan pada skenario pemerkosaan.

Menurutnya, banyak anak yang mencontoh sikap itu dari orang-orang terdekat.

Dia melihat seorang siswa di sebuah halte bus yang melingkarkan tangannya di pinggang salah seorang siswi dari kelas yang diajarnya dan terlihat meraba-rabainya.'

"Siswi itu sepertinya tidak menginginkannya, jadi saya katakan kepadanya: 'Kamu berhak untuk mengatakan tidak, dia tidak boleh menyentuh kamu.'"

"Saya jelaskan bahwa anak lelaki itu harus minta izin dulu , dan dia menjawab: 'Tapi mereka selalu meraba-raba saya.'"

Sea, yang biasanya berbicara dengan anak laki-laki dan perempuan berusia antara 14 dan 17 tahun ini, berpikir bahwa masalah seperti itu akan terus terjadi, jika kita tidak mengajarkan mereka untuk mengatakan "tidak" sejak usia dini.

Kita harus membicarakan hal ini dengan mereka sejak di sekolah dasar, kata Sea.

Dan di saat itulah semua dimulai, katanya, sambil mengenang kembali masa-masa sekolahnya. saat itu, katanya, anak laki-laki melakukan berbagai hal yang mereka anggap lucu, seperti membuka-buka kemeja anak perempuan, mengangkat rok mereka, mencolek bokong dan menarik bra mereka.

"Itu tentang rasa malu dan penghinaan," katanya.

Pada usia itu, Anda berbicara soal batasan, jelasnya, dan di sekolah menengah mereka perlu tahu tentang bagaimana meminta izin, membaca bahasa tubuh, menegosiasikan situasi dan berpikir sebelum mengirim foto-foto seksual mereka sendiri.




(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed