Itulah pujian Graeme Gourlay dari Dive Magazine yang menyerahkan penghargaan untuk Indonesia sebagai destinasi selam terbaik dunia kepada Menteri Pariwisata Arief Yahya di sela-sela pertemuan World Travel Market di London, Inggris, Senin (06/11).
Gourlay menyebut keragaman biota laut Indonesia seperti di Raja Ampat yang ia katakan "tak ada yang menandingi di dunia."
Penghargaan dari majalah selam Dive Magazine yang bermarkas di Inggris ini merupakan yang kedua kalinya secara berturut-turut bagi Indonesia.
Namun Arief Yahya mengatakan pendapatan dari wisata bahari ini masih kecil bila dibandingkan negara tetangga Malaysia.
- Dari Danau Toba sampai Labuan Bajo, 'boom baru destinasi wisata berikutnya'?
- RI tuntut pertanggungjawaban perusak terumbu karang di Raja Ampat
- Usai insiden di Raja Ampat, RI evaluasi kebijakan kapal wisata di daerah konservasi
Graeme Gourlay (tengah), Menteri Pariwisata Arief Yahya (kiri) dan Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma. (BBC)"Malaysia mendapatkan US$8 miliar dari wisata bahari namun Indonesia hanya US$1 miliar, jadi terlalu kecil dari wisata bahari...Sekarang baru 10% dari penerimaan devisa dari wisata bahari, sebagian di antaranya selam, dan kita akan jadikan menjadi 20%," kata Arief kepada BBC Indonesia.
Devisa terbesar pariwisata tahun 2018
Kawasan selam Bunaken di Manado, Sulawesi Utara. (Getty Images)Tantangan terbesar bagi Indonesia untuk menjaga tempat-tempat selam terbaik ini untuk terus menjaga dan "hentikan pencarian ikan dengan dinamit, hentikan penangkapan hiu ilegal dan terus dijaga," kata Gourlay.
Penghargaan best dive centre diraih melalui pemungutan suara yang dilakukan Dive Magazine sejak bulan Mei lalu dengan Siladen, Bunaken di tempat teratas dan diikuti oleh Maladewa dan Wakatobi. Sementara untuk destinasi terbaik Indonesia juga terpilih dan diikuti oleh Filipina dan Azores.
Dolfin di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kawasan selam lain. (Getty Images)SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tingkat ASEAN, Thailand menduduki tempat teratas dalam kunjungan turis dengan jumlah sekitar 37 juta orang, diikuti oleh Malaysia sekitar 26 juta orang, Singapura dan Indonesia, dengan sasaran wisatawan mancanegara tahun ini sekitar 15 juta orang.
Arief mengatakan porsi terbesar devisa Indonesia pada 2018 diperkirakan datang dari sektor pariwisata yang didapat dari pengeluaran rata-rata turis per hari sekitar US$150 (Rp2 juta).
Jumlah itu mengalahkan kelapa sawit yang saat ini sebagai penghasil terbesar devisa.
Terumbu karang di Raja Ampat, Papua. (Getty Images)"Tahun depan, hampir pasti pariwisata penghasil devisa nomor satu," kata Arief.
Turis Timur Tengah dan dari negara-negara Eropa yang paling lama menghabiskan waktu liburan dan juga anggaran.
Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Kementerian Pariwisata menawarkan kepada para investor 10 daerah yang disebut Bali Baru untuk dikembangkan lebih lanjut termasuk Danau Toba, Mandalika di Lombok dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.
Seorang praktisi pariwisata di Inggris, Mike Black, pendiri New Destinations Network, menyebut Indonesia sebagai tempat berikutnya "terjadinya boom (lonjakan) besar," karena besarnya potensi yang belum dilirik oleh berbagai perusahaan.
(ita/ita)










































