detikNews
Selasa 07 November 2017, 13:14 WIB

Kemlu RI Telusuri Kewarganegaraan Minhati, Istri Petinggi ISIS Filipina

BBC World - detikNews
Kemlu RI Telusuri Kewarganegaraan Minhati, Istri Petinggi ISIS Filipina Tim Densus akan berkordinasi dengan otorita Filipina terkait penangkapan Minhati Madrais, warga Indonesia yang ditangkap bersama enam anaknya. (AFP)
Jakarta - Kementerian Luar Negeri RI mengaku tengah menelusuri kewarganegaraanMinhatiMadrais, istriOmarkhayamMaute, salah seorang pemimpin kelompok militan Islam diMarawi, Filipina Selatan, yang tewas dalam baku tembak dengan militer.

Langkah ini ditempuh mengingat paspor Minhati telah kadaluarsa sejak Januari lalu, sebagaimana dipaparkan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia dari Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal.

"Kami masih menelusuri apakah yang bersangkutan sudah pernah pindah kewarganegaraan atau belum, mengingat suaminya warga negara Filipina," kata Lalu.

"Kalau keduanya (Minhati dan keenam anaknya) nantinya terkonfirmasi WNI maka kita akan tetap memberikan bantuan kekonsuleran," tambahnya.

Menurut Lalu, Konsulat Jenderal RI di Davao sudah memperoleh akses kekonsuleran dan bertemu dengan Minhati Madrais.

"Mereka saat ini berada di Kantor Polisi Iligan City. Minhati dan enam anaknya dalam keadaan sehat dan memperoleh perlakuan yang baik oleh Kepolisian Iligan City," kata Lalu.

Kementerian Luar Negeri RI, imbuh Lalu, belum mendalami fakta apakah Minhati terlibat dalam pertempuran di Marawi.

"Pertemuan KJRI Davao ke Kepolisian Illigan City baru sebatas kunjungan kekonsuleran, khususnya karena ada enam orang anak-anak di bawah umur. Kami belum masuk ke substansi peran MM di Marawi. Kami akan dalam berkoordinasi dengan kepolisian Filipina," paparnya.

Lalu menegaskan pemerintah Indonesia belum bisa memastikan apakah Minhati akan diekstradisi ke Indonesia karena "ekstradisi hanya bisa diajukan jika seseorang terbukti melakukan tindakan kriminal di Indonesia dan sudah ada putusan pengadilan".

"Kami akan berkomunikasi dengan penegak hukum apakah ada tindakan pidana yg mereka lakukan di Indonesia. Kalau ada dan memang sudah ada putusan pengadilan maka peluangnya ada. Tapi jika tidak maka akan diproses hukum oleh Filipina," jelasnya.

Marawi, Muhammad Ilham Syahputra, filipina Muhammad Ilham Syahputra yang diduga anggota kelompok Maute, ditangkap di Marawi, Rabu (01/11) lalu. (EPA)


Densus 88 kirim tim

Sementara itu, kepolisian Indonesia, Selasa (07/11), dijadwalkan akan mengirim tim Densus 88 ke Filipina untuk berkoordinasi dengan otorita Filipina terkait penangkapan Minhati Madrais.

"Karena dia adalah warga negara Indonesia tentunya Kementerian Luar Negeri yang akan menjadi vocal point dalam perlindungan warga negara Indonesia tapi Densus 88 akan melihat dari sisi keterkaitan yang bersangkutan dengan aksi-aksi terorisme selama ini," jelas Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Aparat keamanan Filipina menangkap Minhati Madrais di Ilagan City, ibu kota Provinsi Isabela, di Pulau Luzon, Filipina utara, bersama keenam anaknya, Minggu (05/11).

Hingga saat ini Kepolisian Indonesia masih belum mengetahui dakwaan yang diajukan kepada Madrais.

"Kita ingin melihat, mendengar, menjajaki sampai sejauh mana keterkaitan istri Omarkahayam Maute ini dan peran dia dalam aksi-aksinya Maute bersaudara selama ini."

Irjen Setyo Wasisto menambahkan selama ini hanya diketahui bahwa salah seorang Maute bersaudara memiliki istri yang merupakan warga Indonesia namun identitasnya belum bisa dikukuhkan.

"Kemarin setelah ada penangkapan dari otorita Filipina, mereka mendapatkan paspornya yang kadaluwarsa, jelas identitasnya, baru kita tahu."

_____________________________________________________________

Bertemu di Kairo

Omarkhayam Maute dilaporkan bertemu dengan Minhati Madrais tahun 2008 saat keduanya berstatus sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Setelah menikah, keduanya sempat bermukim di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi selama dua tahun sejak 2010. Madrais diketahui merupakan putri pimpinan pondok pesantren Darul Amal di Babelan, KH Madrais Hajar.

Oleh mertuanya, Omarkhayam kemudian diminta menjadi guru di pondok pesantren Darul Amal namun selang dua tahun kemudian, Omarkhayam mengajak istrinya ke Filipina.

Marawi, filipina Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Eduardo Ano, saat mengumumkan kematian Isnilon Hapilon dan Omarkhayam Maute, 16 Oktober lalu. (AFP)

______________________________________________________________

Suami Madrais, Omarkhayam Maute -menurut tentara Filipina- tewas Senin (16/10) lalu dalam operasi militer di Marawi -sekitar satu jam penerbangan dari Ilagan City.

Dia merupakan satu dari Maute bersaudara yang memimpin satu kelompok militan yang menyatakan kesetiaan kepada kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Asia Tenggara dan sempat menguasai Marawi selama sekitar lima bulan.

Marawi, Filipina Sebagian kota Marawi hancur berantakan akibat perang antara aparat keamanan Filipina dan kelompok militan Islam. (EPA)

Enam anak Madrais -asal Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat- dari perkawinan dengan Omarkhayam Maute dilaporkan akan ditangani oleh Departemen Kesejahteraan Sosial setempat.

Rabu (01/11) pekan lalu aparat keamanan Filipina menangkap seorang warga Indonesia, Muhammad Ilham Syahputra -yang diduga anggota kelompok Maute- di Marawi.

Tewasnya Omarkhayam dan pemimpin ISIS Asia Tenggara, Isnilon Hapilon, pada tanggal 16 Oktober lalu menjadi dasar dari pernyataan Presiden Rodrigo Duterte tentang bebasnya Marawi dari kelompok militan.

Sekitar 500 militan Islam -beberapa berasal dari luar negeri, termasuk Indonesia- berhasil merebut sebagian kota Marawi pada tanggal 23 Mei dan sejak saat itu diperkirakan 1.000 orang tewas dan 400.000 jiwa mengungsi dalam perang untuk merebutnya kembali.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com