DetikNews
Jumat 13 Oktober 2017, 15:19 WIB

Mengapa Jumat Tanggal 13 Dianggap Sial dan Dikutuk?

BBC Magazine - detikNews
Mengapa Jumat Tanggal 13 Dianggap Sial dan Dikutuk?
London -

Ini hari Jumat tanggal 13: hari paling terkutuk di kalender. Hari yang -- menurut yang percaya -- semuanya ditakdirkan berlangsung salah. Tapi dari mana datangnya anggapan bahwa Jumat yang jatuh pada tanggal 13 adalah hari ketika hal-hal buruk terjadi?

Saat jalan-jalan melalui pusat kota Birmingham, semua orang yang saya tanyakan telah mendengar anggapan bahwa kekuatan gelap sedang bekerja di 'hari yang paling angker' ini. Tapi apakah mereka mempercayainya?

Duduk di sebuah bangku di Victoria Square adalah pasangan John dan Gillie Hemmer yang mengatakan bahwa mereka 'sama sekali tidak punya masalah' tentang tanggal tersebut.

"Ibu saya justru lahir pada suatu hari Jumat tanggal 13," kata Gillie Hemmer. "Dia selalu menganggapnya sebagai hari mujur- begitu juga saya."

Duduk di dekatnya adalah Niall Johnstone yang menganggap keseluruhan anggapan itu sebuah lelucon. "Hal itu, Jumat 13 itu sekadar tahayul saja," kata lelaki berusia 26 tahun itu.

John and Gillie HemmingJohn dan Gillie Hemmer mengaku tak punya anggapan buruk tentang Jumat 13 (BBC)

Tapi di bawah bayang-bayang katedral, saya bersua seorang perempuan yang mengaku percaya pada tulah Jumat tanggal 13.

"Ini sekadar perasaan," kata Aurora Marin, dari Romania, ketika teman-temannya yang skeptis mengungkapkan keraguan mereka.

Kesan umumnya adalah bahwa Aurora Marin itu minoritas.

Tapi seorang ahli cerita rakyat dari Shropshire, Anne Marie Lagram, mengatakan bahwa dia adalah orang yang sangat percaya.

"Saya selalu merasa sedikit was-was ketika saya keluar dan sebagainya, dan akan mengirim pesan kepada anak perempuan saya untuk berhati-hati dua kali lipat pada hari itu," katanya.

Asal-usul Jumat 13

Jumat dan angka 13 memang sudah tidak beruntung dari sananya, kata Steve Roud, penulis The Penguin Guide to the Superstitions of Britain and Ireland.

"Karena hari Jumat adalah hari penyaliban, hari Jumat selalu dianggap sebagai hari penebusan dosa dan berpantang," katanya.

"Keyakinan religius ini tumpah ke ketidaksukaan orang pada umumnya untuk memulai sesuatu - atau melakukan sesuatu yang penting - pada hari Jumat."

CrucifixJumat dianggap sial karena penyaliban berlangsung pada hari Jumat. (Getty Images)

Sekitar tahun 1690-an, mulai beredar kepercayaan urban bahwa berkumpul sekitar meja sebanyak 13 orang atau dalam kelompok merupakan hal yang naas, katanya.

Lagram mengatakan teori di balik "13 sebagai angka sial" mencakup jumlah orang yang hadir pada Perjamuan Terakhir atau jumlah penyihir yang berkumpul untuk melakukan sesuatu.

"Orang-orang di zaman Victoria yang tertarik dengan cerita rakyat mencampur-adukan hari Jumat dan angka 13 bersama-sama untuk menciptakan legenda hari sial ini," kata penulis the Country Wisdom and Folklore Diary itu.

Kembali ke bangku taman, suami isteri Hemmer dapat menceritakan begitu banyak takhayul lain, mulai dari kucing hitam hingga tangga dan celah di trotoar. Tapi dari mana asal-usulnya?

"Takhayul berasal dari masa ketika kehidupan tidak pasti dan orang merasa tidak memiliki kendali atas kehidupan," kata Roud.

"Ada anggapan bahwa takdir adalah sesuatu yang bisa dikendalikan dengan melakukan hal-hal yang mujur atau menghindari hal-hal yang naas.

Niall JohnstoneNiall Johnstone menganggap, Jumat adalah hari yang harus dirayakan. (BBC)

Orang yang mengaku percaya, seperti Marin dan teman-temannya yang tak percaya, Diardu Georgia dan Alina Gheorghita, memberi contoh.

"Jika sesuatu yang buruk akan terjadi maka ketuklah kayu agar hal itu tidak terjadi pada kita," kata Diaconu.

Marin mengatakan dia takut pada kucing hitam: "Jika saya melihat seekor kucing hitam, saya akan mundur tiga langkah."

Woman's feet avoiding crack on pavementAda yang percaya bahwa menginjak trotoar yang retak bisa membawa sial. (Getty Images)

Takhayul diyakini karena dipelajari dari orang lain dan bertahan karena sama baiknya dengan strategi lain jika terjadi situasi di luar kendali kita, kata Michael Aitkin, dosen psikologi di Kings College London.

"Apapun tindakan yang dilakukan individu sebelum mereka mengalami sesuatu yang bermanfaat, bisa menjadi perilaku takhayul, yang kemudian diulang bahkan jika hal itu tidak terkait dengan hal apapun yang bermanfaat," katanya

Georgian Diaconu, Alina Gheorghita and Aurora MarinGeorgian Diaconu daan Alina Gheorghita tak percaya tahayul, tapi Aurora Marin mengaku percaya. (BBC)

Takhayul pribadi ini biasa terjadi di antara orang-orang yang memiliki pekerjaan berbahaya atau orang-orang yang dihadapkan pada banyak kesempatan, kata Roud. Tentu saja banyak pemain sepakbola merupakan budak dari berbagai ritual konyol.

Nyonya Hemming mengatakan bahwa sekali wacana tentang apa yang mujur dan apa yang nahas itu masuk ke kepala Anda, "sangat sulit untuk menghapusnya," dan kemudian yang dilakukan lebih pada upaya untuk menghindarinya dan tidak larut dalam kepercayaan itu.

"Jika Anda tahu bahwa ada kepercayaan bahwa berjalan di trotoar yang retak akan membawa sial, dan Anda ada wawancara penting hari itu, Anda tidak akan mengambil risiko untuk berjalan di trotoar yang retak," katanya.

Shoes and cleaning kit on a tableAnggapan bahwa meletakkan sepatu di atas meja akan membawa sial, adalah karena meletakkan sesuatu di meja padahal seharusnya di lantai, merupakan hal yang mengganggu tatanan. (Getty Images)

Banyak tahayul yang terkait dengan terjadinya gangguan, atau hal tak pantas, pada suatu tatanan, kata Roud.

"Membuka payung di dalam rumah membawa sial dan sekop atau burung liar masuk rumah berarti terjadi kematian," katanya.

"Sama saja dengan adanya sepatu di atas meja - padahal seharusnya di lantai."

Beberapa tahayul menempel dalam benak kita karena telah menjadi bagian dari bahasa kita, kata Roud.

"Meskipun saya menganggap diri saya sebagai orang yang paling tidak percaya takhayul di negeri ini, saya tetap mengatakan 'menyilangkan jari' (fingers crossed, untuk mengungkapkan bahwa kita mengharapkan hasil yang baik)," katanya.

Joan Carthy and Paulette HallJoan Carthy dan Paulette Hall menganggap Jumat 13 adalah hari yang sama saja dengan lainnya. (BBC)

Joan Carthy dan Paulette Hall sedang duduk di ambang jendela di pusat kota Birmingham, menunggu untuk berangkat bekerja.

"Satu-satunya yang tidak mau saya lakukan adalah berjalan di bawah tangga," kata Carthy. "Itu sudah kepercayaan biasa, bahwa hal itu akan berakibat akan terjadi sesuatu menimpa kita. Dan kalau dilihat-lihat, yang akan menimpa itu adalah batu bata rumah," dia tertawa.

Betapa pun, katanya, "Saya tidak pernah mengalami nasib sial pada hari Jumat 13," kata Hall. "Jumat 13 hanya hari biasa sebagaimana hari lainnya," jawab Carthy.

Dan sebagai orang optimis, Johnstone mengatakan: "Ini hari Jumat - Kita seharusnya menyukai hari Jumat."

Kucing hitam Getty Images
(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed