DetikNews
Rabu 20 September 2017, 19:24 WIB

Antara Klaim Suu Kyi Soal Rakhine dan Fakta di Lapangan

BBC World - detikNews
Antara Klaim Suu Kyi Soal Rakhine dan Fakta di Lapangan
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Yangon - Aung San Suu Kyi, Myanmar, Rohingya
Kanselir Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, usai memberikan pidato terkait Rakhine dan Rohingya di ibu kota Naypytaw, Senin (19/09). (Reuters)


Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, sudah memberikan pernyataan tentang kekerasan di negara bagian Rakhine dan krisis pengungsi minoritas umat Muslim Rohingya yang menyeberang ke perbatasan Bangladesh.

Wartawan BBC Jonathan Head -yang meliput langsung kisah warga Rohingya yang masih berada di Rakhine dan di tempat penampungan di Bangladesh- mengkaji beberapa pernyataan Suu Kyi itu dengan kenyataan yang disaksikannya di lapangan.

Aung San Suu Kyi: "Sudah tidak ada konflik sejak 5 September dan tidak operasi pembersihan."

Pada tanggal 7 September saya ikut dalam lawatan media yang diatur pemerintah ke kota Alel Than Kyaw, dan kami mendengar tembakan senapan otomatis di kejauhan dan melihat empat kepulan asap, yang menunjukkan kampung-kampung dibakar.

Belakangan, masih hari itu, kami melintasi Gaw Du Thar, kampung warga Rohingya yang dibakar sejumlah pengikut Buddha di Rakhine di depan polisi bersenjata dan dekat dengan barak polisi.

Sekarang dari Bangladesh, kami melihat kepulan-kepulan asap di sisi seberang Sungai Naf dan kepulan asap itu cukup besar yang menjadi pertanda kampung-kampung dibakar.

Aung San Suu Kyi mungkin tidak menyebutnya sebagai 'operasi pembersihan' namun dengan kehadiran besar militer di kawasan itu, dekat dengan bantaran sungai, maka sulit untuk meyakini bahwa mereka tidak mendapat persetujuan diam-diam dari pihak berwenang di sana.

Myanmar, Rohingya
Wartawan BBC, Jonathan Head, melihat kepulan asap besar yang menjadi petunjuk kampung-kampung yang dibakar di negara bagian Rakhine. (BBC/Jonathan Head)


Aung San Suu Kyi: "Tindakan akan diambil atas semua orang -terlepas dari agama, ras, dan posisi politik- yang melanggar hukum setempat dan melanggar hak asasi yang diakui komunitas internasional."

Sepanjang lebih dari 70 tahun pencatatan kekerasan oleh angkatan bersenjata Myanmar, nyaris tidak ada aparat militer yang mendapat sanksi di negara bagian Rakhine atau di sejumlah kawasan lain tempat maraknya konflik di negara itu.

Sulit untuk menerima bahwa militer menegaskan semua 400.000 lebih umat Muslim Rohingya yang mengungsi sejauh ini karena keterlibatan dalam serangan oleh kelompok militan Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan, ARSA.

Rohingya, Myanmar, Bangladesh
Sekitar 400.000 umat Muslim Rohingya sudah mengungsi ke Bangladesh. (Getty Images)


Seorang kolonel di Maungdaw mengatakan kepada saya bahwa banyak tuduhan pemerkosaan yang diungkapkan para pengungsi tidak benar karena pasukannya sudah terlalu sibuk untuk berperang dan berpendapat perempuan Rohingya amat tidak menarik.

Aung San Suu Kyi: "Semua orang yang tinggal di negara Bagian Rakhine memiliki akses untuk pendidikan dan layanan kesehatan tanpa diskriminasi."

Sama sekali tidak benar. Orang Rohingya sudah menjadi subjek pembatasan yang diskriminatif selama beberapa tahun dengan larangan untuk pindah, bahkan menikah, tanpa izin pihak berwenang, yang kadang perlu disogok.

Rohingya, Myanmar, Rakhine
Satu kampung di negara bagian Rakhine yang dibakar. (BBC)


Sejak kekerasan antar komunitas pada tahun 2012 lalu, pembatasan atas Rohingya bahkan diperketat.

Banyak yang mengungsi ke tempat-tempat penampungan di dalam Myanmar 'dikurung' di kawasan itu kecuali mendapat izin untuk ke luar, yang sulit untuk diperoleh.

Saya mengenal para pelajar di tempat penampungan yang sudah tidak memiliki pendidikan selama lima tahun terakhir.

Empat tahun lalu, saya berkunjung ke satu kampung Rohingya, Ah Nauk Pyin di selatan Rathedaung, dan para penduduknya tidak berani ke luar kampung walau untuk berobat karena permusuhan dari umat Buddha di sekelilingnya.

Rohingya, Myanmar, Rakhine
Kepulan asap yang terlihat dari wilayah Bangladesh pada Kamis 14 September. (Getty Images)


Hari Senin (18/09), di Bangladesh saya bertemu dengan Abdulmajid dari Gaw Du Thar Ya, kampung yang saya lihat sendiri dibakar.

Dia mengatakan kepada saya, "Selama lima tahun terakhir, kami tidak bisa pergi ke luar kampung untuk bekerja."




(nvc/nvc)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed