DetikNews
Selasa 05 September 2017, 17:03 WIB

Apa yang Terjadi Jika Trump Menghukum Rekan Dagang Korut?

BBC World - detikNews
Apa yang Terjadi Jika Trump Menghukum Rekan Dagang Korut? Getty Images
Washington - Seberapa realistis memutus hubungan dagang dengan semua negara yang berbisnis dengan Korea Utara?

Inilah ancaman Presiden AS Donald Trump di Twitter menyusul uji coba nuklir Korut ke enam, uji coba terbesar sampai saat ini dan yang diklaim sebagai uji coba bom hidrogen yang sukses.

Komunitas internasional telah mencoba segala hal kecuali tindakan militer untuk menghentikan Korut, namun tidak ada - tidak sanksi, tidak isolasi, atau bahkan ancaman pemusnahan yang dapat mengurangi ambisi nuklirnya.

Jadi sekarang, lebih dari hanya sekedar menghukum Korut, Presiden Trump telah mengetwit bahwa dia akan menghukum semua negara yang masih berbisnis dengan Korut dengan menghentikan perdagangan AS dengan negara-negara tersebut.

Untuk melihat seberapa realistis tindakan itu - pertama kita harus melihat negara-negara mana yang memiliki hubungan bisnis dengan Korut.

Rekan dagang Korea Utara

Menurut Badan Perdagangan Investasi dan Promosi Korea, KOTRA, ada sekitar 80 negara yang berdagang dengan Pyongyang pada 2016 termasuk:

  • Cina
  • Rusia
  • India
  • Pakistan
  • Singapura
  • Jerman
  • Portugal
  • Prancis
  • Thailand
  • Filipina

Total perdagangan Korut dengan semua negara dalam daftar tersebut bernilai $6,5 milyar (Rp87,7 triliun). Angka itu tumbuh sekitar 5% per tahun. Memang, nilai perdagangan bagi sebagian negara-negara itu cukup kecil dan nilainya menurun. Namun ada beberapa temuan yang menarik.

Singapura - yang menjadi nomor 8 di daftar rekan dagang terbesar dengan Korut - mengalami penurunan jumlah perdagangan dengan Pyongyang hingga 90% pada 2016.

Sementara itu Filipina - mengalami peningkatan sebesar 171% dalam nilai perdagangan dengan Korut.

Keduanya adalah rekan dagang AS.

Bahkan, banyak dari negara-negara dalam daftar tersebut adalah rekan dagang AS dan sebagian besar nilai perdagangan mereka dengan AS jauh melebihi jumlah yang mereka lakukan dengan ekonomi Korut yang kecil.

Korut vs. AS Korea Utara menembakkan misil yang melewati Jepang pada Agustus. (Getty Images)


Faktor Cina

Namun ada satu negara yang berpotensi mengendalikan situasi ini. Tak perlu kaget mengetahui bahwa konsumen dan penyuplai terbesar Pyongyang adalah Cina.

Sekitar 90% perdagangan Korut dilakukan dengan Cina.

Beijing kebanyakan membeli batu bara dan mineral dari Pyongyang, dan menyuplai makanan dan bahan bakar yang krusial untuk penduduk Korut. Data dari 2016 tidak jelas merefleksikan apa yang terjadi saat ini, setelah pada Februari lalu Cina melarang Korut membeli batu bara.

Jadi saat Trump mengatakan bahwa AS akan memutus bisnis dengan negara-negara yang berdagang dengan Pyongyang, sudah pasti salah satunya adalah Cina.

Namun jujur saja, sulit untuk melihat bagaimana hal itu dapat terwujud tanpa kerusakan terhadap ekonomi AS. Begini penjabarannya:

Perdagangan: Cina adalah rekan dagang terbesar AS.

Barang-barang: AS membeli lebih dari $450 milyar (Rp6.000 trilyun) barang-barang dari Cina tahun lalu dan mengekspor $115 milyar (Rp1.500 trilyun) ke Cina.

Pekerjaan: Memutus perdagangan dengan Beijing dapat membebani AS dengan hampir satu juta lapangan bagi AS berkaitan dengan barang-barang dan jasa yang diekspor ke Cina.

Harga konsumen: Bahkan ancaman Trump menerapkan tarif ke Cina karena memanipulasi mata uang akan berdampak sangat buruk pada harga barang-barang di AS, membuat harga sebuah iPhone naik sekitar 5% misalnya.

Ekonomi global

Jangan lupa - segala sesuatu yang mempengaruhi Cina juga mungkin mempengaruhi ekonomi global. Institusi peneliti global Capital Economics mengatakan bahwa jika AS berhenti membeli barang-barang dari Cina sekaligus, negara itu akan menderita sebesar 3% dari PDB mereka. Itu akan memberi dampak tidak langsung di perekonomian Asia, yang sebagian besar memandang Cina sebagai rekan dagang terbesar mereka, dan pembeli barang-barang dari Cina.

Itu sebabnya Menteri Ekonomi Steve Mnuchin mengajukan cara yang tidak begitu langsung untuk 'menghukum' negara-negara ini - dia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan FoxTV pada Senin (4/9) malam bahwa dia menyiapkan sebuah paket sanksi yang akan memutus 'semua perdagangan dan bisnis lain' dengan Pyongyang, menambahkan bahwa ada 'jauh lebih banyak' yang dapat dilakukan AS secara ekonomi.

Namun itu mirip hal serupa lainnya yang pernah kita lihat sebelumnya.

Jadi yang tersisa saat ini adalah AS yang tampaknya memiliki pilihan ekonomi yang semakin sedikit untuk bernegosiasi dengan Pyongyang.

Meski jika Presiden Trump melanjutkan ancaman perdagangannya, hampir pasti hal itu akan menciptakan reaksi buruk di kongres.

Sulit untuk melihat bagaimana Trump dapat menjual sebuah kebijakan dengan efektivitas yang dipertanyakan, dan yang dapat merusak AS secara ekonomi dibandingkan apa yang dapat dibatasi dari opsi nuklir Korut.




(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed