DetikNews
Senin 04 September 2017, 16:33 WIB

In Between, Film Palestina yang Langgar Tradisi dan Difatwa Haram

BBC Magazine - detikNews
In Between, Film Palestina yang Langgar Tradisi dan Difatwa Haram
Tel Aviv -

Ketika Maysaloun Hamoud -sutradara film Palestina- mengatakan ingin 'membuat kehebohan' lewat filmnya, dia pun mendapatkannya.

Film pertama sutradara perempuan berusia 35 tahun itu, In Between, bahkan mengakibatkan dikeluarkannya sebuah fatwa haram untuk filmnya, dan juga ancaman pembunuhan atasnya.

Berkisah tentang tiga perempuan muda Arab yang tinggal di sebuah apartemen di Tel Aviv, Israel, In Between menampilkan kehidupan ketiganya yang amat berbeda dengan tradisi keluarga mereka.

Ketiga perempuan itu hidup 'in between' atau di antara kehidupan bebas yang mereka dambakan dan pembatasan-pembatasan yang masih diterapkan pada perempuan muda Arab.

"Adalah naif untuk mengatakan 'ketika menulisnya saya tak membayangkan reaksi-reaksi keras," kata Hamoud, "Namun saya tidak tahu akan seberapa besar."

"Saya tahu ketika menulis karakter-karakternya, maka tidak akan dibiarkan begitu saja, namun saya tidak mengharapkan tingkat reaksinya begini."

_____________________________________________________________________

In Between

  • Film drama: 1 jam 43 menit
  • Sutradara: Maysaloun Hamoud
  • Musik: MG Saad

Pemain utama

  • Shaden Kanboura: Noor
  • Sana Jammelieh: Salma
  • Mouna Hawa: Leila

_____________________________________________________________________

Karakter pertamanya adalah Noor, yang akan melakukan perkawinan terhormat namun tunangannya ditampilkan sebagai seorang yang munafik.

Lantas Salma yang bermimpi menjadi DJ (Disc Jockey) dan tidak bisa menjelaskan kepada keluarganya bahwa dia adalah lesbian.

Sedangkan karakter ketiga adalah Leila, seorang pengacara yang berhasil yang berharap menemukan pasangan yang berpandangan sama liberalnya dan juga mandirinya dengan dia namun menghadapi kekecewaan.

Film juga mengambil suasana kehidupan bawah tanah warga Palestina -dengan sekelompok kaum muda Palestina yang hidup di Israel yang menggunakan musik sebagai identitas budaya baru bagi mereka- dan menampilkam musik-musik elektronik dari para DJ setempat.

'Aksi provokatif'

Dengan adegan yang menampilkan klub malam, penggunaan narkoba, dan homoseksualitas, sang sutradara mengakui bahwa 'karakter-karakternya tidak pernah ada dalam film Palestina sebelumnya'.

Walah awalnya ketakutan dengan ancaman kekerasan yang diterimanya dan para bintangnya dari kelompok ultrakonservatif, Hamoud tetap meneruskan filmnya.

"Saya ingin mengambil aksi provokatif, kita perlu mengguncang beberapa hal dan melihat yang berbeda di layar. Jika kita terus membuat yang diinginkan orang untuk ditonton, itu bukan seni, itu bukan sinema."

"Saya kira saya punya pekerjaan untuk mengembangkan masyarakat saya dan itu berarti mengubah kenyataan. Inti dari seorang seniman adalah membawa perubahan," tambahnya.

Hamoud lahir dari orang tua warga Palestina yang tinggal di Budapest, ibu kota Hungaria, namun kini menjadi warga Jaffa di Israel.

Film pendek pertamanya, Sense of Morning, mengambil adegan perang di Beirut, Libanon, dan In Between merupakan film panjang pertamanya, yang diyakininya, juga merupakan 'film politik'.

In Between, Palestina, Maysaloun Hamoud Maysaloun Hamoud mentato judul filmnya, dalam bahasa Arab dan Inggris, di lengannya. (Getty Images)


Film yang 'membuat malu'

Film itu memang memicu reaksi, khususnya di kota Umm-al-Fahm, tempat pemukiman orang Arab yang konservatif di Israel utara. Dari kota itulah salah seorang karakternya, Noor, berasal dan -menurut Hamoud- wali kota Umm-al-Fahm adalah orang yang pertama kali menyatakan filmya 'haram'.

"Palestina memiliki dunia film yang masih muda dan belum banyak aliran di sini," jelasnya. "Saya kira banyak kebingungan ketika film itu ditayangkan, apakah itu film dokumenter atau fiksi."

"Saya kira beberapa yang menontonnya berpikir bahwa itu adalah kehidupan nyata, dan ketika itulah para pemimpin setempat mengatakan mereka malu dan mulai menentang film itu, juga mulai membahas untuk menutup bioskop tempat film itu diputar."

"Jadi film saya dinyatakan 'haram', fatwa dikeluarkan dan kami mulai mendapat ancaman pembunuhan. Ada suasana kekerasan dalam beberapa pekan, yang amat menakutkan," kata Hamoud.

"Namun Anda tahu, tidak ada publisitas yang buruk," tambahnya, "Lebih banyak orang yang datang untuk menonton film karena ingin tahu kehebohannya tentang apa, dan akhirnya film diputar selama beberapa bulan. Saya mendapat komentar dari pria maupun perempuan."

In Between mendapat 12 nominasi dalam Ohpir Awards, semacam Piala Oscar-nya Israel, sementara Hamoud mendapat gelar bakat muda terbaik oleh kelompok Women in Motion -yang berkampanye untuk kesetaraan gender di dunia film- dalam festival film bergengsi Cannes tahun ini.

Isabelle Huppert, bintang terkenal Prancis, menyebut tiga karakter perempuan dalam In Between sebagai 'pahlawan dari masa kita'.

Maysaloun Hamoud mengatakan ketiga karakter yang ditulisnya itu tidak berarti mencerminkan dirinya maupun teman-temannya. "Mereka mencerminkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita bicarakan dalam masyarakat kita."

"Ketiga karakter mencerminkan sejumlah besar perempuan yang tidak terlihat, para perempuan yang suara mereka tidak pernah diangkat oleh film di bagian dunia yang ini. Akhirnya, film itu membuat orang membicarakan hal itu dan saya senang.***




(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed