DetikNews
Kamis 24 Agustus 2017, 16:42 WIB

Melacak Napi Australia yang Kabur dari Penjara Bali

BBC World - detikNews
Melacak Napi Australia yang Kabur dari Penjara Bali
Jakarta -

Pada Juni lalu, empat tahanan asing kabur dar Penjara Kerobokan, Bali. Salah satu tahanan belum bisa ditangkap dan menggunakan media sosial untuk mencemooh aparat.

Situasi di Penjara Kerobokan pada Minggu (18/06) seperti film Hollywood. Para sipir kebingungan karena empat narapidana asing tidak ada di sel mereka. Aparat menemukan terowongan sedalam 15 meter di bawah dinding penjara yang rupanya digali menggunakan garpu, cangkir dan ember.

Empat hari kemudian, dua di antara keempat narapidana tersebut ditemukan bersembunyi di sebuah hotel mewah di Dili, Timor Leste. Penjebol mesin ATM dari Bulgaria, Dimitar Nikolon Iliev, dan pelaku penyelundupan narkoba asal India, Sayed Muhammad Said, kemudian dibawa kembali ke Kerobokan.

Dua buronan lainnya penyelundup narkoba asal Malaysia, Tee Kok King, dan seorang warga Australia bernama Shaun Davidson, yang dipenjara karena menyalahgunakan visa dan menggunakan dokumen palsu sudah dua bulan melarikan diri.

Tidak ada informasi tentang keberadaan Tee Kok King, namun banyak perdebatan seputar keberadaan Davidson.

Penjara KerobokanDavidson kabur dari penjara Kerobokan yang terkenal di Bali pada bulan Juni bersama tiga tahanan lainnya (AFP)

Polisi Indonesia meyakini Davidson masih bersembunyi di Bali lantaran dia diyakini menjalin komunikasi dengan mafia lokal. Sementara media Australia, News Corp, berspekulasi dia telah bergabung dengan sesama penjahat di Pattaya, Thailand.

Roberto Castro, seorang narapidana Kerobokan dari Peru, mengatakan rumor yang beredar dalam penjara menyebutkan Davidson bersembunyi di Malaysia.

Namun, menurut laman Facebook, Davidson yang menggunakan nama samaran Matthew Rageone Ridler, menyebutkan ia pergi ke Amsterdam, Jerman dan Dubai selama berminggu-minggu setelah pelariannya.

Davidson juga menggunakan Facebook untuk mencemooh para petugas yang akan menciduknya dengan mengunggah poster bernada ejekan. Dia menggambarkan dirinya sebagai "gangster dan pria yang menarik". Dia juga mengunggah status berbunyi "Besok sudah hari ke 50 bisakah saya mendapat tepuk tangan?"

Keunikannya ini telah menjadikan ia sebagai selebriti dan dibanding-bandingkan dengan Frank Abagnale, seorang penipu ulung yang karakternya diperankan Leonardo DiCaprio dalam film berjudul Catch Me If You Can.

Selagi aparat menelusuri jejaknya, pertanyaan timbul: Mengapa Davidson melakukan tindakan yang berisiko, kabur dari penjara padahal tinggal 10 hari lagi ia akan menikmati kebebasan?

Menurut narapidana asal Peru, Castro, Davidson khawatir dengan ekstradisi ke Australia: "Semua orang di penjara tahu bahwa ia kabur karena sebentar lagi ia bebas, dan polisi Australia akan menangkapnya terkait kasus narkoba saat ia kembali nanti ke negaranya."

Pada tahun 2014, Davidson didakwa dengan kepemilikan narkoba jenis paraphernalia serta niat untuk memasok atau menjual methamphetamine dan ganja, serta mengemudi tanpa SIM.

Buronan KerobokanDua dari empat tahanan yang melarikan diri berhasil dibekuk. (EPA)

Pada Januari 2015, Davidson mangkir di Pengadilan Tinggi Perth ketika akan dihadapkan pada sejumlah dakwaan. Dia melarikan diri ke Bali dengan visa turis satu bulan. Ia tetap bersembunyi di Indonesia selama hampir setahun sampai ia ditemukan oleh petugas imigrasi yang menggunakan paspor pria lain.

Davidson kemudian dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan diberi pilihan untuk menjalani lima bulan tambahan atau membayar denda Rp100 juta. Ia memilih yang pertama meskipun berasal dari keluarga berada, yang memperkuat teori bahwa ia lebih suka berada di mana saja kecuali di rumah.

"Shaun berasal dari Subiaco (sebuah wilayah pinggiran kota Perth yang makmur) dan keluarganya memiliki banyak uang," kata seorang warga Australia yang berkunjung ke Penjara Kerobokan.

"Saya pikir bukan soal penjara yang ia khawatirkan, tapi Mongols," katanya, merujuk pada sebuah klub motor ilegal dan sindikat kejahatan terorganisir yang memiliki hubungan dengan Davidson di Perth.

"Ia berutang banyak uang kepada mereka," kata orang tersebut yang menolak identitasnya disebut karena khawatir ia akan dilarang berkunjung ke Penjara Kerobokan.

Saat dihubungi oleh BBC melalui Facebook, Davidson, malah bergurau soal tudingan ia berutang kepada orang-orang yang tergabung dalam klub motor Mongols.

"Hahahahaha Anda lucu," tulisnya. "Jangan lupa kirimi saya tautan artikelnya kalau Anda sudah selesai mengerjakannya. Ini pasti lucu, sampai jumpa."

Ini adalah satu-satunya pernyataan dari Davidson - atau orang di balik akun Facebook-nya - yang dilontarkan ke media sejak 29 Juli, saat ia menawarkan memberi komentar kepada siapapun yang bisa memberi uang tunai terbanyak. Ia menolak mengatakan apakah ia menerima tawaran.

Kini Davidson masuk ke dalam daftar buronan "oranye" Interpol. Itu artinya Davidson merupakan "ancaman serius dan mengancam keamanan publik,"

Akhir permainan

Daniel Lewkovitz, direktur Calamity, sebuah perusahaan keamanan elektronik di Sydney yang berkonsultasi dengan agen anti-terorisme dan kepolisian, mengatakan bukan tugas mudah untuk menemukan Davidson.

"Saya tidak tahu ada buronan yang begitu aktif mencemooh polisi di medsos," katanya. "Tapi sangat mungkin informasi-informasi yang ada di Facebook ini dilakukan oleh teman-temannya atau para pengagum anonim.

Buronan BaliKeempat tahanan tersebut dilaporkan berhasil menggali jalan keluar dari penjara menggunakan garpu dan cangkir. (EPA)

"Kalaupun polisi Indonesia mendapatkan alamat IP-nya dari hosting seperti Facebook di San Fransisco atau penyedia layanan internet lokal, koordinat GPS mungkin tidak terlalu akurat karena Anda dapat menggunakan banyak identitas palsu yang berbeda untuk mengaburkan keberadaan Anda bahkan dari semua badan intelijen tingkat negara yang paling canggih. "

Lewkovitz yakin pihak berwenang di Indonesia dan luar negeri harus mengandalkan pekerjaan polisi secara konvensional sebagai gantinya.

"Tapi itu membutuhkan sumber daya besar yang tidak dimiliki semua aparat penegak hukum. Dan bahkan dengan sumber daya tersebut, mereka tidak perlu mengalokasikan banyak biaya untuk sasaran mereka yang relatif rendah seperti ini."

Namun Clarke Jones, pakar kejahatan terorganisir di Australian National University College of Asia and the Pacific, mengatakan bahwa ini hanya masalah waktu sampai mereka menemukan kedua buronan tersebut.

"Cukup masuk akal bahwa ia berada di Pattaya karena di sanalah terjadi perdagangan narkoba yang besar dan ia memiliki hubungan di sana," kata Clarke Jones. "Tapi di manapun ia berada, polisi Indonesia akan menemukannya, terutama dengan perilakunya yang mencari sensasi dan mengejek polisi di media sosial.

"Semua ini benar-benar memalukan bagi mereka - ini membuat mereka kehilangan muka - jadi mereka benar-benar ingin menangkapnya," katanya.

" Sudah banyak buronan-buronan lainnya yang melakukan tindakan ini dulu, bermain-main seperti kucing dan tikus, dan hampir selalu berakhir dengan cara yang sama - dengan buronan kembali di balik jeruji besi."




(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed