Dalam acara 'This Week,' stasiun televisi ABC News, mantan jaksa Preet Bharara mengatakan bahwa panggilan-panggilan telepon dari Trump melampaui batas umum yang memisahkan eksekutif dan penyelidik pidana yang independen.
Bharara mengatakan bahwa dia dipecat setelah menolak untuk menerima panggilan telepon ketiga dari Presiden Trump.
Gedung Putih belum menanggapi pernyataan Bharara.
- Jaksa Agung AS akan bersaksi di hadapan Senat
- Pemerintahan Trump 'dusta' tentang FBI, kata James Comey
- Donald Trump: memecat direktur FBI 'kurangi tekanan'
Bharara yang diangkat sebagai Jaksa tinggi federal di Manhattan mengatakan, Donald Trump tampak mencoba untuk 'menumbuhkan semacam hubungan tertentu' menyusul pertemuan mereka pada akhir 2016.
Tapi dia mengatakan bahwa dia merasa hal ini menjadi 'tidak pantas' setelah Trump menjabat sebagai presiden.
"Jumlah panggilan telepon dari Presiden Obama kepada saya selama tujuh setengah tahun saya menjabat adalah nol," katanya.
"Jumlah panggilan telepon yang saya harapkan datang dari Presiden Amerika Serikat (kepada jaksa) adalah nol, karena harus ada semacam pembatas yang tegas antara berbagai yurisdiksi yang berbeda-beda (dalam politik dan hukum)."
- Kompensasi $25 juta untuk kasus penipuan Universitas Trump
- Trump pecat Jaksa Agung AS karena tolak bela keputusan soal imigrasi
- Skandal Flynn: Donald Trump sudah tahu 'berminggu-minggu'
Wawancara dengan mantan jaksa ini berlangsung tak lama setelah dengar pendapat di Senat AS yang menampillkan kesaksian James Comey, mantan kepala FBI yang dipecat oleh Donald Trump pada bulan Mei. Dalam sidang itu Comey mengatakan bahwa saat makan malam setelah pelantikan sebagai presiden, Trump meminta jaminan kesetiaan darinya.
Presiden Trump membantah tegas pernyataan ini dan menuding Comey - sahabat dan mantan rekan kerja Bhahara - melakukan tindakan 'sangat pengecut' karena membocorkan percakapan pribadi.
(ita/ita)










































