DetikNews
Jumat 09 Juni 2017, 13:24 WIB

Pemilu Inggris, PM Theresa May Didesak Mundur

BBC World - detikNews
Pemilu Inggris, PM Theresa May Didesak Mundur Pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn dan pemimpin Partai Konservatif yang berkuasa, Theresa May, di tempat pemungutan suara, sesudah tujuh pekan kampanye. (EPA/PA)
London -

Pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn meminta Theresa May untuk mengundurkan diri sebagai perdana menteri, terkait pemilu yang diperkirakan menghasilkan Parlemen yang menggantung -tanpa mayoritas mutlak.

Perkiraan BBC terbaru tentang hasil Pemilihan Umum sela Inggris menunjukkan, Partai Konservatif akan tetap menjadi partai terbesar di parlemen Inggris, namun mungkin tidak merupakan mayoritas mutlak.

Berbicara setelah terpilih kembali sebagai anggota parlemen untuk Islington Utara, pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbin mengatakan, rakyat telah memilih 'harapan untuk masa depan.'

Saat penghitungan suara, Corbyn, yang memenangkan kursinya dengan lebih dari 40.000 suara, mengatakan : "Perdana menteri memutuskan untuk melangsungkan pemilu dini karena dia menginginkan sebuah mandat. Nah mandat yang dia dapatkan adalah berkurangnya kursi (Partai) Konservatif, berkurangnya suara, berkurangnya dukungan dan hilangnya kepercayaan.

"Saya pikir itu cukup untuknya untuk mundur, dan memberi jalan bagi terbentuknya pemerintahan baru yang akan benar-benar mewakili semua orang di negara ini."Sejauh ini sudah lebih dari 100 kursi hasil Pemilu yang diumumkan, namun harapan Perdana Menteri Theresa May untuk memperoleh kemenangan telak, kandas.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Bayangan partai itu, Emily Thornberry mengaku bahwa Partai Buruh dapat membentuk pemerintah minoritas.

Partai Konservatif, atau dikenal juga dengan sebutan Tories, diproyeksikan akan mendapatkan 322 kursi. Sementara oposisi utama, Partai Buruh diperkirakan mendapat 29 kursi tambahan menjadi 261, sementara SNP (Partai Nasional Skotlandia) bisa kehilangan 24 kursi, dan menjadi 32 kursi, sementara Partai Demokrat Liberal diperkirakan mendapat 13 kursi atau lima kursi lebih banyak dibanding sebelumnya.

Betapa pun, perkiraan terbaru ini tetap sedikit lebih baik bagi Tories dibanding hasil exit polls sebelumnya, yang memperkirakan partai pimpinan PM Theresa May itu hanya akan memperoleh 316 kursi. Namun tetap saja, hasil Pemilu bisa membuat jumlah anggota parlemen partai itu nanti lebih sedikit dibanding saat sebelum PM Theresa May memutuskan dilangsungkannya pemilihan umum sela.

Pemilu ini dimaksudkan oleh PM Theresa May untuk 'memperkuat tangannya' dalam perundingan Brexit mendatang. Dan hasil ini, menurut seorang pengamat, menunjukkan bahwa ternyata Theresa May 'salah perhitungan.'

Nicola Sturgeon at a polling station Pemimpin Partai Nasional Skotlandia (SNP), Nicola Sturgeon, mencoblos di Glasgow. (EPA)

Seorang pimpinan Partai Buruh, Tom Watson, mengatakan "Otoritas Theresa May telah dirusak oleh pemilihan umum ini. Dia kini adalah seorang perdana menteri yang 'rusak' dan reputasinya mungkin tidak akan pernah bisa pulih."

Menteri Luar Negeri Bayangan dari Partai Buruh, Emily Thornberry lebih jauh mengatakan kepada BBC News: "Mungkin saja kami membentuk pemerintahan sesudah pemilu ini."

Namun untuk itu dia mengesampingkan kemungkinan koalisi. Menurutnya, jika hasil Pemilu ini adalah parlemen yang menggantung, Partai Buruh akan membentuk pemerintah minoritas, dan meminta partai-partai kecil seperti Demokrat Liberal dan SNP untuk mendukung program mereka.

Liberal Democrat leader Tim Farron Pemimpin Demokrat Liberal, Tim Farron tampak veria kendati Kendal, Cumbria, diguyur hujan saat ia mencoblos. (AFP)

Betapapun, politikus kawakan Partai Konservatif, Ken Clarke mengatakan bahwa dia yakin partainya akan memiliki 'mayoritas kecil secara keseluruhan" ketika semua suara telah dihitung, meskipun hasilnya baru akan diketahui Jumat ini.

Untuk mendapatkan mayoritas secara keseluruhan, dibutuhkan 326 kursi.

Seorang sumber partai Demokrat Liberal mengatakan bahwa 'terlalu dini' untuk menanggapi perkiraan hasil Pemilu ini, namun mereka sudah memutuskan untuk tidak bergabung dalam koalisi pemerintahan baru mana pun, baik Konservatif atau Buruh.

Pemilih Pengamanan di TPS diperketat menyusul serangan teror di Manchester pada 24 Juni dan serangan di London tanggal 3 Juni 2017. (Reuters)

Para pemilih Inggris memberikan suara dalam pemilihan umum yang dibayang-bayangi oleh dua serangan teror.

Pemungutan suara dimulai pukul 07:00 waktu setempat pada Kamis (08/06) dan berlangsung sampai pukul 22:00.

Di samping memberikan suara langsung di tempat-tempat pemungutan suara (TPS), sebagian pemilih memberikan suara lewat pos.

Secara keseluruhan di Inggris, panitia pemilihan umum menyediakan 40.000 TPS.

PemilihPub di kotaOxford ini disulap menjadiTPS bagi para pemilih. (ADRIANDENNIS/GettyImages)

Sekitar 46,9 juta orang terdaftar sebagai pemilih dalam pemilu untuk menetapkan 650 anggota parlemen. Data tersebut lebih besar dibandingkan pemilih yang terdaftar dalam pemilu 2015 sebanyak 46,4 juta.

Dalam pemilu lalu, Partai Konservatif mendapat 331 kursi dari 650 kursi Parlemen Inggris.

Pemilu ini diselenggarakan lebih awal atas permintaan Perdana Menteri Theresa May. Sebelumnya PM May pernah mengatakan tidak akan menggelar pemilihan umum hingga berakhirnya masa kerja parlemen saat ini pada tahun 2020 mendatang.

Inilah pemilihan umum ketiga dalam kurun waktu lebih dari dua tahun.

Kepolisian Inggris mengatakan pengamanan diperketat di tempat-tempat pemungutan suara -termasuk patroli yang dilakukan oleh polisi bersenjata di beberapa lokasi- menyusul serangan teror di Manchester dan London.


(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed