Dubes AS untuk PBB Tuduh Kim Jong-Un dalam Kondisi Paranoia

Dubes AS untuk PBB Tuduh Kim Jong-Un dalam Kondisi Paranoia

BBC World - detikNews
Senin, 15 Mei 2017 12:26 WIB
Dubes AS untuk PBB Tuduh Kim Jong-Un dalam Kondisi Paranoia
Kim Jong-un, menurut Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, berada dalam kondisi paranoia. (Reuters)
Washington - Amerika Serikat memperingatkan Korea Utara bahwa uji coba rudal terbarunya bukan merupakan cara untuk membuka pembicaraan denganWashington.

Duta Besar AS di PBB, Nikki Haley, menuduh pemimpin Korut, Kim Jong-Un berada dalam posisi paranoia -- atau penderita penyakit jiwa yang berpikir aneh yang bersifat khayalan -- dan Washington akan terus memperkuat skrupnya atas Pyongyang.

"Anda pertama harus masuk ke dalam kepala Kim Jong-Un, bahwa dia berada dalam kondisi paranoia, dia amat khawatir dengan setiap hal dan semua hal di sekelilingnya," kata Haley dalam wawancara dengan stasiun berita Amerika, ABC, setelah uji coba rudal terbaru tersebut.

Dia menambahkan bahwa Amerika Serikat bekerja sama lebih baik dengan China -- yang merupakan sekutu utama Pyongyang -- dan seluruh komunitas internasional akan menyingkirkan Korut.

Presiden Donald Trump sudah menyerukan 'sanksi yang lebih keras' namun China mendesak agar semua pihak menahan diri.

Dua uji coba rudal oleh Korut pada bulan lalu gagal karena roketnya meledak hanya beberapa menit setelah diluncurkan.

Korea Utara, rudal Warga Korea Selatan di ibu kota Seoul menyaksikan laporan berita tentang uji coba rudal terbaru Korea Utara, Minggu (14/05): AFP

Sebelumnya Jepang mengatakan bahwa uji coba rudal terakhir mungkin melibatkan jenis rudal baru dengan jangkauan ketinggian yang mencapai lebih dari 2.000 km.

Sementara Presiden Korea Selatan yang baru terpilih, Moon Jae-in, yang ingin meningkatkan komunikasi dengan Korut, mengatakan uji coba sebagai 'provokasi yang gegabah'.

Apakah jenis rudal baru?

Rincian peluncuran terbaru Korut masih belum bisa dipastikan namun para pengamat mengatakan kemungkinan dengan jangkauan lebih jauh dibanding sebelumnya.

Menteri Pertahanan Jepang, Tomomi Inada, mengatakan rudal sempat mengudara sekitar 30 menit sebelum jatuh ke Laut Jepang dan mungkin merupakan jenis rudal yang sekali baru.

Rudal, Korea

Inada menambahkan rudal mencapai jangkauan sekitar 700km dengan ketinggian lebih dari 2.000 km, yang artinya jauh lebih tinggi dari rudal jarak menengah Korut pada Februari lalu. (BBC)

Rudal balistik antarbenua, ICBM, bisa mencapai ketinggian hingga ratusan kilometer hingga berada di luar atmosfir dunia.

Para ahli yang dikutip kantor berita Reuters mengatakan ketinggian tersebut tampaknya membuat rudal diluncurkan dengan lintasan ke atas sehingga membatasi daya jangkau.

Jika ditembakkan dengan lintasan yang biasa, maka bisa menjangkau hingga 4.000 km.

Komando Pasifik Amerika Serikat dalam pernyataannya mengatakan jenis rudal terbaru sedang dikaji namun tidak konsisten dengan ICBM, yang bisa menjangkau daratan Amerika Serikat, sejauh 6.000 km.

Korea Utara diyakini sedang mengembangkan dua jenis ICBM namun sejauh ini belum ada yang diuji coba.

(ita/ita)


Berita Terkait