Para korbannya adalah kulit hitam dan hispanik, namun Peter Selis, 49, diyakini tidak secara khusus memilih mereka.
"Para korban hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah," kata Kepala Polisi San Diego Shelley Zimmerman, mengesampingkan ras sebagai faktor dalam serangan tersebut.
Seorang tewas dan enam lainnya luka sebelum kemudian Selis ditembak mati oleh polisi.
- Penembakan di sekolah AS, tiga tewas
- Tiga perempuan tewas dalam penembakan di Finlandia
- Penembakan diduga bermotif ras di AS, tiga pria kulit putih tewas
Penembakan dilaporkan ke polisi pada sekitar pukul 18:00 waktu setempat di apartemen La Jolla Crossroads, sebuah gedung pemukiman kelas atas.
Selis awalnya duduk-duduk di tepi kolam renang, di kompleks apartemen tempat dia tinggal.
Namun kemudian dari kursi santai itu dia menembaki orang-orang, kata polisi. Setelah menembak dua orang, dia lalu menelpon mantan pacarnya.
"Jelas bahwa Selis ingin mantan pacarnya mendengarkan saat dia melakukan aksinya," kata Zimmerman, perempuan kepala polisi San Diego.
Selis, yang tidak punya catatan kriminal sebeluimnya, terus berbicara di telpon saat dia menembaki kerumunan, dan orang-orang yang dilanda kepanikan berusaha meloloskan diri dari area kolam.
Sebuah helikopter polisi menyaksikannya mengisi ulang senapan kaliber 45-nya, saat masih berada di dalam area kolam.
Beberapa saat kemudian polisi menembak mati pelaku, setelah dia mengangkat senjata untuk menembak polisi.
Beberapa hari sebelumnya, Selis dan pacarnya putus hubungan.
- Penembakan di bandara Florida, lima orang tewas
- Teror San Bernardino: Teman pelaku penembakan didakwa
Keluarganya mengatakan bahwa dia 'putus asa dan depresi,' kata polisi, namun tidak ada indikasi bahwa dia akan melakukan kekerasan.
Seorang saksi mengatakan kepada KFMB-TV bahwa Selis tampak memegang gelas bir saat melepaskan tembakan, namun polisi tidak mengkonfirmasi rincian itu.
Polisi tidak yakin bahwa Selis mengenali orang-orang di kerumunan yang berjumlah sekitar 30 orang di pesta tersebut.
Selis berkulit putih dan korbannya adalah empat perempuan kulit hitam, dua pria kulit hitam dan seorang pria Hispanik, namun polisi mengesampingkan kemungkinan motif kejahatan kebencian.
Menurut media AS, Selis mengajukan status bangkrut ke pengadilan pada 2015 menyebut profesinya sebagai montir mobil, dan mengatakan bahwa dia memiliki dua anak dan seorang anak tiri. (ita/ita)











































