(GettyImages) JandaAndreiKarlov, Marina menangis di atas peti matinya.
Jenazah Andrei Karlov, duta besar Rusia yang ditembak di Turki, diterbangkan ke kampung halamannya.
Andrei Karlov ditembak mati oleh Mevlut Mert Altintas (22), sebanyak sembilan kali saat dia memberikan pidato pada Senin (19/12), sebagai protes terhadap keterlibatan Rusia di Aleppo.
Pada Selasa sore, peti mati Karlov dibawa melewati landasan bandara Esenboga, terbungkus bendera Rusia.
Dia dikawal oleh enam tentara Turki menuju pesawat yang dikirim oleh Moskow.
Sebuah upacara singkat yang dihadiri oleh diplomat tinggi Ankara dan Wakil Perdana Menteri Turki Tugrul Turkes berlangsung sebelum Karlov meninggalkan negara itu untuk terakhir kalinya.
Dalam peristiwa yang sangat tidak biasa di negara Islam, pastur Ortodoks Rusia melakukan doa dan mengayunkan dupa di atas peti mati, sementara seorang tentara Turki berdiri memegang foto diplomat yang terbunuh itu dan janda Karlov, Marina, menangis.
Marina hadir ketika Altintas menembak suaminya, yang mulai bertugas di Ankara sejak 2013.
(AP) Andrei Karlov memberi pidato, tak sadar bahwa pria di belakangnya akan menembak.
(AFP) Tentara Turki membawa fotoKarlov dan peti matinya ke dalam pesawat.
Masih belum jelas apakah penembak tersebut, anggota polisi anti-huru-hara Ankara yang kemudian tewas dalam adu tembak dengan polisi Turki, punya kaitan dengan kelompok militan.
Meski begitu, Rusia dan Turki sepakat bahwa pembunuhan tersebut adalah aksi "provokasi" dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa "tanpa ragu...(aksi) ditujukan untuk mengganggu normalisasi" dari hubungan bilateral dan "proses perdamaian di Suriah".
Mereka berjanji untuk bekerja sama untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang berada di balik pembunuhan Karlov. Penyelidik Rusia sudah datang ke Turki, Selasa (20/12).
(Getty Images) Mereka yang hadir dalam upacara pelepasan memakai foto Karlov di dada.
(AFP) Pastur Ortodoks Rusia berdoa di depan peti mati sebelum dibawa ke pesawat.
Pada masa tugasnya di Ankara, diplomat veteran tersebut, pernah menjadi duta besar Soviet untuk Korea Utara pada 1980an, dan harus menghadapi krisis besar ketika sebuah pesawat Turki menembak jatuh jet Rusia di dekat perbatasan Suriah.
Rusia saat itu menuntut permintaan maaf dari Turki dan menerapkan sanksi yang memberatkan - pembekuan pesawat charter oleh turis Rusia - dan dua negara itu baru-baru ini memperbaiki hubungan mereka.
Sementara itu, seorang pejabat pemerintahan senior Turki mengatakan pada Associated Press bahwa pembunuhan itu "sangat profesional, bukan aksi satu orang" dan serangan tersebut direncanakan dengan baik.
Polisi sudah menahan enam orang terkait pembunuhan tersebut, termasuk ibu, ayah, saudari, dan tiga kerabat Altintas, selain juga teman serumahnya.
(nwk/nwk)










































