Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 250 tanaman dan hewan menunjukkan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan curah hujan dan suhu akan jauh terlampaui oleh perubahan iklim di masa yang akan datang.
Para ahli AS itu menunjuk berbagai jenis amfibi, reptil dan tanaman yang sangat rentan.
Dan spesies-spesies tropis berada pada risiko yang lebih tinggi dalam menyintas atau bertahan hidup menghadapi perubahan dibanding di daerah yang beriklim sedang.
Beberapa satwa mungkin mampu berpindah secara geografis untuk mengatasi peningkatan suhu, tetapi hewan-hewan lain yang tinggal di kawasan terkucil seperti di cagar alam atau di pegunungan atau pulau-pulau, tidak bisa pindah.
- Kecoa tidak tahan radiasi dan sebagian besar bukanlah hama
- Mengapa tenggiling disebut sebagai binatang mamalia yang paling banyak diperdagangkan?
- Data WMO: Lima tahun terpanas pemecah rekor terjadi sejak 2011
Para ekolog menganalisis bagaimana spesies itu mengubah relung iklim mereka (kondisi yang memungkinkan mereka dapat bertahan hidup) dari waktu ke waktu, dan bagaimana kecepatannya dibandingkan dengan pemanasan global.
Mereka menganalisis 266 populasi tumbuhan dan hewan, termasuk serangga, amfibi, burung, mamalia dan reptil.
Tingkat perubahan dalam relung iklim jauh lebih lambat dibanding tingkat perubahan iklim yang diproyeksikan, dengan lebih dari 200.000 kali lipat untuk suhu (rata-rata), kata mereka.
"Secara keseluruhan, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa tingkat perubahan relung iklim antara populasi tanaman dan hewan jauh lebih lambat dibanding tingkat perubahan iklim yang diproyeksikan di masa depan," kata Tereza Jezkova dan John Wiens, dari University of Arizona.
- Apa yang terjadi jika semua orang di dunia menjadi vegetarian?
- Perubahan iklim bisa 'picu kerugian' hingga 13% PDB Indonesia
Ancaman ganda
Mamalia dan burung mungkin lebih siap untuk menyintas dibanding amfibi dan reptil, karena mereka memiliki kemampuan untuk mengatur suhu tubuh mereka sendiri, kata Dr Wiens.
Dan, meski beberapa spesies mungkin bisa pindah ke lintang yang lebih tinggi atau ketinggian untuk bertahan hidup, tapi "banyak organisme tak memiliki pilihan itu."
"Ini merupakan ancaman ganda dari perubahan iklim dan kerusakan habitat," katanya kepada BBC News.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal berjudul Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences.
(nwk/nwk)










































