Kasus 43 Mahasiswa Meksiko yang Hilang, Eks Kepala Polisi Ditangkap

Kasus 43 Mahasiswa Meksiko yang Hilang, Eks Kepala Polisi Ditangkap

BBC World - detikNews
Senin, 24 Okt 2016 11:19 WIB
Kasus 43 Mahasiswa Meksiko yang Hilang, Eks Kepala Polisi Ditangkap
Mexico City -
Pemerintah Meksiko mengatakan puluhan mahasiswa itu ditangkap oleh polisi sebelum diserahkan kepada kartel obat bius yang kemudian membunuh mereka dan membakarnya.

Mantan kepala polisi kota Meksiko yang bertugas saat 43 mahasiswa menghilang setahun lalu telah ditahan setelah dua tahun buron, kata pejabat Meksiko.

Felipe Flores ditangkap di kota Iguala, yang terletak di wilayah selatan negara bagian Guerrero, lokasi insiden itu terjadi.

Pemerintah Meksiko mengatakan puluhan mahasiswa itu ditangkap oleh polisi sebelum diserahkan kepada kartel obat bius yang kemudian membunuh mereka dan membakarnya.

Tetapi keluarga dan para ahli independen mempertanyakan klaim pemerintah tersebut.


AFP Tim ahli independen mengatakan klaim bahwa 43 mahasiswa itu telah dibakar di tempat pembuangan sampah secara fisik tidaklah mungkin dilakukan.

Tim ahli independen mengatakan klaim bahwa 43 mahasiswa itu telah dibakar di tempat pembuangan sampah secara fisik tidaklah mungkin dilakukan.

Penangkapan atas Felipe Flores - kepala polisi Iguala ketika insiden itu terjadi pada 26 September 2014 - kemungkinan akan dapat memberikan petunjuk baru untuk mengungkap apa yang terjadi terhadap 43 mahasiswa tersebut.

Jaksa Agung Arely Gomez mengatakan, penangkapan mantan penabat polisi ini akan memungkinkan tim ahli independen untuk memperoleh informasi mendasar atas kasus yang menghebohkan itu.

Walaupun telah berjalan setahun, penyelidikan kasus ini belum membuahkan hasil, sehingga mencoreng citra Presiden Meksiko, Enrique Pena Nieto.

Sekilas kasus hilangnya 43 mahasiswa

Siapa mereka? 43 orang mahasiswa yang hilang itu berasal dari sebuah perguruan tinggi di kota Aytozinapa, di negara bagian Guerrero. Saat dinyatakan hilang, para mahasiswa yang semuanya berjenis kelamin pria ini sedang mengikuti sebuah studi tur. Kampus mereka dikenal memiliki sejarah aktivitas sayap kiri dan mahasiswanya secara teratur menggelar unjuk rasa.Apa yang terjadi pada mereka?


Menurut laporan resmi, para mahasiswa itu ditahan oleh petugas kepolisian yang korup dan menyerahkan mereka kepada anggota geng obat bius lokal.

Mereka menghilang dari kota terdekat dari Iguala pada sebuah malam, 26 September 2014 setelah terjadi bentrokan antara polisi dan mahasiswa yang menyebabkan enam orang tewas.

Apakah ada yang sudah ditemukan?

Ahli forensik independen berhasil mencocokkan patahan tulang hangus yang dilaporkan ditemukan di tempat pembuangan sampah di dekat Iguala, dengan sosok Alexander Mora, salah satu dari 43 mahasiswa yang hilang. Mereka juga mengatakan ada kemungkinan tulang itu milik Jhosivani Guerrero de la Cruz, mahasiswa lainnya. Namun, para ahli dari Inter-American Commission of Human Rights meragukan temuan tulang di tempat sampah tersebut, karena mereka meyakini semuanya sulit diidentifikasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti apa temuan versi pemerintah Meksiko?


Mereka menghilang dari kota terdekat dariIguala pada sebuah malam, 26 September 2014 setelah terjadi bentrokan antara polisi dan mahasiswa yang menyebabkan enam orang tewas.

Menurut laporan resmi, para mahasiswa itu ditahan oleh petugas kepolisian yang korup dan menyerahkan mereka kepada anggota geng obat bius lokal. Kelompok kartel obat bius itu mengira para mahasiswa itu adalah anggota geng saingan. Mereka kemudian dibunuh dan tubuhnya dibakar di tempat sampah sebelum membuang abunya ke sungai terdekat.

Mengapa keluarga tidak percaya laporan resmi?

Keluarga korban berpikir para pejabat terkait telah gagal untuk menyelidiki kemungkinan dugaan keterlibatan tentara terkait hilangnya para mahasiswa itu. Keengganan pemerintah untuk memeriksa para prajurit itu, yang berada di wilayah pada saat mahasiswa itu hilang, dipertanyakan oleh keluarga korban. Tuduhan itu ditolak oleh jaksa pemerintah. Keluarga juga merujuk pada laporan oleh Inter-American Commission of Human Rights yang mengatakan bahwa tidak ada bukti-bukti yang kuat dari lokasi yang disebut sebagai tempat pembakaran 43 mahasiswa tersebut.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads