Langkah tersebut ditempuh setelah terjadi perdebatan antara parlemen dan pemerintah menyangkut kenaikan harga minyak di negara yang kaya minyak tersebut.
Namun dekrit yang dikeluarkan Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah, untuk membubarkan parlemen, Minggu (16/10), tidak menyinggung perdebatan tersebut.
- Kuwait perkirakan defisit anggaran yang terbesar
- Salat Jumat, masjid Syiah diserang di Kuwait
- Dua 'mata-mata Iran' dihukum mati di Kuwait
"Demi pembangunan kawasan yang sulit dan kebutuhan dalam menghadapi bahaya dari tantangan keamanan, menjadi perlu untuk kembali ke rakyat," seperti tertulis dalam dekrit.
Parlemen Kuwait sudah mengajukan tiga permohonan kepada pemerintah untuk mempertanyakan kenaikan harga minyak yang ditetapkan pemerintah dan menduga telah terjadi pelanggaran administratif maupun keuangan.
Langkah 'mengejutkan'Stasiun TV pemerintah menyebutkan 'kurangnya kerja sama' dalam perdebatan antara pemerintah dan parlemen tersebut.
Dekrit pembubaran parlemen dikeluarkan setelah pemerintah menggelar rapat darurat hari Minggu dan belum ditetapkan tanggal untuk pemilihan umum.
Bagaimanapun berdasarkan konstitusi, pemilihan umum dini harus dilaksanakan dalam waktu dua bulan sejak parlemen dibubarkan.
Pembubaran parlemen dilihat sebagai langkah yang 'mengejutkan' karena parlemen Kuwait biasanya mendukung kebijakan pemerintah.
Perekonomian Kuwait -yang mengandalkan minyak sebagai sumber pendapatan utama- menghadapi masalah karena turunnya harga minyak dunia.
Awak tahun ini, Kementerian Keuangan Kuwait memperkirakan akan mencatat rekor defisit anggaran terbesar dalam tahun ini, sekitar US$38 miliar, atau naik hampir 50% dari tahun sebelumnya (nwk/nwk)











































